Berhati-hatilah dengan keinginanmu. Bila semesta berkehendak, apa pun yang kau idamkan —meskipun hanya hatimu yang tahu— bisa saja terkabul. Bersiaplah. Aku baru saja mengalaminya.

 

***

 

Seperti biasa, aku merencanakan menghabiskan sore hari di kafe langgananku. Duduk di meja yang sama, dengan pemandangan yang sama, pesanan minuman yang tak berubah sejak pertama kali ke sini, dan tentu saja, keadaan yang juga masih sama. Sendiri. Aku Kika, wanita lajang berusia 29 tahun. Di usia sematang ini, banyak yang bertanya padaku “Jadi kapan?” Aku tahu maksud mereka adalah ‘kapan menikah’. Mereka sengaja menggantungkan pertanyaan itu dengan alasan menjaga perasaanku. Empati yang basa-basi. Aku memang masih memutuskan untuk sendiri di usia ini. Masih merasa bahwa makhluk bernama pria itu adalah salah satu godaan yang akan menghancurkan karier. Aku adalah seorang manager operational di sebuah bank swasta. Merasa belum cukup dengan itu, aku masih sempat untuk menulis artikel di majalah wanita.  Menulis fiksi juga kulakukan. Dua hari yang lalu, novel perdanaku keluar di pasaran. Aku pernah mendengar celetukan salah seorang temanku, bahwa aku terlalu gila kerja hingga tak memikirkan asmara. Aku geming mendengarnya. Ada benarnya juga perkataannya. Di balik sifat cuek dan tegasku di kantor, aku adalah pribadi pemalu yang cenderung minder. Tak banyak yang mengetahui sifat asliku ini, kecuali teman-teman main semasa kecil di kampung. Aku terpaksa bersikap tegas dan sedikit cuek di kantor demi karier. Imbasnya, banyak pria yang sungkan mendekatiku.

Pernah suatu hari, salah seorang teman kantor –yang usianya jauh lebih muda dariku—menawariku untuk bergabung dengannya ke kafe selepas jam kantor. Aku menolak halus. Kukatakan padanya bahwa aku ada deadline. Ajakan serupa lebih sering kutolak daripada kuterima. Selain karena tak nyaman bergabung dengan mereka yang usianya terpaut lima-enam tahun dariku, juga karena aku tak terlalu suka dengan suasana ramai yang diciptakan oleh beberapa orang wanita jika sedang berkumpul. Ya, aku memang lebih suka menyendiri. Menikmati suasana kafe pun –seperti sore ini— lebih menyenangkan dilakukan seorang diri. Aku lebih bisa tenang dan fokus pada hal yang sudah direncanakan.

Ponsel pintarku berbunyi ‘bip’ beberapa kali. Bunyi yang menandakan ada surel masuk. Kusandarkan tubuhku di sofa kafe sebelum kubuka kotak masuk. Ada enam surat yang masuk hampir bersamaan. Empat dari teman-teman yang mengucapkan selamat atas peluncuran novel perdana tempo hari, satu surat balasan dari sahabat di Swedia dan satu lagi surat dari redaksi majalah. Kubuka satu per satu. Ada kebahagiaan yang meletup bersamaan dengan kubaca barisan huruf-huruf di depanku.  Indy, sahabatku SMA yang menetap di Swedia sejak tiga tahun yang lalu mengabarkan bahwa ia sedang hamil delapan minggu. Sebuah penantian panjang mengingat usia pernikahannya memasuki tahun keenam. Lalu kubaca surat dari redaksi majalah yang mengabarkan bahwa artikel yang kutulis setiap bulannya akan ditambah ruang. Dari setengah halaman menjadi satu halaman penuh. Ini menarik. Sisanya, surat-surat bernada pujian dan ucapan selamat atas novelku. Sore yang sempurna. Aku tersenyum kecil sembari menatap ke arah bar. Tanganku meraih udara saat seorang pramusaji beradu pandang denganku. Dengan gerakan sigap bergegas ia menuju tempatku duduk.

