image

Seorang anak lelaki kecil menggoreskan krayon biru, disusul merah lalu coklat. Di luar, anak-anak sebayanya bermain lari-larian.

Dear kalian, krayon dan kertas gambar. Lama tak menjumpai kalian bergabung di hari-hariku. Maafkan aku, sudah sangat lama tidak mengajak bermain–yang kuingat terakhir saat SMA, Ya Tuhan! Sudah lama juga tanganku tidak kotor karena warna krayon. Masa itu, sungguh menyenangkan. Di saat teman-teman sebayaku bermain sepeda, aku lebih memilih menggambar anjing astronot dan bermain bersamanya. Saat mereka beramai-ramai mengejar layang-layang putus, aku lebih memilih menciptakan Negeri Serangga di kertas gambarku dan terbang bersama Ksatria Kepik. Kasihan? Tidak juga. Aku masih bermain dengan teman-temanku sesekali. Menangkap ikan kecil di selokan, atau sekedar bermain kasti dan petak umpet. Tapi jujur, aku lebih menyukai menghabiskan waktu soreku bersama kalian. Bahkan, saat belajar pun aku masih sempat menemui kalian. Yah, sekedar menuangkan imajinasiku tentang Pegasus. Sssttttt, jangan bilang Bapak ya. Beliau bisa marah kalau tahu aku mencuri waktu belajar untuk menggambar. Janji?

Krayon dan kertas gambar yang kurindukan, sekali lagi aku minta maaf karena sekarang tak punya banyak waktu bermain dengan kalian. Salahku. Alih-alih mulai beranjak remaja dan mendapatkan petualangan seru ketimbang imajinasi Drumband Semut Dari Istana Tanah, aku mulai menghabiskan waktu bersama teman-teman ABGku. Bermain game dingdong, naik motor keliling ringroad, atau sekedar nongkrong di mal. Jujur kuakui, aku sejenak mengabaikan kalian.

Wahai kalian cinta pertamaku, terimakasih telah menjadi teman kecilku yang setia (bahkan sampai saat ini). Menjadi teman yang tak pernah meninggalkan meskipun aku sempat berpaling. Menjadi rekan yang paling tahu seperti apa wujud Alibaba di kepalaku. Menjadi warna yang tak sekedar tertuang di dalam kertas, tapi juga dalam petualangan masa kecil.

Dear kalian, akhir-akhir ini aku mulai menyempatkan bermain lagi bersama kalian. Bukan, bukan hanya rasa bersalah dan rindu yang membuncah; tapi juga karena aku rindu dunia imajinasi yang tertuang dalam gambar. Dunia yang hanya kita –aku, krayon dan kertas gambar– yang tahu.

Salam gores,
MUMU

Advertisements