Semilir angin lembut membelai rambut panjangnya. Mengantarkan bau harum lembut ke hidungku. Kepala Rana –gadis pemilik rambut itu; kekasihku– rebah manja di pundakku. Sementara aku, duduk bertumpu dengan tangan kanan sementara tangan kiriku memeluk pinggangnya.

“Ini hari terindahku. Senja terbaikku” Rana berbisik manja. Suaranya yang empuk mengalun merdu. Aku menyukai tiap kali ia bersuara. Tapi lebih sering mulut nakalku ini menyumbat bibir ranumnya, membiarkan kata-kata yang harusnya keluar mandeg.

“Aku belum pernah memercayai bidadari. Tapi aku yakin, di sampingku ini adalah salah satu diantaranya” Lenganku dicubit mesra. Aku tersenyum. Rona wajahnya berkilau keemasan tertimpa cahaya senja. Aku menyibak anak rambut yang bergelayut di depan wajahnya. Seolah tak membiarkan ada yang menutupi wajah kekasihku.

“Kamu cantik karena kamu berani menjadi kamu”

“Kamu lebih sering menggombal sekarang!” Rana tersipu. Mulutnya mengerucut lucu. Ah, wanita memang terlihat lebih lucu jika pura-pura ngambek begini.

Kucolek dagunya, “Sejak bersamamu, yang dulu disebut orang sebagai ‘gombalan’ adalah sesuatu yang jujur”

Kurapatkan wajahku ke wajah Rana. Belum juga bibirku meraih bibirnya, suara srek-srek di belakangku membuatku harus menghentikan kegiatan ini. Sial. Kutengok ke arah belakang, sebuah gerakan cepat menghilang dari semak. Aku terpaksa berdiri, melemparkan batu kecil ke arah semak. Ah, pasti cuma kelinci liar. Saat kubalikkan badan, tak kudapati Rana ada di tempatnya semula. Kejelajahi tempat kami duduk tadi. Tak ada jejak-jejak kepergiannya. Mana mungkin dia bisa secepat itu pergi? Ah, ini tak mungkin.

Ran, Rana…

Kupanggil namanya berulang. Nihil. Tak ada sahutan. Sementara senja telah usai, berganti malam yang mulai pekat.

Ran, Rana…

Langkahku timpang tiba-tiba. Sebuah lubang memaksaku jatuh ke dalamnya. Tanganku berayun liar, berusaha meraih apapun yang bisa dipegang. Tapi lubang ini semakin dalam terasa semakin lebar. Teriakanku percuma. Tersimpan di dinding-dinding lubang yang menganga.

Aaaaahhhhh…

***

Aku tersedak, terbangun dalam posisi duduk. Kucoba mengatur nafas yang tak beraturan. Sebagian wajahku basah oleh keringat. Kulihat sekeliling, rasanya tak asing dengan tempat ini. Tunggu, ini kamarku. Tapi bagaimana bisa aku ada di kamarku sekarang. Bukankah tadi aku ada di bukit seberang desa, menikmati senja bersama Rana? Kulirik jam dinding. Baru pukul setengah delapan pagi. Kutahu ini pagi karena jendela di luar kamarku benderang. Aku mengingat-ingat kejadian aneh ini. Mimpi? Lagi? Tanganku meraih botol plastik berisi pil tidur. Isinya telah kosong. Aku mulai tahu arah pulang kebingunganku. Tiba-tiba aku teringat Rana. Gadis manis yang beberapa kali kutemui, dalam mimpi absurd. Aku perlu pil itu lagi. Aku masih butuh Rana!

Advertisements