Senja mulai berganti malam. Rona keemasan di langit tergusur oleh tirai hitam bertabur bintang. Aku melangkahkan kaki dengan lunglai. Rasanya berat sekali beranjak dari ranjang ini. Segala penat dan capek masih terasa di badan. Ditambah masalah dengan Riska yang berujung perceraian kami, rasanya seperti ada gunung yang membebani badanku. Berat.

Tiga tahun berusaha menjadi suami yang baik akhirnya kandas oleh masalah prinsip. Dua bulan sebelum keputusan sidang, rumah tangga kami lebih sering ribut ketimbang memperbaiki komunikasi. Segala hal kecil bisa berubah menjadi sesuatu hal besar yang berujung pertengkaran. Pulang ke rumah tak pernah lagi kudapati wajah istriku menyambut dengan manis. Dia lebih sering mengurung sendiri di kamar dan tak mengizinkanku untuk menemani tidur.

Sekarang sudah genap satu setengah bulan setelah hakim mengetok palu perceraian. Hari-hariku kembali seperti bujangan. Rumah tak pernah rapi, makan seadanya, tidur sendiri. Sepi? Jelas. Keadaannya tak banyak berubah sejak kami saling dingin sebenarnya, tapi sekarang lebih menyedihkan tanpa Riska. Sampai saat ini, aku masih sering merindukannya. Sangat. Rindu yang teramat besar kadang membuat akal sehat mati. Terbunuh oleh perasaan.

Langkahku terhenti di depan wastafel di dalam kamar mandi. Setelah berkali-kali mengusap wajahku dengan air, kulihat bayangan sendiri di cermin. Lama kutatap, tapi tetap wajah Riska yang kulihat di sana. Aku berusaha mengingat rangkaian peristiwa sebelum bangun tidur. Semenit, dua menit, belum juga aku tahu kenapa wajah mantan istriku masih menghantui. Come on, Rio. Move on! Kepalaku terasa pening saat kupaksakan mendapatkan jawaban. Beberapa detik kemudian senyumku mengembang. Kuraba dada dan beberapa bagian tubuhku yang masih nyeri karena bedah pisau jahit. Tak apalah sedikit sakit karena operasi, asal aku tak akan pernah sesakit ini memendam rindu.

Aku menghela nafas.

“Sedikit polesan pada alis mata, semuanya akan tampak sempurna sepertimu, Sayang!” Aku tersenyum puas.

Advertisements