Ini sudah hari ketiga, dan ritualku masih saja sama..

Pagi ini dia berkutang biru, dengan aksen pita di tengah. Motif bunga kecil-kecil mempermanis tampilannya. Di tangannya, tergenggam 2 kutang dan 3 celana dalam setengah basah. Modelnya bermacam-macam, kebanyakan berbahan nylon. Seksi sekali.

Aku tersenyum. Mataku masih tak berkedip di balik teropong. Wanita berkutang biru itu selalu tak menyadari kebiasaanku, seperti hari-hari sebelumnya. Ia masih saja menikmati kegiatan pagi, menjemur pakaian dalamnya.

Dia tetangga baruku. Si pengoleksi pakaian dalam. Tiap dua hari sekali-seperti jadwalnya mencuci, aku selalu  berjingkat ke loteng membawa teropong untuk mengintipnya menjemur koleksinya. Bermacam-macam model pakaian dalam yang dijemur menarik perhatianku. Membayangkan sesuatu yang seksi tersembul di dalamnya, menjadi kesenangan tersendiri. Hmm, sebagai lelaki dewasa kurasa kelakuanku ini masih tergolong normal.

Hari keempat.

Pakaian dalam yang dijemur kali ini penuh renda. Bra warna merah dari bahan satin ditambah renda mengelilinginya tampak sangat menggairahkan. Seksi. Sudah kuamati sejak satu jam yang lalu dan kali ini aku benar-benar yakin kalau wanita pengoleksi pakaian dalam itu baru saja pergi sesaat setelah menjemur. Dia keluar rumah terburu-buru sambil berbicara lewat telepon genggamnya. Ya, aku yakin itu. Inilah saat yang tepat. Sekarang, atau tidak sama sekali.

Berjingkat, kucoba memasuki halaman belakang rumahnya. Tempat menjemur pakaian ada di atas kebun kecil ini. Susah payah memanjat dinding, akhirnya sampai juga di tempat jemuran. Pemandangan indah terhampar di sana. Kutang hitam berenda, celana dalam berpita kecil di pinggirnya, bikini, g-string, ahhhhh…rasanya aku segera orgasme! Tanganku membelai lembut kain penampung surga lelaki itu. Bayangan mesum seketika muncul. Tersenyum, segera kupastikan salah satu koleksi ini harus menjadi milikku. Harus!

Mataku menjelajahi setiap koleksi sebelum akhirnya memutuskan. Kutang tanpa tali berwarna ungu-penuh renda ini akan jadi milikku. Kutempelkan benda itu di dadaku sambil berputar ke kanan lalu ke kiri dan tersenyum girang.

“Malam ini setoran Mami Lila tak akan kurang lagi.” aku tersenyum genit.

 

Advertisements