Namanya Bunga. Itu yang kubaca dari kartu identitas yang tergantung di saku kaos polonya. Nama yang menyiratkan kecantikan si pemilik wajah. Memesona. Tapi ada sesuatu selain kecantikannya yang membuatku bertahan menatapnya. Sesuatu yang jauh ke belakang. Aku berusaha keras sekali mengingatnya.

**

Akhir bulan. Penat dengan pekerjaan. Sabtu ini kuputuskan sejenak menghibur diri dengan berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Biarpun dompet setipis kertas dan kantong sekempes balon kehilangan gas, tapi tak juga menyurutkan niatku. Menonton film menjadi tujuan pertama. Sepertinya sudah lama aku tak merasakan sensasi ke bioskop. Tak susah memutuskan film apa yang akan kutonton kali ini. Akting aktor Daniel Day Lewis yang pasti memesona langsung menjadi pilihanku. Hampir dua jam berlalu dengan kepuasan, kulanjutkan jalan-jalanku kali ini. Supermarket menjadi tujuan berikutnya. Ada beberapa makanan yang harus kubeli. Di sinilah pertama kali kulihat dia. Gadis bernama Bunga.

**

Aku baru saja melintas rak buah saat dia menegurku. Bukan menegur seperti kepada teman lama, tapi lebih tepat menawariku produk yang dijualnya. Ya, Bunga adalah seorang sales promotion girl.

“Mau mencoba rasa baru yogurt ini, Mas?” Tiba-tiba suaranya menahanku untuk melangkah. Kupalingkan wajahku dari senyumnya ke arah wadah plastik kecil untuk sample. Kuambil satu, lalu kuminum sampai habis.

“Ini kadar vitamin C-nya lebih tinggi. Kalau Mas punya sakit maag, ini aman juga buat lambung. Ada banyak varian rasa yang bisa dipilih…”

Aku hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasannya. Sejujurnya aku tak begitu memedulikan apa yang dibicarakannya. Pikiranku melayang begitu melihat wajahnya untuk pertama kali. Bukan, bukan melayang seperti orang yang jatuh cinta. Tapi melayang untuk masuk ke dimensi entah. Ah, bagaimana aku menjelaskannya padamu? Begini, akan kusederhanakan. Aku seperti mengenal Bunga sebelumnya. Mengenal yang samar tapi di satu sisi terasa begitu kuat. Wajah yang dibalut polesan tebal ini tampak begitu akrab. Aku berandai-andai jika Bunga tak sedang berdandan –hanya mengenakan kao, jins dan tanpa polesan– pasti aku lebih cepat mengenalinya (kalau memang benar aku mengenalnya).

“Gimana, Mas? Jadi ambil yang rasa apa? Kebetulan masih ada promo, beli empat gratis satu.” Bibirnya tak henti menawarkan. Aku kembali fokus ke Bunga yang sekarang. Kuambil rasa mangga, lalu kumasukkan ke dalam troli. Setelah berterimakasih, ia berlalu. Mencari pengunjung lain.

Aku menjauh dari rak buah, tapi bukan darinya. Kupilih tempat strategis untuk bisa melihatnya. Memastikan bahwa Bunga adalah orang yang kusangka sama dengan dia-entah-siapa-di-masa-lalu. Rak bumbu masakan jadi pilihanku ‘bersembunyi’. Mataku awas mencuri lihat ke arahnya. Otakku berputar mencari memori yang klop dengan informasi yang dikirim mata. Kuamati gerak-geriknya. Cara dia berbicara, menatap dan gesture lainnya. Otak hampir berhasil menemukan siapakah sosok di masa lalu yang mirip dengannya. Ada kilatan-kilatan serupa cahaya lampu kamera yang menjejali pikiran. Wajah samar berlalu-lalang. Ayo, sedikit lagi! Aku menyemangati diri sendiri.

Bunga bergerak maju. Ia melangkah mendekati rak bumbu tempatku sekarang. Tergagap, segera kuayunkan troli menjauh dari sana. Pindah tempat. Terlalu lama di satu tempat untuk mengamati seseorang sungguh mencurigakan. Aku mendorong troliku masuk ke kembali ke rak buah. Jaraknya tak jauh dari dia. Kali ini hanya kurang dari sepuluh langkah. Terlalu dekat? Tenang. Aku akan bertingkah seperti sedang memilih jeruk. Sepertinya pilihan alibi yang bagus. Kuambil sebuah, kudekatkan ke hidungku. Kuendus sebentar, mengangguk-angguk sok mengerti. Kuambil lagi jeruk yang lain, kutekan-tekan buahnya. Lagakku seperti pemilih buah profesional. Tapi kau pasti tahu, mataku bukan mengarah ke tumpukan buah berwarna kuning itu. Bunga di seberang masih menjadi fokusku. Otakku terus bekerja keras. Puzzle yang disusun belum semuanya terangkai.

Plastik bening hampir separuh terisi jeruk. Otakku masih belum menemukan siapa sosoknya. Sial. Aku harus segera pindah tempat lagi. Belum juga kuletakkan plastik jeruk ke troli, otakku langsung mendapatkan sinyal kuat dari pandangan mata. Bersamaan dengan adegan di depanku saat Bunga mencoba memungut wadah plastik yang jatuh di dekat kakinya. Kaos polo ketatnya terkesiap. Celana jins hipster yang dipakainya semakin menujukkan jelas tanda lahir di pinggang bawah. Aha!

Seperti bendungan yang jebol karena kekuatan air, kilatan masa lalu menyeruak masuk. Membabi-buta. Bagaimana tanda lahir di pinggang bawah –berbentuk bulan sabit– itu begitu kukenal. Seseorang dari penggalan masa lalu memilikinya. Jauh ketika ia masih bernama Bisma.

Advertisements