Terminal Giwangan, Yogyakarta. 06:12

Cericit burung sesekali terdengar memecah pagi, seakan riang menyambut hadirnya  surya. Suara musik dangdut riang dari radio butut tukang becak di pinggir jalan membangunkan jiwa-jiwa malas yang bersembunyi di balik selimut tebal. Jalan becek selepas hujan semalam sesekali terdengar perciknya terinjak kaki-kaki manusia.

Belum banyak aktivitas yang terjadi di terminal sedini ini, kecuali beberapa bis dalam kota yang mulai membawa penumpangnya ke arah kota –tempat mereka beraktivitas. Bis-bis luar kota masih berjajar rapi diselimuti titik-titik air, beberapa sedang dicuci pemiliknya. Toko kelontong dan agen-agen tiket masih menutup rapat rolling door-nya. Tampaknya, suhu udara rendah kota Jogja akhir-akhir ini sedikit mengubah jam biologis orang-orang yang sehari-hari bekerja di sini. Di ujung terminal, di sebuah masjid kecil, aku menggeliat pelan. Udara pagi yang dingin dan sisa-sisa embun yang menempel di kepalaku membuatku bangun lebih cepat dari seharusnya. Mataku sedikit memicing diserang pagi yang ternyata sudah benderang, sambil berusaha mengingat-ingat kenapa aku bisa tidur di tempat ini. Harusnya, kasur empuk dan selimut hangat di kamarkulah tempatku membuka mata. Perlu beberapa saat untuk mengingat kejadian semalam, sebelum akhirnya aku menyerah. Kilatan-kilatan peristiwa sesekali berkelebat, tapi aku tak pernah berhasil menyatukannya menjadi sebuah kejadian utuh. Aku kembali menggeliat, sekadar menggerakkan badan agar tak terlampau dingin. Kali ini sedikit mengerang. Seorang petugas kebersihan berbaju kuning yang sedang melintas di depan tempatku berbaring  sepertinya mendengar eranganku. Sejenak dia berhenti, menoleh, lalu mendekatiku. Sejurus kemudian, dia berteriak memanggil teman-temannya.

“Hey, kalian. Sini, cepat!”

 

Orang-orang mendatangi petugas kebersihan berbaju kuning dalam langkah cepat. Laki-laki itu berbicara pada mereka sambil sesekali menunjuk ke arahku. Seorang perempuan tampak iba, meremas -remas ujung kemejanya dengan cemas. Bapak berjenggot di belakangnya beberapa kali mengucap “astaghfirullah” sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku panik. Mereka semua menatapku sambil membisikkan sesuatu yang tak mampu kudengar. Aku merasa terancam. Ingin rasanya lari menjauh dari mereka, tapi aku tak bisa. Kaki-kakiku terasa lemah, seperti lumpuh. Alih-alih berlari, aku hanya mampu menggerakkan ujung jempolku. Posisiku semakin terdesak, sementara salah seorang dari mereka menjulurkan tangannya ke arahku. Aku ketakutan. Hanya dengan menangislah aku memasrahkan keadaan.

***

Sehari sebelumnya. 20:19

Shella mondar-mandir di kamarnya yang cukup luas. Tangan kiri menahan perutnya, sementara tangan kanannya sibuk memencet tombol di ponselnya. Dari garis mukanya jelas terlihat bahwa dia sedang panik.

“Aryo … ayo dong angkat teleponnya ….” Sekali lagi Shella menempelkan ponsel pintar itu di telinga kanannya. Bunyi nada tunggu dari seberang lagi-lagi berganti suara statis yang menunjukkan pemiliknya terlalu lama tidak mengangkat ponsel.

Sudah dua belas kali Shella menghubungi nomer telepon Aryo sebelum akhirnya menyerah. Dia beralih menelpon Riga, sahabatnya sejak kuliah.

Tersambung.

 “Rig. aku butuh bantuanmu . Udah sakit banget nih … kamu bisa ke kosanku sekarang, nggak?”

“Lho, sekarang? Bukannya masih ….”

“Buruan! Enggak usah banyak nanya!” Shella memotong pertanyaan sahabatnya dengan sergah tak sabar.

Aku telepon taksi dulu, ya. Habis itu aku langsung ke sana. Oke?”

Akuenggak mau ke rumah sakit, Rig!”  Shella mengiba sambil menggigit-gigit bandul kalungnya yang berbentuk huruf S.

“Apa pun lah, yang penting kamu segera diatasi.”

Perempuan itu terengah. Keringat menderas dari porinya. Wajahnya memucat. Bahunya naik turun, dan dia merasa semakin lemas. Shella menyandarkan diri ke kursi depan agar bisa segera keluar saat taksi datang menjemputnya nanti.

Aryo, lo harusnya ada di sini!  Lo harusnya lebih bertanggung jawab. Batin Shella kembali berteriak.

***

Sebelas bulan yang lalu.

Namanya Aryo Wicaksana. Pemuda berkulit cokelat nan manis ini pertama kali ditemui Shella saat keduanya terlibat sebuah acara bakti sosial di daerah terpencil di kaki gunung Menoreh, Kabupaten Kulonprogo. Sebagai aktivis sosial, Shella  bersama kelompok pecinta alam alumnus kampusnya memang kerap mendatangi daerah terpencil di kotanya untuk mengadakan acara sosial. Aryo adalah wartawan junior di sebuah koran lokal yang tergolong masih baru. Perkenalan mereka tak disengaja – meskipun tak berlangsung semanis cerita-cerita FTV.

“Mbak, boleh ngga minta data siapa aja anggota panitia baksos ini?” Aryo  tiba-tiba menghampiri Shella yang sedang membantu seorang ibu mengikat kardus berisi bantuan.

