Pinokio
: Pramoe Aga

Di suatu pagi nan cerah,
Pak Cherry, seorang tukang kayu
menemukan sepotong kayu ajaib.
Kok ajaib?
Sebab, ia bisa tertawa, menangis, bahkan menari
seperti laiknya manusia.

Pak Cherry pun memberikan kayu tersebut
pada karibnya, Gepetto, dan kebetulan,
kakek Gepetto sedang mencari
kayu terbaik tuk diukirnya menjadi boneka manusia
: putra impiannya.

Setelah tiba di rumah, Gepetto pun dengan tekun
memahat kayu pemberian sahabatnya, lalu
setelah dibegini dan dibegitukan, akhirnya jadi juga
boneka laki-laki tampan dengan hidung mancung
bernama Pramoe Aga, maaf, Pinokio
—mungkin karena tubuhnya dibuat dengan kayu pine.

Ketika bintang, jatuh di langit utara
Gepetto pun berdoa
dapatkah damba menjadi nyata?
Tentu! Mudah bagi peri biru
menghidupkan boneka kayu, namun bila ingin
menjadi manusia, kebaikan dan kebijaksanaan
harus dicarinya sendiri.

Sampai akhirnya
pengalaman demi pengalaman
membentuk jiwa Pinokio.
Kebebasan, pengabdian, petualangan, cinta
pertemuannya dengan sahabat hati
: jangkrik paling filosofis di seluruh bumi
membuatnya memahami, bagaimana caranya
hidup, dalam wujud
menusia sejati.

Selamat ulang tahun, Pramoe Aga!
Untukmu aku tuliskan lagi dongeng masa kecil penuh kenangan, sebab kata Papi, dongeng bisa bikin kita awet muda 🙂

Ps : sebuah kado puisi dari Rafael Yanuar ( @opiloph ) yang seharusnya sudah sejak April ada di sini. Maaf (sangat) terlambat.

Advertisements