“Mbak Kika sudah mau pesan sekarang?” tanyanya ramah. Begitu seringnya aku ke sini membuat pramusaji dan barista mengenalku dengan baik.

Aku mengangguk.

“Kayak biasanya aja. Tambah Mix-Mushroom Wrap.”

“Baik. Green Tea Freeze satu, Mix-Mushroom Wrap-nya satu.”

Setelah kuiyakan, pramusaji itu berlalu.

Sembari menunggu pesanan datang, aku membuka-buka halaman novelku yang baru terbit, mengecek masih adakah typo dalam cetakannya. Memastikan bahwa bayiku ini lahir dengan sempurna. Perjuangan beberapa bulan menyelesaikannya seakan terbayar dengan hasil yang didapat. Dengan sampul berwarna marun, novel ini tampak menyatu sekali dengan tema yang kuusung; cinta. Sebuah tema yang sebenarnya tidak begitu kukuasai. Di usiaku yang hampir kepala tiga ini pengalaman membina hubungan dengan lawan jenisku jelas kalah dengan anak SMP zaman sekarang. Aku baru merasakan dekat dengan lelaki sekali, saat usiaku 22 tahun. Hanya dekat, tidak pacaran. Dia sepertinya memang tidak berminat menjadikanku pacarnya. Terbukti sejak pertama kali kenal hingga sebulan sesudahnya, sikapnya padaku sama saja. Memang, dia sering main ke kos. Sering juga menemaniku membeli buku. Tapi mengharapkannya memilihku masih kuanggap mimpi di siang bolong sampai saat ini. Aku segera melupakannya, setelah kudengar kabar ia telah memiliki pacar. Baru seminggu, begitu kabar yang kudengar. Hal itu kubuktikan saat tak sengaja kami berpapasan di Pasar Malam. Dia bersama pacar barunya, —gadis berambut ikal— melintas di depanku. Buru-buru aku mundur selangkah dan membalikkan badan sebelum ia tahu keberadaanku di sana. Sebenarnya aku tak perlu bertingkah sepanik itu. Tapi yah, entah mengapa aku merasakan wajahku menjadi merah seketika.

Pengalaman nol dalam urusan asmara tak menyurutkan semangatku untuk menulis novel bertema cinta. Selama ini aku selalu berkutat dengan cerita pendek dan artikel wanita dewasa, hingga suatu hari temanku menantangku untuk keluar dari zona nyaman.

“Coba deh nulis novel. Bikin dirimu tertantang. Kalau kamu cuma berani nulis cerpen dan artikel yang memang sudah keahlianmu, ya coba lebih lagi”

Begitu kira-kira kalimat yang dilontarkan Sarah, seorang teman yang bekerja di sebuah penerbit. “Nanti aku kenalin sama editor kantorku, deh. Tapi siapin dulu draft-nya. Minimal kudu bikin outline

Percakapan enam bulan yang lalu itu masih jelas kuingat. Bagaimana aku pontang-panting melakukan riset, pengamatan, bertanya sana-sini (ini kulakukan hanya kepada teman-teman yang sangat dekat denganku, tentu saja), menonton koleksi DVD bertema roman dan masih banyak lagi. Bisa dibilang dua bulan awal aku mabuk tentang teori cinta. Salah satu tempatku melakukan riset adalah kafe yang kukunjungi ini. Di sini, aku selalu mengambil meja paling pojok sehingga mataku jelas mengamati pasangan muda yang sering berkunjung di sini. Kafe ini termasuk baru, dengan konsep yang menggabungkan antara tempat makan dan toko buku membuat pengunjungnya betah berlama-lama. Setelah hampir setiap hari dalam dua minggu rajin menyambangi kafe itu, aku mulai mengenal barista dan pramusaji yang bekerja. Beberapa dari mereka tak keberatan kutanyai ini-itu tentang hubungan dengan pasangannya. Satu-dua malah ada yang sampai curhat. Tak apalah menyediakan telinga, yang penting aku bisa merangkai cerita secara nyata.

