Pertanyaan ini sepertinya perlu kerap ditanyakan. Bukan karena saya, –atau orang yang bertanya– meragukan perasaan bahagia kalian, tapi karena kadang kita lupa untuk bahagia.

Ya. Kita kadang membiarkan diri kita larut, tenggelam dan terperangkap dalam kesedihan. Saya ambil contoh. Dalam sehari, berapa banyak kalian mendengarkan kalimat “Bete nih, gue dibohongin!” atau “Abis putus nih. Apa gue masih bisa bahagia kalo ngga sama dia?” atau kalimat-kalimat semacam itu. Bukan berarti saya melarang untuk bersedih, sama sekali bukan. Tapi masuk ke dalam kesedihan yang berlarut hingga mengabaikan titik kebahagiaan yang bisa dicapai, itu tentunya pilihan.

Seorang profesor bernama Daniel Gilbert dalam ‘Teori Kebahagiaan’ menyebutkan; bahwa ada 2 bentuk kebahagiaan, yaitu Kebahagiaan Alami dan Kebahagiaan Sintesis. Apakah itu? Kebahagiaan Alami adalah kebahagiaan yang kita rasakan saat mendapatkan apa yang kita inginkan (mendapatkan bonus, hadiah, pujian), sedangkan Kebahagiaan Sintesis adalah kebahagiaan yang sengaja kita buat.

Kalau ditanya mana yang lebih penting, adakah yang bisa jawab? Ternyata Kebahagiaan Sintesis lebih penting. Mengapa? Sebab semakin kita menggantungkan pada kebahagiaan alami, kita akan semakin rentan terseret-seret antara bahagia & derita. Itu karena kita menggantungkan kebahagiaan dari tangan orang lain.

Sebagai manusia yang dibekali akal, tentu kita bisa menciptakan kebahagiaan kita sendiri. Saat sedih datang, nikmatilah. Tapi jangan terlalu lama karena kita perlu bahagia.

Ya, karena tiap kita berhak untuk bahagia.

Advertisements