Hai, apa kabarmu? Ah, mungkin kamu akan menganggapku pria dengan basa-basi tinggi. Entahlah, mungkin ada benarnya. Aku terlalu berhati-hati bila ingin memulai obrolan denganmu. Terlalu tertata, menjadikannya tampak deretan kalimat basa-basi, bukan?

Lama kita tak berjumpa. Mungkin sudah ratusan hari, mungkin juga ribuan. Entah. Aku sangat bodoh untuk mengingat berapa lama aku tak melihatmu. Bagiku, baru sekelebat punggungmu menjauh saja sudah kuhitung lama. Berlebihan? Tak ada yang cukup untuk seseorang yang sedang tersandung lalu terjatuh dalam kubangan cinta, bukan?

Apakah kau tahu, dulu saat kita sama-sama masih berseragam putih abu-abu; aku sering kali memanggilmu hanya sekadar ingin melihatmu menoleh? Gerakan saat wajahmu berpaling ke arahku –dengan beberapa gerai rambut nakal yang menutupi dahimu– itu terekam jelas dalam gerak lambat di memori otakku.

“Ya, ada apa?” Kau mencari jawaban atas panggilanku.

“Ah, ngga apa-apa. Cuma mau bilang, pulangnya hati-hati ya..” Itu yang terlontar dari mulutku. Norak. Ya, aku menganggapnya seperti itu bila sekarang mengingatnya. Tapi hal-hal seperti itu justru spesial. Dan, ah, aku merindukan momen seperti itu.

**

Hari ini, beberapa menit yang lalu aku tiba-tiba mengingatmu. Entah angin apa yang membuka kotak pandora di otakku. Semuanya berhamburan dan aku tak mampu mencegahnya. Kubiarkan mereka melayang-layang, sebagian kutangkap –lalu kuingat– , sebagian lagi kubiarkan menguap. Untuk yang terakhir ini mungkin yang berhubungan dengan perih. Ha-ha. Detik ini juga, kuputuskan menulis surat untukmu. Aku memang tak tahu di mana alamatmu sekarang. Pun keberadaanmu. Surat ini mungkin memang ditulis bukan untuk dikirimkan ke tempatmu, melainkan hanya untuk menyuarakan hatiku. Kalau tak kulakukan sekarang, kapan lagi? Bukankah kita tak berhak berpura-pura dengan perasaan sendiri?

Dinda, aku harap di sana kamu baik-baik saja. Dengan siapa pun kamu sekarang, tak jadi soal. Ia –lelakimu– harus bisa menjadikanmu permaisuri paling bahagia. Kalau tidak, aku bisa sangat marah. Kamu layak dibahagiakan karena memang kamu lah sumber dari kebahagiaan itu sendiri.

Aku terlalu ngelantur sepertinya. Beginilah jika perasaan yang lama dipendam, dikunci rapat, akhirnya dipaksa bertemu kesempatan. Tak ada lagi sisa yang disembunyikan, semuanya gamblang diucapkan.

Baiklah, Dinda. Surat ini harus disudahi sebelum semuanya menjadi berlarut-larut. Maaf jika kata-kataku tak berkenan. Kau tahu, kau tak perlu membaca semua tulisanku ini, cukup kata yang kucetak tebal saja. Terlanjur? Ah, itu lebih baik.

Salam,

Advertisements