Aku senang kamu pulang ke Indonesia –seperti janjimu– bulan ini. Aku tak sabar ingin mendengar cerita-ceritamu langsung, bukan melalui pesan yang biasa kaukirim. Oh, aku juga punya cerita untukmu. Cerita yang mungkin akan mengubah sikapmu padaku. Atau sebaliknya.

Kita telah lama berteman, bukan? Sebelas tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengetahui sifat satu sama lain dan menjadikan tali pertemanan bersimpul menjadi persahabatan. Aku masih ingat saat pertama mengenalmu, kuanggap kau hanya seorang anak orang kaya yang manja dan serba teratur. Beda denganku yang hanya dari keluarga PNS dan sering bersikap serampangan. Ternyata dugaanku salah. Kalau dalam sebelas tahun itu aku belum meminta maaf untuk itu, maka maafkan aku telah lupa meminta maaf padamu.

Dulu, aku sering main ke rumahmu. Sering juga menginap di sana. Kamarmu sungguh nyaman. Ada televisi lengkap dengan nintendo. Kita betah berlama-lama di sana, beradu game dan bercerita panjang lebar setelah lelah. Kau sering menceritakan rahasiamu, aku pun juga. Dan kita saling percaya, bahwa rahasia kita akan aman. Kita saling mengaitkan kelingking saat mengucap janji itu.

Berbicara soal rahasia, –seperti kataku di awal tadi– ada yang belum sempat aku ceritakan padamu setelah kita usai melewati masa remaja. Saat kau memilih kuliah di Manchester dan aku diterima di UI. Dua tahun lebih beberapa bulan tak bertemu, pasti banyak cerita yang terlewat. Kau tahu kan, kadang menceritakan langsung berbeda dengan saat kita ngobrol lewat skype, atau whatsapp. Karena hal pertama tadi, aku memilih menunggumu pulang liburan ke Indonesia untuk bercerita. Dan itu hari ini.

Sebaiknya kumulai dari mana cerita ini?

Baiklah. Akan kumulai dari Janna. Kau tahu kan, wanita yang beberapa kali kuceritakan padamu? Seorang gadis jelita yang kutemui di sebuah festival musik. Ternyata dia teman dekat sepupuku. Dua bulan setelah perkenalan itu, ia resmi jadi pacarku. Aku menyukainya karena ia punya sense of art tinggi. Entah mengapa aku selalu menyukai wanita yang bisa diajak berlama-lama keliling museum atau sekadar nonton pertunjukan sendratari. Menurutku, wanita seperti itu unik, seksi dan mahal. Dua hari setelah kami jadian, aku baru berani berkunjung ke rumahnya. Di sana, aku dikenalkan pada papa-mamanya (Om Rendy dan Tante Din), juga adik cowoknya, Khalil. Keadaan menjadi rumit beberapa bulan kemudian. Sebentar, aku perlu mengatur nafas sebelum kulanjutkan cerita.

Oke, kita bisa lanjut sekarang. Sebagai pacar yang baik, apalagi sudah sebulan, aku tentu sering ke rumahnya. Pun, saat kelurganya mengadakan acara, aku diminta hadir. Kadang saat menunggu Janna merapikan diri, aku ditemani Khalil di beranda depan. Kami ngobrol apa saja. Tentang kemungkinan Man of Steel lebih bagus dibandingkan dengan Return of Superman, tentang lagu Somebody I Used To Know yang sangat ‘ganggu’ di telinga. Apa saja. Atau saat Khalil tak ada, Om Rendy –papanya– yang akan menemaniku menunggu. Obrolan kami tentu berbeda. Dengan Om Rendy, kami bicara soal konflik Gaza, kadang soal rencana kenaikan tarif dasar listrik. Atau kelakuan si menteri anu yang keterlaluan. Tapi tak jarang, saat sedang tak ingin terlibat obrolan serius, aku cukup meminta beliau bercerita tentang masa mudanya.

“Ayolah Om, pasti seru zaman Om muda.” rajukku.

Om Rendy terkekeh. Di usia belum mencapai 46 tahun, beliau masih terlihat segar. Katanya, berkat olahraga tenis dan mengurangi komsumsi karbohidrat.

Ceritaku belum pada intinya, kau masih sabar, kan?

