Hai kau lelaki di dalam cermin,

Pertama aku harus berterimakasih padamu. Kau telah berusaha setia menemaniku, menjadi telinga untuk cerita-ceritaku. Tentang hal-hal konyol dan kacau. Kau satu-satunya yang tetap berdiri tegak, meski aku bercerita dengan sedikit membentak. Mungkin juga melotot atau kadang tertawa sebelum cerita lucu habis kusampaikan.

Hai kau lelaki di dalam cermin,

Kenapa kau mau menemaniku? Mendengarkan keluh-kesah yang acapkali terdengar seperti gumpalan sampah yang dilempar ke sembarang arah? Kau ingin membuktikan bahwa masih ada lelaki setia di dunia ini, begitu? Hemm, bisa jadi aku memang akan memilihmu jika memang ada lomba semacam itu. Bukan, bukan karena aku menyukaimu. Ini lebih karena kau sahabatku. Kau tahu itu, bukan?

Hai kau lelaki di dalam cermin,

Tetaplah berdiri di situ, di tempatmu biasa kutemui. Kumohon jangan pernah letih untukku. Tak apa sesekali kau pergi, atau menghambur dalam duniamu sendiri. Tapi tolong, tolong segera bersiap jika aku membutuhkanmu.

Egois? Ah, dengan siapa lagi aku bisa seegois ini.

Hai kau lelaki di dalam cermin,

Sekali lagi terimakasih. Maaf jika akhir-akhir ini aku jarang bercerita. Tentu aku punya banyak keluh-kesah setiap hari, tapi kali ini aku lebih memilih bercerita padanya. Pada dia yang nyata. Dia yang bisa meredakan kacauku dengan peluk, juga ciumnya jika aku sedang beruntung —bukan hanya dari tatapan dan telinga yang mendengar.

Hai kau lelaki dalam cermin, aku yakin kau tak keberatan.

Advertisements