Would you mind if I told you I loved you tonight..
Coz it seems when you close to me, it’s gonna be alright..

Kutulis surat ini sambil kudengarkan suara serak John West dari ponselku. Aku merindumu, Nona. Sudah lebih dari tujuh hari aku tak melihatmu secara langsung, dan pesanmu –yang selalu kutunggu– tak juga muncul di kotak pesan masuk.

Aku merindumu. Sungguh.

Tadi, aku sempat berjalan-jalan ke pusat kota. Awal bulan depan ulang tahunmu. Aku berencana membelikanmu sebuah hadiah. Bukan, bukan kalung berlian atau tas merk amat mahal itu. Mungkin hanya sebuah beruang Teddy yang nyaman kau peluk nantinya. Dibungkus dengan kain kasa berwarna ungu kesukaanmu, dengan pita besar warna merah jambu. Cukup manis kurasa. Ah, semoga kau suka.

Nona, aku juga sempat ke cafe langganan kita di ujung jalan. Sekedar menikmati suasana. Aku duduk di meja tempat kita biasa habiskan waktu di sini. Memesan dua jenis minuman, satu coklat panas untukmu dan satu kopi hitam untukku. Tahukah kamu, aku terkekeh saat mesin pemutar musik di cafe ini memutarkan lagu Me and Mrs Jones. Ini lagu kesukaan kita.

Di cafe ini juga aku melihat kekasihmu. Pria tampan yang biasanya klimis itu kini sedikit tampil lain. Ada kumis dan jambang berumur kira-kira dua hari diwajahnya. Entah kau makin suka atau malah menganggapnya dekil. Aku melihatnya sendirian, di tepi jendela. Ia tampak sibuk melihat orang yang berlalu lalang di luar, tapi lebih sering pandangannya kosong.

Aku sempat menanyakan kabarnya. Ia menjawab, ia sedang merindumu. Ah, sama juga sepertiku. Katanya, kau sibuk dengan kekasihmu yang lebih dulu memilikimu, setahun dua bulan lalu. Aku sempat tertegun menghitung jumlah bulan kebersamaan kita. Satu, dua, ah baru tiga bulan ternyata.

Melihat mata lelaki itu, rinduku kian menggebu. Dada ini terasa semakin sempit. Ada sesuatu yang memenuhi ruang di dalamnya.

Nona, kapan kau akan membalas pesanku? Berkali-kali kucoba menghubungimu, tapi tak pernah ada nada sambung di ujung sana. Tidakkah sedikit pun merinduku?

Tak terasa sudah hampir senja.  Aku ingin melanjutkan perjalanku, Nona. Aku ingin menikmati senja di taman kota, seperti ritual kita. Tapi kali ini tanpa genggaman tangan dan bau sampo bayi dari rambutmu.

Oh iya, sudahkah kuberi tahu di  mana aku bertemu kekasihmu di cafe itu? Aku bertemu dengannya di toilet. Cermin toilet, tepatnya. Tenang, tak ada yang tahu. Ini rahasia kami yang kuputuskan untuk memberitahumu –tentu seizin dia.

Nona aku merindumu. Entah berapa banyak kata rindu yang harus kutulis untukmu. Aku yakin sekali, rinduku tak kalah dengan rindu lelaki-setahun-dua-bulanmu itu.

Semoga kamu segera merinduku. Hubungi aku segera.

                                  

Advertisements