“Boleh. Nanti langsung ketemu sama Diah aja, Mas. Orangnya yang pake jilbab sebelah sana. Ya, itu dia,” tunjuk Shella ke arah jam sepuluh dari tempatnya berdiri.

“Oke. Hmmm, kalau mau nanya-nanya lebih detail ke Diah juga, Mbak?” Aryo kembali bertanya.

“Ke aku aja juga enggak apa-apa deh. Tapi nanti ya, Mas. Lagi ribet. Atau, catet nomer teleponku aja, Mas. Nanti bisa nanya lewat sms kalau enggak ketemu lagi,” Shella melakukan penawaran bantuan.

“Oh, iya deh, Mbak. Eh, sori, belum kenalan. Aku Aryo.” Lelaki itu tersenyum sambil mengulurkan tangan kanannya. Kamera yang semula di sana dipindahkannya ke tangan kiri.

“Shella.”

***

 “Shel, kamu mesti bertahan. Kamu pasti bisa ngelaluin ini!” Riga terus menyemangati sahabatnya. Sementara tangan kanannya terus memegang punggung tangan Shella untuk sekadar memberikan ketenangan.

“Rig, sakit banget ini ….” isak Shella seraya meringis. Peluh dan airmata menjadi satu di pipinya.

“Suster, tolong dibius lagi, bisa? Saya kok enggak tega ya ngeliat teman saya begini ….” Riga berusaha membujuk wanita berpakaian putih itu untuk memberikan obat penenang untuk Shella.

“Tenang saja, Pak. Bapak sekarang boleh tunggu di luar saja. Biar Ibu kami yang tangani ….”

Riga keluar sambil bersungut-sungut karena tak suka dipanggil “Pak”. Sembari menunggu Shella diperiksa, pria itu memutuskan untuk sejenak berjalan-jalan di taman depan kamar periksa. Dia sangat kesal kepada Aryo yang telah membuat sahabatnya begini. Pria itu tak pernah bisa menunjukkan rasa tanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Dia memang pernah berjanji akan menikahi Shella, tetapi ucapannya tak bisa dipegang, secepat es mencair di gurun pasir yang sangat panas. Selalu saja ada alasan untuk menghindar. Dan alasan paling sering dilontarkan adalah segala hal yang berkaitan dengan pekerjaannya sebagai wartawan. Liputan ke luar kota lah, harus rapat mingguan lah, dikejar deadline lah. Terlalu banyak alasan. Dan berbulan-bulan pergi dengan menumpuk alasan, Aryo tak pernah peduli saat perut Shella mulai membesar. Jangankan menanyakan keadaan, menjawab telepon Shella pun gagal dilakukannya. Riga menghela napas. Dadanya sesak menahan kesal dan prihatin. Tetapi dia tidak boleh lepas kendali, Riga tahu kalau di saat-saat seperti ini, dia harus bisa menenangkan Shella alih-alih ikut emosi. 

 

“Pak…”

Seorang perawat menghampiri Riga setelah penantian yang menggelisahkan. Bayi Shella terpaksa dilahirkan prematur. Jika menunggu lebih lama lagi akan membahayakan keadaan bayi dan ibunya. Dengan degup jantung cemas, Riga mengikuti perawat itu memasuki ruang bersalin.

Shella terbaring lemas. Dia tampak lega, tetapi tak ada tanda-tanda binar bahagia selayaknya ibu baru yang dikaruniai malaikat kecil. Riga menghambur ke arah Shella. Tangannya mengusap punggung tangan Shella.

“Selamat, Ibu Shella ….”

Shella  menatap Riga tajam. Dia tidak mengatakan apa pun, hanya menarik ujung bibirnya tak terkesan demi menanggapi ucapan selamat itu. Kemudian matanya kembali kosong membentur tembok ruangan bercat putih ini.

***

Terminal Giwangan. 03.38

Tubuhku terguncang-guncang dalam kendaraan yang membawaku entah ke mana. Aku mendengar dengus napas seorang perempuan di dekatku.

“Berhenti di sini, Pak,” ujar perempuan itu. Dia membayar ongkosnya, kemudian bergegas turun sambil terus membawaku. Langkahnya cepat seperti tengah diburu. Dia membawa kami memasuki kawasan terminal. Kami melewati gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Terminal Giwangan Yogyakarta”, kemudian melintasi beberapa toko kelontong, kios pulsa, dan berhenti sejenak di sebuah masjid. Dia mengendap-endap, melirik kanan kiri memastikan tak seorang pun melihatnya.

Udara lembap dan dingin setelah hujan satu jam yang lalu masih terasa. Aku menggigil.

Perempuan itu melihat sekelilingnya sekali lagi. Begitu dirasanya aman, dia meletakkan sekotak karton bekas mie instan di halaman masjid. Dia menatap isinya lekat seakan tak ingin berpisah. Ada yang berperang dalam batinnya. Dia membisikkan maaf, lirih dan terluka. Isaknya tertahan di tenggorokan. Didorongnya kardus itu lebih dalam supaya menempel pot bunga besar di depan masjid. Aku di dalamnya ingin memekik, meronta. Menendang-nendang udara, ingin mendapatkan perhatiannya kembali. Tetapi perempuan itu memalingkan muka, lalu bangkit dari duduknya, berjalan lebih gesa daripada ketika dia datang tadi, separuh berlari, seperti ingin menghapuskanku dari hidupnya. Tetapi aku tak bisa lagi menangis. Sudah kering dan lelah aku sehabis menjerit tanpa henti sebelum aku ditinggalkan di lantai masjid yang dingin. Dan lebih dari apa yang dirasakan tubuhku, aku ditikam kecewa pada perempuan yang semakin lama deru napasnya semakin menjauh dari pendengaranku itu. Ibuku.

Advertisements