Setelah sekian lama mencari pekerjaan, akhirnya aku diterima kerja juga. Calon kantorku ada di Jakarta, kota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri. Ah, aku tak takut dengan stigma itu. Yang penting jalani skenario-Nya, sambil tetap berdoa dan berusaha. Hasilnya sih tawakal saja.

Tiba di stasiun Senen pagi-pagi buta membuatku harus mencari tempat buat sekedar meluruskan kaki yang pegal selama belasan jam di kereta. Ah, masih ada waktu untuk istirahat sebelum ke kos Jaka, teman kuliahku yang lebih dulu bekerja di Jakarta. Aku berjalan ke arah toilet stasiun yang berdekatan dengan mushola. Banyak orang berkerumun di sana. Antri sholat subuh, menunggu giliran mendapat kamar mandi kosong, atau sekedar duduk-duduk selonjoran di dekat pintu masuk.

“Permisi, Pak..”  kataku saat melewati seorang bapak yang duduk dekat pintu masuk toilet. Darah Jawa yang masih kental membuatku masih merasa perlu bersopan-santun.

Ruang toilet penuh dengan orang. Kebutuhan biologis di pagi hari memang membuat setiap orang membutuhkan toilet untuk menyalurkan hasratnya. Beberapa orang terlihat mengantri dengan tidak sabar, beberapa yang lain memilih berjalan mondar-mandir sembari menahan hajat. Aku, yang juga punya niat yang sama dengan mereka memilih untuk ke wastafel dulu. Sembari menunggu aku bisa mencuci muka dan menggosok gigi.

“Aduh! Mas, hati-hati dong jalannya” protesku pada laki-laki yang terhuyung menabrakku dari belakang.

“Ma-maaf, Mas.. maaf” sambil mengucek-ucek mata, muka mengantuknya berusaha memelas memohon maaf. Aku meneruskan mencuci muka tanpa perlu membahasnya lagi, sementara lelaki itu keluar toilet pria.

****

Setengah jam kemudian, aku sudah bersiap ke kosnya Jaka. Berbekal alamat dan rute serta jalur transjakarta yang harus kutempuh, aku mantap melangkahkan kaki. Kulihat angka di jam tanganku. Sepertinya aku harus mencari sarapan dulu. Di dekat stasiun pasti banyak warung untuk sarapan atau sekedar minum kopi. Aku bergegas mencari.

“Kopinya satu, Bu. Nasgitel ya..” Aku segera memesan minuman di warung pertama yang kutemui. Aroma pisang dan ubi goreng menggoda indera penciumanku. Tak lama, dua jenis gorengan itu sukses masuk di perutku. Cukup untuk mengisi perut, saatnya memulai petualangan.

“Berapa semua, Bu? Kopi, pisang goreng satu, ubinya juga satu.”

“Sepuluh ribu saja, Mas..”

Aku merogoh kantung belakang celana, tempat dompet biasa kuletakkan. Dahiku mengernyit, mataku terbuka lebih lebar. Aku terkejut bukan kepalang. Yang ada di saku celanaku ternyata bukan dompetku. Kenapa bisa dompet orang lain ada di sakuku? Otakku mencoba mengingat-ingat kejadian semalam sampai terakhir kali aku membuka dompet. Tetap saja aku tak habis pikir dengan kejadian ini. Sungguh aneh. Kuperiksa semua kantong yang ada, tiap sudut tas, dan hasilnya tetap tak kutemukan dompetku. Dimana dompetku? Aku mulai panik. Kucoba memeriksa dompet berbahan kanvas biru yang kutemukan di saku celanaku tadi, siapa tahu ada identitas pemiliknya. Alih-alih mendapatkan KTP pemilik dompet, aku hanya mendapati potongan kertas kumal. Kubuka lipatannya, dan kubaca deretan kata yang berbaris.

“Selamat datang di Jakarta”

Lututku lemas seketika.

Advertisements