Salah satu yang kusuka dari menulis novel ini adalah menciptakan karakter utama. Karena di sini aku menjadi Tuhan, aku bebas memilih seperti apa tokoh dalam ceritaku nanti. Dan yang paling kunikmati adalah menciptakan Aldera, tokoh pria dalam ceritaku ini. Aldera harus sempurna, setidaknya di mataku. Ia, harus mewakili sosok pria yang kuidam-idamkan selama dua puluh sembilan tahun ini. Mukanya harus tampan, aku  membayangkan ia memiliki mata yang tajam,  berkulit coklat, berhidung mancung, dan bibir tipis berwarna ranum. Rambutnya ikal berantakan dan tubuh kencangnya tidak terlalu menonjol tapi terasa nyaman untuk dijadikan tumpuan pelukan. Oh iya, ia harus wangi pohon pinus. Keharuman yang sangat jantan dan menenangkan, menurutku. Wangi alam yang sangat kusuka dan selalu mengingatkanku akan tanah kelahiranku, sebuah desa di ujung bukit. Aku mereka-reka sambil mengingat-ingat aktor tampan favoritku. Gampang-gampang susah menciptakan tokoh dalam cerita yang kita buat, apalagi penilaian subjektif sebagai penulis sangat berperan. Sampai-sampai aku mengalami gangguan tidur hanya karena ingin tokohku ini adalah tokoh tampan yang hanya ada satu di dunia ini. Aku ingin nantinya orang-orang akan terkagum-kagum membayangkan betapa tampannya Aldera. Aku tersenyum. Sepertinya mendekati gila.

 

***

 

Suasana kafe masih tak terlalu ramai. Hari ini memang bukan akhir pekan, dan jam yang kupilih untuk ke sini memang bukan ‘jam ngafe’. Ini memang kusengaja. Aku ingin menikmati lembar-lembar novelku dengan sederhana. Dengan ketenangan dan suasana seperti saat aku dulu menulisnya. Alunan musik acid jazz yang memanjakan telinga semakin membuatku kembali masuk dalam lembar-lembar novelku. Aku kembali teringat Aldera. Entah mengapa, wajah rekaanku untuk tokoh novel ini benar-benar membuatku jatuh cinta. Sepertinya aku memang sudah gila. Mungkin juga ini adalah perasaan terdalam dari seorang wanita matang yang telah lama mendambakan kehadiran Mr. Right. Aku mengalun sendu di dalam novelku sendiri. Seringkali aku dibuat cemburu oleh Maya, kekasih Aldera di novel ini. Maya yang kugambarkan sebagai sosok pintar dan mempunyai kecantikan Jawa ningrat berhasil membuat dadaku bergemuruh ketika membaca ulang perjalanan cinta mereka. Aku sering tak menyadari bahwa Maya juga  rekaanku. Tokoh fiktif yang juga kukhayalkan untuk menemani Aldera membangun cerita romansa. Aku merasa gagal karena sering terbawa suasana. Sering cemburu. Mungkin benar, aku terlalu mencintai Aldera. Bagiku, menciptakan sosoknya seperti sedang menggabungkan seluruh pria tampan dari seluruh dunia dan hanya boleh aku yang menguasainya. Sisi egoisku dimanjakan. Aku ingin ia begini, mempunyai sifat itu, dengan proporsi tubuh seperti ini. Mungkin aku terlalu menghayati sosok Aldera dalam kehidupan nyata. Satu-dua lelaki yang mendekatiku mundur satu per satu. Mereka tak melihat ada respon baik dariku. Sikapku tetap biasa cenderung dingin. Aku merasa bahwa aku telah memiliki dia; Aldera. Entahlah. Sesekali kusadari kalau aku terlalu berlebihan. Seperti malam itu. Kekurangan enam halaman dari Bab Empat baru saja selesai kutulis. Menghabiskan waktu selama tiga setengah jam di depan laptop membuatku lelah. Kuputuskan untuk beristirahat sejenak. Tanganku meraih toples berisi keripik pisang saat kuamati blackberry-ku yang berkedip-kedip. Ada pesan yang belum sempat dibaca. Ada satu missed call  dari Marlon dan tiga blackberry messanger yang belum terbaca, salah satunya dari juga Marlon, lelaki yang seminggu ini rajin menanyakan kabarku. Segera kubaca pesannya sambil terus mengunyah keripik pisang.

