Kali ini dia benar-benar menepati janjinya untuk berkunjung ke rumahku. Biasanya, dengan rayuan apapun ia tetap bergeming. Aneh, memang. Aku sudah berusaha bercerita tentang risoles buatan Mama yang lezat atau burung beo peliharaan Papa yang sudah menambah kata ‘terimakasih’ dalam kosakatanya, namun tak juga membuat Nambo –teman kecilku sekaligus tetangga lama di kompleks– menganggukkan kepala tanda ia menyetujui ajakanku.

“Kau tak rindu dengan lingkungan kompleks kita dulu? Sejak kau pindah lima tahun lalu bukannya belum pernah ke sana lagi?”

Aku menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan. Nambo masih terdiam.

“Kau tak mau ketemu Mamaku? Bukannya dulu kau suka sama masakannya?”

“Nanti pasti aku main ke rumahmu. Nanti. Aku harus pulang sekarang.” Ia bergegas menggendong tasnya lalu menghilang di kerumunan orang yang berdesakan di mal.

***

“Nambo!” Aku setengah berteriak mendapatinya ada di depan pagar rumahku. “Sini, sini, masuk.” Bergegas kubuka gerbang pagar dan menarik tangannya supaya masuk.

“Ada angin apa kau kemari?” Aku tersenyum setelah kami duduk selonjoran di teras depan.

“Aku menepati janjiku,” ia tersenyum, lalu melanjutkan. “Kejutan. Aku ingin buat kejutan buatmu. Tapi yah, cuma aku. Tanpa bawa apa-apa.”

Aku tergelak. “Ada-ada saja kau. Sejak kapan aku meminta oleh-oleh darimu?”

Nambo tertawa. Pipinya yang gembil bergoyang tak beraturan membuat wajah bulatnya semakin terlihat lucu. Wajah itu tak pernah berubah sejak aku mengenalnya sebagai anak usia tujuh tahun yang rumahnya hanya berjarak dua nomer dari rumahku. Dulu kami sering bermain bersama. Meskipun aku perempuan, tapi ia tak segan mengajakku berburu kecebong atau berpura-pura jadi tarzan. Sekarang, kami sudah beranjak remaja. Dan meskipun kami sudah tak bertetangga, aku dan Nambo tetap berkomunikasi. Ia masih sering menemuiku sepulang sekolah untuk sekedar menemani jajan es doger atau siomay. Nambo yang sekarang duduk di depanku ini masih persis seperti teman kecilku dulu. Kecuali, postur tubuhnya yang makin bongsor dan kulitnya yang terlihat lebih pucat.

“Bo, sudah waktunya makan siang. Kau makan sini, kan?”

Nambo tersenyum. Kuartikan sebagai iya.

***

Nambo duduk di seberang kursiku. Melihatnya diam sementara aku sudah menyiapkan menu makan siang kami, aku gemas. Kuambil piring dan kusendokkan nasi dan lauknya. Tak lupa sayur brokoli. Kusodorkan pada Nambo, ia tersenyum. “Kayak bos” celetuknya.

Kami melewati suapan makanan lebih banyak dalam diam. Aku sangat menikmati bersamanya. Gaya makannya yang lahap tapi santai ini benar-benar tak berubah. Mulutnya seperti gerakan orang berbicara tanpa suara, sementara tangan kanannya tegas mengenggam sendok yang siaga. Aku mengunyah sambil sesekali memberinya kode untuk menambah sesuatu di depannya. Entah ayam goreng atau sayur brokoli. Atau bisa juga krupuk udang atau perkedel jagung. Ia hanya mengangguk dengan mulut penuh.

***

Suara langkah kaki terdengar mendekati meja makan di ruang tengah, tempat kami makan siang dengan lahap. Aku menoleh ke arah suara yang sangat kukenal dan tersenyum. Niatku, akan kukagetkan Mama dengan memberitahunya tentang Nambo. Tapi belum juga mulutku bersuara, Mama lebih dulu menegurku.

“Aduh Oyi, kalau makan jangan banyak sisa dong. Mubazir jadinya!” Seru Mama sambil berdecak melihat piring yang dibawa Nambo. Isinya masih setengah habis, tapi Mama melihatnya seperti makan yang tak selesai.

Aku melirik ke arah Nambo, memberinya kode agar bilang kalau makannya belum selesai, bukan tidak dihabiskan. Ia menggeleng enggan, pasrah. Sementara aku melotot ke arahnya, gemas. Tuh kan, apa kubilang. Harusnya kamu menampakkan diri, biar Mama tahu kalau aku lagi sama kamu!

Advertisements