Weber berjalan ke halaman depan rumahnya. Hari masih pagi, dan tukang pos bersepeda itu sudah datang untuk menyampaikan surat-surat yang dialamatkan padanya. Agak di luar kebiasaan sebenarnya, karena surat biasanya datang saat matahari lewat di atas kepala.

Dibukanya penutup kotak surat dari  kayu, lalu tangan kanannya menjulur masuk mengambil beberapa surat di dalamnya. Satu tagihan listrik, dua surat untuk istrinya dan satu surat yang ditujukan untuk dirinya. Penasaran, Weber langsung merobek sisi kanan surat beramplop coklat tanpa nama pengirim itu. Tertegun ia melihat isinya adalah sebuah kartupos bergambar bukit-hutan pinus-saat-malam-berhias-bintang. Apa maksudnya ini? Dibaliknya kartupos itu untuk mengetahui siapakah pengirimnya, tapi yang didapatnya hanya sebuah cap tangan berwarna kecoklatan yang langsung membuat pikirannya kembali ke masa lalu.

 

***

“Kau bahagia menikah denganku, Sayang?” Weber mengecup kening Viona, wanita yang baru lima hari resmi dinikahinya.

Viona mengangguk, lalu memejamkan mata menikmati bibir Weber mendarat di keningnya. “Jadi kita pindah dari sini?” tanyanya kemudian.

Weber duduk di samping Viona, mengelus rambut ikalnya yang keemasan . “Jadi. Di sini terlalu sepi. Kita pindah di desa yang dekat dengan kota. Aku akan berkebun dan beternak, lalu kau bisa menjual hasilnya ke kota.”

 

***

 

Sudah dua bulan Weber dan Viona menempati rumah baru di Desa Nomune, sebuah desa yang terkenal sebagai desa tanpa bulan purnama. Setiap pertengahan bulan, saat bulan purnama memamerkan keindahannya, ia justru tak terlihat di desa ini.  Fase bulan di Desa Nomune memang berbeda dengan desa-desa lain. Di sini hanya ada fase bulan baru dan bulan sabit.

Sebagai ganti perayaan bulan purnama, di desa ini diadakan perayaan bulan sabit. Para wanita di desa ini akan membuat kue-kue kecil nan manis, menghias rumah mereka dan juga pohon-pohon oak di halaman dengan aneka ornamen berbentuk bulan sabit. Lalu, di lapangan utama; akan diadakan acara api unggun. Pria-pria akan berpesta kalkun bakar sambil menikmati bir. Tarian Humpawame  –sebuah tarian pemuja bulan—akan disuguhkan oleh gadis-gadis desa nan molek. Meriah. Ini yang membuat Weber betah tinggal di desa ini. Jauh sekali berbeda dengan desa tempat tinggalnya dulu. Sebuah desa di pinggir hutan pinus yang sepi. Jauh dari perkampungan dan tiap bulan purnama selalu rusuh oleh gerombolan serigala.

Pernah suatu waktu, rumahnya dikepung oleh gerombolan serigala berbadan besar. Matanya merah setajam belati dan nafasnya memburu. Weber dan ibunya ketakutan di balik lemari, di dalam kamar. Doa dan peluh sama-sama keluar dengan derasnya.

“Tenang, Nak. Ayahmu sebentar lagi pasti pulang. Ia akan segera membunuh semua serigala itu.” Ibu berusaha memenangkan Weber, tapi agaknya gagal. Wajah pucat dan bibir yang menggigil ketakutan menandakan bahwa Ibu juga belum bisa tenang.

BRAKK! Suara pintu dibuka paksa terdengar dari kamar tempat mereka bersembunyi. Derap langkah satu per satu kaki serigala itu jelas sekali terdengar semakin dekat. Mereka berpencar, entah mencari apa. Weber menangis sambil menggigit bantal di pelukannya. Sementara Ibu –yang tak kalah takutnya— membisikkan doa-doa penenang di telinganya.

BRAKK!! Pintu kamar diterobos dua serigala besar. Moncong mereka terlihat sedikit terbuka dengan liur yang menetes. Mata merah itu melihat sekeliling sebelum akhirnya mengendus lemari tempat mereka bersembunyi. Cakar-cakar raksasa itu brutal menggaruk pintu lemari, menimbulkan suara kasar yang sangat menakutkan. Ibu semakin berusaha menenangkan Weber dengan memeluk lebih erat. Tamatlah kami.

 

***

 

Ingatan tentang penyerangan serigala itu begitu membekas di kepalanya. Sebuah trauma masa remaja yang tak akan pernah bisa dilupakan. Weber beranjak keluar dari kamarnya, membiarkan Viona yang telah terlelap untuk tetap dalam dekapan selimut sementara ia pergi ke dapur untuk membuat teh hangat. Rasa penasaran akan siapa pengirim surat berisi kartupos itu ternyata sangat mengganggu tidurnya. Berkali-kali ia bermimpi buruk tentang masa lalu, terbangun dan mendapati piyama yang dikenakannya basah oleh keringat dingin.

Weber membawa secangkir teh hangat yang baru dibuatnya ke ruang tengah. Sambil duduk di depan televisi, ia kembali mencari kartupos yang tadi siang ia letakkan sembarangan di sekitar meja.  Sekali menyibak tumpukan koran, ia langsung menemukan apa yang dicari. Diambilnya kartupos itu dan ia merasakan kejanggalan. Dilihatnya gambar bukit-hutan-pinus-saat-malam-berhias-bintang itu tampak berbeda dari siang tadi, saat pertama kali ia melihatnya. Pohon-pohon pinus di dalam gambar itu tampak bergerak –seperti tertiup angin malam, lalu jumlah bintang yang ada di langitnya juga tampak lebih sedikit dibandingkan sebelumnya. Weber memincingkan mata, mencoba percaya bahwa apa yang dilihatnya adalah sebuah halusinasi berlebihan karena perasaannya sedang tidak tenang. Diamatinya lagi gambar yang tercetak di belakang kartupos itu lebih lekat. Kali ini ia melihat awan hitam di langit dalam gambar itu sedikit demi sedikit memudar, lalu berangsur menyebar. Di tengahnya, perlahan muncul lingkaran besar berwarna keemasan.  Weber diam, seperti terhipnotis. Tak lama, ia merasakan tubuhnya menggigil hebat. Dirasakannya ruangan itu berputar, matanya berkunang-kunang. Cangkir teh yang dipegangnya jatuh tepat di antara kakinya. Weber memegangi kepalanya yang seperti akan meledak. Badannya mendadak menjadi kekar, bulu-bulu kasar kecoklatan tumbuh lebat seketika di sekujur tubuhnya. Weber mengerang, merasakan sakit yang luar biasa saat rahangnya bergerak memanjang. Mulutnya berubah menjadi moncong, sementara gigi taring mencuat keluar. Weber berhenti mengerang saat wujudnya telah sempurna menjadi serigala –manusia serigala, lebih tepatnya. Nafasnya tampak memburu dan mata merah belatinya menjelajahi rumah. Di seberang tempat ia berdiri tampak Viona menangis kaget. Kedua tangannya yang gemetaran menutup rapat mulutnya. Weber mengerang, matanya menatap lekat istrinya.  Setelah ber-auu panjang, ia berlari ke arah jendela, menembusnya dan menghilang ke arah kabut

Advertisements