Rahmi bersungut-sungut. Mulutnya yang tebal lebih maju dua senti dari biasanya. Dari sana berhamburan serapah. Setaaannnnn, serunya. BRAKK!! Didorongnya pintu kamar dengan kasar. Sembari membawa rotan pemukul kasur, ia menghambur masuk.

***

Sejak delapan hari yang lalu Rahmi sudah merasakan sesuatu yang aneh ada di rumahnya. Bukan saat dia ada di rumah, melainkan saat ia harus pergi keluar rumah untuk menyanyi. Sebagai pesinden senior yang ikut rombongan dalang terkenal, dalam sebulan ia bisa keluar kota sebanyak tiga kali. Belum dihitung ke desa tetangga yang jaraknya hanya puluhan kilo. Jam terbangnya yang tinggi dan suara khas melengking yang disukai membuatnya tetap laris meski sudah memasuki usia 45 tahun. Badannya tak seramping dulu memang, tapi dengan disiplin senam yang diterapkannya, ia bisa mengubah tubuh gembrotnya menjadi lebih layak dipandang.

Rahmi beberapa kali mendapati kamarnya, terutama seprei tempat tidurnya berbau asing. Wangi yang ia tak kenal. Sesuatu yang bukan dihasilkan dari parfum miliknya. Ia mengendus-endus suami di sebelahnya yang sudah tidur. Baunya masih seperti dulu. Berarti bukan parfum milik suaminya juga. Lalu siapa? Lebih aneh lagi karena tiap kali ia pulang selepas menyinden dan merebahkan diri di kasurnya, wangi parfum kembali tercium samar. Tapi kali ini berbeda dengan wangi yang pertama. Keempat beda dengan ketiga. Kelima beda dengan keempat. Begitu seterusnya.

Suatu saat ia pernah bertanya pada Kipli, suaminya, perihal wangi asing yang sering tercium. Dengan enteng Kipli menjawab bahwa itu hanya wangi pelembut baju dari laundri. Ia malas menyuci seprei, dan membawa ke laundri adalah pilihan tepat. Begitu yang dikatakan Kipli. Alasan yang diterima sesaat oleh Rahmi. Tapi ia tak lantas percaya. Hanya saja malam itu ia memilih untuk tidur. Badannya terasa letih. Ia perlu beristirahat ketimbang memikirkan hal belum jelas seperti itu.

***

“Pak, besok aku nyinden ke Kajor. Pulang lusa.”

Kipli mengangguk dan ber-heemm pendek tanpa melepaskan pandangannya pada koran pagi.

Malamnya, Rahmi sengaja mengajak suaminya kumpul. Meski tampak enggan, Kipli menurut juga. “Udah lama lho, ngga ginian. Lagian dua hari aku ndak di rumah” Rahmi merayu suaminya. Kipli pasrah saat tubuh besar Rahmi menimpanya. Tanpa diketahui Kipli, Rahmi sengaja menumpahkan tinta ke seprei. Rupanya ia sedang mempersiapkan taktik baru.

“Pak, sepreinya kotor. Nanti dibawa ke laundri ya. Aku berangkat dulu..” kata Rahmi keesokan harinya. Setelah mencium punggung tangan Kipli, ia beranjak keluar rumah. Dengan becak yang sudah menunggu di halaman, Rahmi pergi ke rumah Ki Kenthus, dalang sekaligus ketua rombongan. Becak melaju perlahan. Kipli melengok sebentar, memastikan bahwa becak yang ditumpangi istrinya sudah menjauh.

Udah aman. Langsung ke sini.

Sebuah pesan singkat langsung ditulis Kipli dari layar henponnya. Lima menit setelahnya, datang mengendap wanita berparas menor dari balik semak di samping rumah. Celingukan seperti dua kawanan maling, mereka memastikan bahwa tak ada orang di sekitar yang melihat. Bergegas –seperti anak kecil yang terburu membuka bungkus kado– Kipli menarik baju yang dipakai wanita itu. Wanita menor itu ber-ah-ah pendek sambil mengikuti langkah Kipli menuju kamar. Pintu dibanting dari dalam.

“Setaaaaannnnn!!! Dasar laki ngga tahu diuntung!” Tiba-tiba Rahmi mendobrak masuk pintu depan. Teriakan lantangnya menyeruak masuk sampai sudut rumah. Disambarnya rotan pemukul kasur di dekat pintu. Diacung-acungkannya ke arah kamar. Suara gedebug-panik terdengar dari dalam kamar. Kipli dan Wanita Menor itu tentu sedang sibuk mencari pakaian yang entah di mana.

BRAKK!!

Pintu kamar didorongnya dengan keras. Tak ada siapa-siapa, hanya tampak kasur yang berantakan, pakaian dalam wanita dengan bau parfum menyengat dan jendela yang terbuka lebar. Di bawahnya, beberapa tanaman tampak koyak terinjak.

Dada Rahmi bergemuruh. Naik turun tak beraturan. Mukanya merah. Keringat mengalir satu-satu di dahinya.

“Dasar setan! Beraninya kau tipu aku selama ini.” Rahmi berteriak lantang ke arah jendela. Dilihatnya sekeliling kamar, seolah mencari pelampiasan untuk marahnya. Matanya tertuju pada pakaian dalam wanita yang tertinggal. Dipungutnya benda penutup aurat itu dan dirobeknya menjadi empat bagian. Masih kurang puas, dipungutnya rotan pemukul kasur yang terjatuh di samping kakinya. Dengan membabi buta, Rahmi memukulkannya ke arah kasur.

“Sebut! Sebut siapa saja yang pernah ditidurinya di sini. Sebut!”

Suara bagg-bugg-bagg-bugg bersahutan dengan suara nama wanita yang terlontar dari kasurnya yang kesakitan.

BUGG!!!
—Lastri.

BAGG!!
—Iis.

BUGG!!!
—Sulis.

BAGG!!
—Murni.

……

Dan lolongan Rahmi semakin membahana seiring dengan munculnya nama-nama lain.

Advertisements