Ini surat entah ke berapa yang kukirimkan padamu, tapi sungguh aku harus jujur bahwa aku tak pernah bosan mengirimkan padamu. Wanita yang pernah, masih dan selalu kupuja. Sejak mengenalmu, aku bisa menafsirkan arti kata bidadari. Sungguh hanya dengan melihatmu, aku langsung mengakui Dia adalah pencipta yang ulung.

Hari ini kukirimkan lagi surat untukmu. Kali ini kupilih amplop berwarna gading dengan gambar sepasang merpati yang saling menempelkan kepalanya. Berbeda dengan kemarin yang kupilihkan amplop bernuansa bunga tropis.

Kugoreskan pena, kulantunkan rangkaian aksara penuh rindu. Kamu selalu suka puisi-puisi pendekku yang selalu kuselipkan setelah beberapa kalimat pembuka. Pernah suatu waktu, saat kita belum berjarak seperti sekarang; aku mengirimimu puisi pendek pertamaku. Kubacakan di depan rumahmu, tepat saat purnama sempurna di lembaran hitam angkasa. Mukaku merah mehanan malu, dan pipimu merona tak kalah merah.

***

Dua lembar kertas telah penuh dengan tulisanku. Aroma pewangi kertas surat bercampur rindu kental perlahan redup saat lembar-lembar kertas itu kulipat rapi dan kumasukkan ke dalam amplop pasangannya. Saatnya bergegas. Kurapihkan kemeja kotak-kotak lengan panjangku. Songkok yang menghias kepala kupastikan tegak lurus menantang matahari. Wangi hutan pinus dari minyak wangi murahan sudah memeluk erat tubuhku. Kurang apa lagi? Bunga mawar di tangan kiri dan doa-doa terbaik tak lupa kusiapkan. Aku siap, Dinda!

***

Langkahku tegap memasuki sebuah gerbang yang telah kuakrabi dua bulan terakhir ini. Di sinilah aku biasa menyampaikan –tepatnya membacakan– surat untuk adindaku. Di depan pusara bertuliskan Maryam Maemunah –namamu, doaku mengalir deras.

Advertisements