Perubahan sikapku pada Om Rendy terjadi saat kami tak sengaja bertemu di sebuah hotel, saat aku diajak salah satu teman nge-gym-ku menghadiri sebuah private party. Diantara remang-remang lampu yang berpendar, kulihat sosok yang kukenal. Ya, itu Om Rendy. Tak kulihat Tante Din di sebelahnya, atau di sekitarnya. Yang terlihat di depanku malah tangan kanan Om Rendy yang melingkar di pinggang wanita muda berbaju mini, sedangkan tangan kirinya menggandeng pria muda –usianya bahkan lebih muda dariku. Merasa kikuk dengan pandangan ini, segera kubalikkan badanku dan mencari meja tempat minuman ringan berjajar. Belum juga sempat kuraih gelas berisi soda dingin, tangan seseorang menyodorkan minuman kepadaku.

“Kamu terlihat panik. Ada apa?” Suara itu menanyakan keadaanku. Kuraih gelas yang ditawarkannya, lalu kuminum setengah isinya. Belum sempat berterimakasih, aku malah hampir tersedak melihat siapa yang menyodorkanku gelas tadi. Om Rendy! Ya. Ternyata ia sempat melihat kegugupanku saat mengetahui keberadaannya tadi.

“Eh..emm..Om,..” Kata-kata yang meluncur dari mulutku tak utuh. Sebagian tertinggal di tenggorokan. Aku tak tahu harus bersikap seperti apa. Kebalikannya, Om Rendi tampak sangat biasa. Sepertinya ia pandai bersikap tenang.

“Ayo kuantar kamu pulang. Aku juga harus pergi. Sudah terlalu pagi.” Om Rendy menawarkan bantuannya.

Kulirik arlojiku, sudah pukul setengah tiga pagi. “Saya ke sini bareng teman, Om. Saya tunggu dia aja.”

“Tak perlu. Temanmu yang berbaju marun itu, bukan? Ia masih mabuk dan sepertinya masih lama di sini.” Om Rendy tersenyum, “Kamu duluan aja bareng aku, nanti temanmu biar diantar taksi. Yok.” Kembali Om Rendy mengajakku. Aneh. Harusnya Om Rendy yang gugup kepergok aku, tapi situasi ini malah berbalik. Ia tetap tenang dan aku kelimpungan.

Satu jam kemudian, kami sampai di rumah kontrakanku. Selama perjalanan tadi aku tertidur. Kepalaku sungguh berat. Padahal aku hanya minum soda dan segelas cocktail. Om Rendy membantuku membuka kunci, lalu mengantarkanku menuju sofa. “Tak perlu sampai kamar, Om. Di sini aja.” Aku langsung merebahkan tubuhku. Tidur sejam di perjalanan tak membuatku tubuhku segar.

“Nang..” Om Rendy memanggilku seraya mendudukkan tubuhnya di sampingku. “Aku harap apa yang kau lihat semalam tak perlu kau ceritakan pada siapa pun. Aku tahu kau pria dewasa, bukan seseorang yang akan mengumbarnya.” lanjutnya lagi. Sejujurnya aku tak begitu tahu apa yang dikatakannya. Suaranya berdengung-dengung, begitu juga wajah Om Rendy yang tampak seperti kabut. Samar, sesekali tampak jelas. Yang kurasakan hanya kepalaku yang berat dan pusing sekali. Aku sebenarnya merasakan bahwa di sini, di atas sofa ini, tubuhku tiba-tiba sudah tak berpakaian. Kurasakan semilir udara malam memeluk kulitku, tapi aku seperti tak punya kuasa atas tubuh ini. Dingin udara yang kurasakan hanya sementara sebelum tubuh tegap Om Rendy menindihku. Bulu-bulu halus di janggutnya kurasakan liar menjelajahi tiap inci tubuhku. Aku meronta, mencoba berteriak. Tapi yang terdengar baginya mungkin aku seperti mendesah. Itulah sebabnya semakin aku meronta, semakin kasar ia mencumbuku, mencengkeram erat lenganku. Hingga perih kurasakan di bagian bawah tubuhku, aku tak ingat apapun lagi.

