Tuhan akan mengabulkan semua doamu. Itu yang sering kita dengar. Benarkah?

Di satu pagi, saat orang-orang terlelap di balik selimut hangatnya, saat ayam jago bahkan belum berniat berkokok; aku terjaga. Terhuyung pelan membuka blackberry yang berkedip –tampak menyolok di kamar yang gelap. Ternyata puluhan notifikasi menunggu dibaca. Setengah sadar, kucoba mengingat apa yang kulewatkan. Ah! Hari sudah bergeser ternyata. Usia bertambah setiap detik, dan aku baru sadar telah digenapi tepat tengah malam tadi.

Bahagia? Pasti. Tapi ada perasaan lain yang mendominasi. Berusaha menetralkan, kuambil air wudhu. Mengucap syukur dan berbincang dengan-Nya adalah pilihan pertama.

Ada doa pendek yang kusertakan dalam rangkaian doa-tak-tahu-diri-ku.

“Tuhan, kalau Engkau baik, aku ingin dia ada di sini menemaniku. Hari ini saja”

Aku tahu semesta mengamini. Tuhan tahu aku bersungguh-sungguh. Lalu, apakah doaku hari ini terkabul? Tidak. Jadi, apakah

Tuhan tidak baik padaku? Tidak juga. Tuhan adalah sutradara yang hebat. Doaku, adalah keinginanku. Tuhan tahu dia yang kuminta untuk menemaniku hari ini sedang ada tanggungjawab yang lebih besar di sana. Ada yang lebih membutuhkannya lebih dari yang sekedar menginginkannya. Tuhan tahu aku tahu itu.

Tersenyum, kututup dini hari ini dengan doa pendek lainnya.

“Terimakasih Tuhan, untuk memberiku dia, guru dari segala yang kubutuhkan”

Advertisements