Kita punya banyak cara untuk bercakap.


Aku ingat saat bertemu pertama kali denganmu. Di sudut jalan, di bagian Selatan. Bahkan sebelum bibirmu menyuarakan sapaan, senyummu lebih dulu mencumbui hatiku. Garis yang ditarik membentuk sudut sempurna diantara pipimu seolah-olah menjelaskan kepribadianmu. Dan aku tak salah.


Restoran Jepang, awal kencan.

Aku sibuk bercerita tentang hobiku. Sambil mengunyah tempura dalam onogiri, kuceritakan ini-itu. Bermenit-menit tak kusadari kau tak hanya mendengarkan, tapi melampaui batas-batas yang mampu telinga lakukan. Sepasang mata teduhmu juga sibuk menyelami ceritaku. Bukan sekedar menyelam menurutku; tapi juga menari dan bermain-main di dalam cerita yang kututurkan. Tersadar, kuhentikan sejenak ceritaku. Tak mau hanya aku yang tertangkap malu, kubidikkan kamera ponselku ke arahmu. Kau merajuk, dan aku pun berhasil mengabadikan rona merah jambu di pipimu.


Kutuliskan berbaris-baris pesan di blackberry messenger, berharap kau –setidaknya– mengerti posisiku saat itu. Sedikit kesalahpahaman membuatmu tak mau mengangkat telepon dariku. Beberapa menit kutunggu, akhirnya pesan itu berubah menjadi huruf R, menandakan telah kau baca. Aku tahu, pesanku tak hanya kau baca, tapi juga kau pahami. Kadangkala emosi membuat selaput tipis antara pengertian dan tak peduli. Dan; tigapuluh menit setelah itu, kudapati pesan singkatmu. Benar-benar singkat. “Hai…”


Mungkin kau telah mengenakan baju tidur ternyamanmu di sana. Sambil memeluk guling atau boneka kodok. Aku, dengan kaos dan celana pendek terlentang. Kita berbincang tentang apapun sebelum terbuai dalam ruang-ruang mimpi yang absurd.

“Aku ngantuk. Maukah kau tetap terjaga di sana menjagaku selagi terlelap?”

Aku mengangguk. “Tentu,” jawabku.

“Tapi jangan dimatiin telponnya. Tetaplah menceritakan apapun untukku. Aku masih mendengarkan meskipun lelap menyergap”

Lalu aku bercerita. Tentang kebahagiaanku bersamamu –anak-anak kita kelak, rumah mungil pinggir telaga, dan rak buku raksasa. Aku tahu kau mendengar di sana, meskipun hanya suara nafasmu yang terdengar. Kubayangkan kau masuk dalam mimpi besarmu seraya kuusap keningmu. Bibirmu tersenyum kecil dan di situ bisa kubaca perasaanmu, bahwa kau bahagia denganku.

Advertisements