Ada banyak cara mengucapkan terimakasih, dan dari banyak cara itu aku memilih menulis surat.

Kali ini kutujukan pada sosok tak biasa yang kuanggap ksatria. Lupakan bentuk fisik ksatria dalam negeri dongeng yang memakai baju zirah, menggenggam pedang panjang berukiran doa, dan segala kesempurnaannya. Ksatria ini, –ya, kamu– tak ubahnya diriku. Penuh ketidaksempurnaan. Wajah kami memang mirip tapi kau, kuakui lebih berani dibandingkan aku.

Keberanianmu terlihat saat kau berjuang membantuku mengubah kebiasaan burukku; bangun siang, –salah satunya. Sepuluh menit sebelum alarm memekakkan telinga, kau sudah mulai berperang dengan setan-setan yang tidur bergelayut di kelopak mata dan berdiam tenang di daun telinga. Entah dengan senjata atau tangan hampa, yang jelas setan-setan itu takluk padamu. Mereka hilang, lenyap, dan mataku bisa terbuka segar. Dari hal kecil itu –membuka mata, memulai hari– aku punya kesempatan untuk menggandakan hal-hal baik. Superb!

Sebagai ksatria, kau tak banyak cakap. Tapi kau selalu melesat begitu mencium bau tangan-tangan setan yang bersiap menggandeng ke arah kegelapan. Kau siaga menyumbat tenggorokanku saat kepala terasa panas hingga kata-kata serapah terasa harus dikeluarkan. Siap menggerakkan tanganku saat kebaikan memang harus digenggam.

Suatu kali, kau pernah tak berhasil menahan laju setan yang deras menghasutku. Mukamu tanpak kecewa sekali. Sebagai pemilik jiwa ksatria, ada rasa bersalah dan kecewa tak bisa berjuang melawan musuh. Tapi tak lama, kau bangkit lalu menepuk pundakku. “Kau juga perlu tahu rasanya menyesal.” Dan benar, tak lama kemudian aku merasakan itu. “Aku berjuang di sini tak sendiri, tapi juga bersamamu. Kelak, keberhasilan akan jadi milik kita.”

Berpuluh tahun aku mengenalmu, tapi baru beberapa tahun terakhir benar-benar mengenalmu. Bolehkah aku memintamu untuk terus tinggal? Di luar sana, di sepanjang jalan yang akan kulalui, aku masih membutuhkanmu sebagai rekanku, ksatriaku. Aku bisa membayangkan kau tersenyum dan mengangguk membaca permintaanku ini. My pleassure, itu yang akan kau gumamkan kemudian. Jadi ksatriaku, terimakasih telah bersamaku, menyadarkan dan terus mengingatkanku. Tanpamu, aku pasti tetap berwujud lelaki gendut yang gemar bangun siang.

ps : Perjuangan kita belum usai. Masih ada PR lagi. Bisakah kau mengusir setan-setan yang bergentayangan saat sepertiga malam? Mereka membawa ramuan –semacam lem maha rekat– yang ditumpahkan di kelopak mata dan hati manusia yang nyenyak terlelap. Bantu aku menghindarinya. Aku tahu kamu, maksudku kita, pasti bisa!

Advertisements