Malam baru saja melaksanakan tugasnya saat aku melewati empat orang ibu muda duduk di beranda rumah nomer 4. Mereka terlihat asyik berbisik–kadang tergelak sambil menatap ke satu titik.

Sebenarnya, aku tak tahu apa yang ada di benak orang-orang di luar sana, yang gemar sekali menghakimi orang lain. Ini salah lah, itu keliru lah. Seolah-olah, mereka adalah Sang Maha Tahu. Manusia paling benar. Padahal, jika mungkin ditimbang amal kebaikan antara mereka, belum tentu si hakim dadakan itu menang.

Dinda, tetangga sebelahku–yang sedang diperhatikan mereka, sejak pindah ke kompleks ini sudah jadi bahan gunjingan siang-malam. Lagi-lagi aku tak mengerti mengapa ibu-ibu itu kerap kali menyimpulkan sesuatu dari sekedar kasak-kusuk yang mereka terima.

“Dia pasti bukan wanita baik-baik. Perhatikan saja, pulangnya selalu larut malam.” kata ibu berbaju biru sambil memilin acak rambutnya.

“Pasti dia simpanan bos-bos.” Seorang ibu berwajah bulat menimpali. Matanya jelalatan layaknya bola bekel melihat Dinda sedang entah apa di beranda.

Sebenarnya bukan hanya Dinda yang jadi korban gunjingan mereka. Salah seorang anak Pak Dasim, Dargo, tak luput dari mulut pedas mereka. Gara-garanya sepele, karena Dargo lebih sering mengajak teman prianya ke rumah ketimbang teman lawan jenisnya.

“Dia pasti homo. Lha itu, temennya cowok semua. Ndak pernah kelihatan temen ceweknya.”

Dan korban lain lagi..

“Sudah tahu kabar Rina, janda ujung jalan? Kabarnya dia hamil!”

“Dasar wanita murahan. Sudah ndak jelas kerjanya, eh ndak jelas juga bapak jabang bayinya..”

Korban selanjutnya..

“Pak Deny itu ternyata bapak kandungnya Sita, tukang cuci di rumahnya. Ckckck, dunia apa ini!”

Dan kabar-kabar antah-berantah lainnya. Aku tak pernah ambil pusing dengan semua ini sebenarnya. Hanya tak habis pikir dengan mereka. Apakah mereka mendapatkan gaji dari hasil menggunjing dan menghakimi sehingga mereka rajin melakukannya? Entahlah. Mungkin iya.

“Malam, ibu-ibu…” Basa-basi. Aku sebenarnya tak suka, tapi memang harus aku lakukan di lingkungan ini. Sekedar bersosialisasi kata, gumamku.

“Eh, Nak Erry. Baru pulang jam segini?” Ibu berdaster batik yang kukenali bernama Bu Helen itu menyambut sapaanku. Aku hanya tersenyum. Sekedar formalitas.

“Lembur terus pasti capek ya. Makanya, Nak, cepat cari istri. Biar ada yang ngurus” Ibu berbaju biru menimpali.

Cih! Tahu apa dia tentang hidupku?

Kupercepat langkah. Risih rasanya melihat tingkah mereka. Pintu depan kubuka dengan segera, lalu bergegas menguncinya dari dalam.

“Aku pulang..” kataku setengah berteriak.

Tak ada jawaban.

Kakiku mengarah ke ruang tengah. Ah, ia di sana ternyata. Aku tersenyum. Ia masih setia menungguku selarut ini. Sungguh setia.        Senyumku kembali tersungging. Sambil membelai pipinya, aku membayangkan apa yang ibu-ibu itu katakan kalau tahu aku serumah dengan Sita. Mungkin mereka akan menyemburkan kata-kata serapah. Atau, mengabsen dosa apa saja yang ada. Entahlah. Yang penting aku bahagia dan tidak merugikan orang lain. Aku tidak selingkuh, aku juga bukan pria seperti pria-pria yang sering mereka gunjingkan.

Ya, aku bahagia. Kebahagiaan yang selalu datang sesaat setelah tatapan kami melebur. Tatapan teduhnya mampu menghilangkan penat. Kuhela nafas panjang. Lalu, perlahan kudekatkan bibirku ke arah bibirnya. Kukulum pelan. Sita mengikuti ritmeku di dalam dunia yang mereka sebut cermin.

Advertisements