Gadis itu masih kecil, usianya kira-kira baru tujuh tahun. Rambutnya ikal panjang kecoklatan yang diikat seadanya. Sudah beberapa kali dalam seminggu ini aku sering melihatnya di sekitar kompleks tempatku tinggal. Lebih tepatnya lagi, aku sering melihatnya tak jauh dari tempat penampungan sampah kompleks kami. Awalnya, kukira ia adalah anak pencari botol-botol plastik untuk dikumpulkan lalu dijual di pasar. Tapi aku ragu, ia tak pernah membawa karung seperti halnya pemulung lainnya. Tangan kanannya malah menggenggam boneka kelinci yang entah berwarna apa sebelumnya.

Alih-alih membuang sampah, kudekati gadis itu. Ia tampak sedikit ketakutan. Kakinya mundur dua langkah. Boneka kelinci digenggamnya lebih erat. Aku menatapnya, mencoba memberikan wajah ramah agar ia merasa nyaman. Tas kresek hitam berisi sampah kuletakkan di mulut bak penampungan sampah. Lalu, aku berjalan ke arahnya.

“Namamu  siapa, Nduk?” tanyaku pelan.

Gadis itu menunduk. Matanya lebih memilih menatap jari-jari kakinya yang terbungkus sandal jepit berukuran dua kali lebih besar dari kakinya. “Gendis..” jawabnya lirih, nyaris tak terdengar.

“Gendis? Nama yang bagus. Manis seperti artinya, gula.”

Gadis itu masih tertunduk. Tangannya sibuk meremas-remas perut boneka kelincinya, sementara kaki kecilnya bergerak naik-turun. Entah apa artinya.

“Kamu mencari siapa?” Aku kembali bertanya. Mencoba membuat suasana cair, kurogoh saku celanaku. Aku ingat masih menyimpan satu permen coklat di sana. Kusodorkan ke arah Gendis. Awalnya ia terlihat ragu-ragu menerima. Sesaat mata kecilnya melirik ke arahku. Anggukanku meyakinkannya bahwa permen itu memang untuk dia. Gendis mengusap-usap telapak tangannya ke baju kumal yang dipakainya sebelum mengambil permen coklat dari tanganku.

“Jadi, kamu di sini mencari siapa?” Kuulangi lagi pertanyaanku.

“Aku mau ketemu ibu..” jawabnya polos. Mulutnya masih penuh permen coklat.

“Ibumu tinggal di sini?”

Gendis menggeleng. “Aku ndak tahu, Mas. Aku Cuma disuruh ke sini kalau mau ketemu ibu.”

Dahiku berkerut. Bingung.

“Lalu, siapa yang menyuruhmu ke sini?”

“Kata orang-orang, aku bukan anaknya Mbok Darmi. Dia cuma merawat aja.” Tangan mungil itu mengusap mulut dengan punggung tangannya sebelum melanjutkan cerita. “Mbok Darmi mimpi dapat ular. Paginya dia nemu aku di situ.”

“Di situ? Di mana maksudnya?” Aku semakin penasaran dengan penjelasan Gendis. Selama tiga tahun tinggal di kompleks ini, belum pernah sekalipun aku mendengar berita aneh tentang daerahku.

“Di situ. Di dekat bak yang besar itu.” Telunjuk kanan Gendis mengarah ke bak penampungan sampah berukuran satu kali dua meter  di belakangku. “Kata orang-orang itu, ibuku orang sibuk. Dia ninggalin aku di situ karena banyak kerjaan. Untung ada Mbok Darmi.”

Aku menatap Gendis lekat. Wajah polos itu mungkin belum sepenuhnya mengerti apa yang diucapkannya. Sementara aku yang mendengarnya, hanya bisa diam. Terenyuh.

“Kata orang-orang, kalau aku pengen ketemu ibu, aku harus rajin ke sini. Siapa tahu ibu sudah ndak sibuk trus balik ke sini lagi,”

Hening.

Siang ini waktu terasa berjalan lambat. Selambat air yang perlahan mengalir dari ujung mataku.

Advertisements