“Kapan senggang? Papa mau ngenalin kamu sama calon mamamu.”

Sebuah pesan masuk ke ponselku. Rasanya malas selalu membalas sms Papa. Dalam enam bulan ini papa sudah berganti ‘calon mama’ sebanyak tiga kali. Tak habis pikir, Papa mulai bias menyebut wanita yang dekat dengannya sebagai ‘calon istri’ atau hanya ‘kekasih’. Sejak meninggalnya mama tujuh tahun lalu, disusul aku yang memilih untuk hidup kos sejak kuliah di Jogja, membuat papa hanya ditemani sepupu dan pembantu saja di rumah Semarang. Kedua kakakku sudah lebih dulu meninggalkan kota kelahiran sejak mereka lulus kuliah.

“Akhir minggu ini, Pah. Sabtu pagi dari Jogja.”

Akhirnya kubalas juga smsnya.

Tiiitt. Ponselku berbunyi lagi.

“Oke. Kita adain makan malam di rumah. Nanti biar Simbok siap-siap.”

Semoga ini yang terakhir, Tuhan. Aku berdoa dalam hati.

***

Suasana di rumah Semarang tampak sedikit sibuk Sabtu siang ini. Belum juga sepuluh menit motorku sampai di garasi, sudah kulihat Pak Jo –tetangga yang sering diminta Papa membersihkan kebun– sedang memindahkan letak beberapa pot bunga, mengganti tanah dan membersihkan lumut di sekitarnya. Di dapur lebih tampak lagi kesibukkannya. Simbok dan Aishi –sepupuku, dengan cekatan memotong-motong buah dan sayuran. Menumis sesuatu dan menambahkan bumbu ini-itu. Bau sedap langsung menyeruak dapur.

“Hmmm…sedap, Mbok.” Aku mencium dalam-dalam udara di dapur. Simbok menoleh, lalu tergelak.

“Makanya sering pulang tho, Mas. Sini biar Simbok masakin.”

Aku hanya bisa tersenyum, lalu pandanganku beralih ke Aishi. Kusenggol pelan bahunya. “Apa kabar kamu? Ngga pernah cerita lagi nih sama Mase..”

“Hahaha..belum ada yang diceritain lagi, Mas. Lagi kosong.”

“Sama dong kita..” jawabku sambil tertawa.

***

Selepas maghrib, Papa menelponku. Katanya, ia dan si calon akan sampai di rumah sekitar jam tujuh malam. Aku dimintanya membantu menyiapkan makanan untuk santap malam nanti. Seistimewa apa sih wanita itu sampai-sampai Papa tampak begitu ingin sempurna di matanya?

Jarum jam menunjukkan pukul tujuh lebih delapan menit saat kulihat mobil Papa masuk ke halaman rumah. Kami –aku dan Aishi– beranjak keluar dari ruang tengah. Sekedar berdiri dan merapikan kemeja untuk menyambut Papa dan calon mamaku –katanya.

Papa membuka pintu depan, menggandeng wanita molek berambut pendek setelinga. Gaunnya pendek, ringan melayang. DEG! Mataku membesar beberapa inci dari biasanya, dan dadaku berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

“Beth, kenalin itu Brama anak bungsuku. Lalu itu Aishi, sepupunya.”

Tanganku ragu-ragu menyambut tangan mulusnya. Ah, tangan itu…

***

Arlitha Hotel, kamar 209.

Aku menyeka peluh di dahiku. Kuhisap rokok putih dalam-dalam seraya memperhatikan tubuh polos milik wanita di sebelahku. Kulihat arloji, ah sudah waktunya aku pulang. Besok aku harus ke Semarang untuk acara Papa. Kuambil dompet, kuselipkan beberapa uang merah di bawah lampu meja.

“Beth, tiga hari lagi kita ketemu..”

Based on Fiksimini:
@iqkoberuang : IBU TIRI – Tertegun saya melihat calon pendamping ayah. Belum 12 jam sejak saya meninggalkan lokalisasi itu.

Advertisements