Aku baru terbangun pukul 10 pagi. Gelagapan mendapati tubuhku telanjang dan sofa yang carut-marut. Kucoba mengingat sisa kejadian semalam dan aku semakin terpuruk saat kudapati segepok uang sepuluh juta terbaring di meja sebelah sofa. Kubenamkan wajahku di sela kedua lututku. Untuk pertama kalinya, aku merasa hina.

***

Ceritaku belum selesai sampai di situ. Oh, terimakasih untuk masih mau mendengarkanku. Tolong jangan hakimi aku dulu. Biar kuselesaikan ceritaku yang tinggal sedikit ini, nanti kuberi kamu waktu untuk memberi tanggapan.

Setelah kejadian dini hari itu, aku jadi jarang ke rumah Janna. Berbagai alasan kupakai asalkan aku bisa menghindarinya. Janna tentu saja heran. Biasanya aku yang rajin menjemputnya, tak keberatan ke rumahnya. Tapi kali ini aku sepertinya anti ke rumahnya. Kubilang, mobilku sedang di bengkel. Kencan kami selanjutnya lebih sering bertemu di tempat yang dijanjikan. Janna naik mobilnya, dan aku berpura-pura naik taksi dengan memarkirkan mobilku agak lebih jauh. Hal ini tak bisa berlama-lama tentunya kalau tak ingin kecurigaan Janna semakin tebal. Suatu hari, kuberanikan diri ke rumahnya. Malam ini aku berjanji mengajaknya menonton teater di TIM. Khalil yang semula menemaniku sambil menunggu Janna, tiba- tiba harus keluar karena Om Rendy memintanya membelikan martabak manis. Sesuatu yang aneh menurutku. Kenapa tak meminta Bik Nah atau Kang Tarjo saja untuk melakukannya? Mendadak aku kehilangan mood.

“Ada teater apa di TIM?” Tiba-tiba Om Rendy sudah duduk di sebelahku.

Aku memilih tak menjawab pertanyaannya. Dia harusnya tahu perasaanku. Aku merasa terhina.

“Kamu masih canggung denganku, Nang.” Om Rendy setengah berbisik. Tubuhnya sedikit condong ke arahku. “Hemmm…wangi ini. Wangi yang kusuka darimu. Wangi yang membuatku bergairah selain…”

“Om! Cukup, Om..” Aku memotong kalimatnya sebelum jauh menjadi kurang ajar. Kuberi tekanan pada kata ‘cukup’ agar ia tahu bahwa aku tak nyaman. Kuharap ia tahu posisiku.

Om Rendy menyeringai. “Dengar, Nang. Kita bisa melakukannya lagi atau punya hubungan lebih dari itu. Tak masalah kamu masih pacar anakku. Semuanya akan normal dan tabunganmu pun terjamin.” Matanya tegas menatapku, seperti memberikan penawaran.

Dadaku naik turun. Perasaan campur aduk. Aku ingin mengamuk di sana, menghajar kepalanya dengan pukulan telak atas kekurangajarnya tapi –tentu saja– kutahan. Bisa-bisanya ia mengajakku melakukannya lagi. Tak habis pikir, padahal Tante Din adalah sosok wanita cantik yang molek dan masih menjaga tubuhnya di usia kepala empat. Ia juga lembut. Ah, dasar lelaki dewasa tak tahu diri. Maruk! Tindakanku mengurungkan niat meninju Om Rendy juga karena aku masih harus bersikap biasa di depan Janna. Aku mencintai Janna.

Beruntung Janna lekas menyusul kami di beranda. Setelah berbasa-basi (ini hal paling munafik yang kulakukan malam itu), kami melesat ke arah TIM. Dalam perjalanan, tak bisa kupungkiri kalau aku tak bisa konsentrasi pada Janna. Cerita-cerita yang dilontarkannya hanya kujawab pendek dengan ‘ya’, ‘oh’, atau diam yang panjang. Kujawab aku sedang pusing ketika Janna menanyakan keadaanku. Situasi semakin rumit saat ada pesan masuk di inbox-ku. Beruntung Janna minta berhenti sebentar di minimarket, jadi aku bisa membuka pesan itu.

Pulang jam berapa, Sayang?ย  Ngga lupa kan, ini malam nakal kita? Nanti sekitar jam 11 aku ke kontrakanmu ya. Siapkan stamina *wink*

Nama Tante Din tertera di kolom pengirim.

Advertisements