 

18.43  Hai Ka, malam ini kosong? Aku pengen ngajak kamu ke pameran ilustrasi cerpen.

 

19.00  Haloo?

 

19.35  Mungkin lain kali saja. Tampaknya kamu sibuk. Nite.

 

Aku menghembuskan nafas cepat. Sedikit rasa bersalah membiarkannya menunggu jawabanku, tapi kupikir toh aku memang sedang sibuk tadi. Kubalas pesannya singkat. Sori, tadi nggak kedengeran. Aku lagi nulis. Lain kali ya. Kurebahkan tubuhku di sofa dekat meja tulis. Kubayangkan jika yang mengajakku ke pameran ilustrasi cerpen tadi adalah Aldera. Pasti aku akan sangat antusias. Jangankan menunggu diajak, sebelum dia meminta pun aku sudah mengangguk cepat. Aku tergelak. Sinting.

 

 

***

 

“Maaf, boleh duduk di sini?” Seorang lelaki membuyarkan lamunanku. Sosoknya tiba-tiba sudah ada di samping meja yang kutempati, menunjuk sebuah bangku kosong di depanku.  Semilir angin pendingin ruangan mengantarkan bau segar pohon pinus ke hidungku, membuatku memincingkan sebelah mata dan mencari asal bau ini. Kesegaran itu ternyata berpangkal dari lelaki di depanku. Belum sempat kujawab pertanyaannya, ia sudah mengulurkan tangannya ke arahku. Ia menyebutkan namanya sambil tersenyum. Manis sekali.  Aku tertegun beberapa detik. Entah apa yang menjejali pikiranku, tapi yang kurasakan adalah kosong. Beberapa detik aku masih menatapnya sebelum deheman pelan menyadarkanku. Aku menutup novel yang sedari tadi kubolak-balik dan membalas uluran tangannya. “Silakan. Aku Kika,” kataku sambil berusaha tersenyum natural. Kuyakin aku gagal. Alih-alih tersenyum, kurasakan aku hanya menarik kikuk sudut atas bibirku sedikit. Ah, payah! Lelaki itu kemudian duduk di depanku. Kuamati sekilas, ia tampan. Pasti ini alasannya aku jadi mati gaya. Baju yang dipakainya menandakan ia adalah orang yang sadar busana, tapi tak berlebihan. Kemeja jins belel yang bagian lengannya digulung hingga siku, tiga kancing atasnya sengaja tak ditutup. Paduannya celana model slim fit warna coklat. Tak lama seorang pelayan membawakan pesananku, Green Tea Freeze, Mix-Mushroom Wrap dan secangkir kopi tubruk. Aku memandangi dengan heran pesanannya. Bukan, bukan karena pilihan menunya , tapi aku tahu pasti bahwa jenis minuman itu tak ada dalam daftar menu kafe ini. Aku tahu, karena aku hapal sekali isi daftar menunya. Semakin merasa aneh saat kulihat cangkir yang dipakai untuk kopi tubruknya bukan cangkir kafe. Sebuah cangkir putih dengan enam huruf bergaya tribal  yang terbaca ‘aldera’. Kueja beberapa kali sekadar meyakinkan. Pria itu menatapku lekat. Senyumnya tak beranjak dari wajah tampannya. Sepertinya ia menikmati keterkejutanku.

“Ya, aku Aldera, lelakimu..” katanya, masih tersenyum. Detik itu juga, sendi-sendi di tubuhku berhenti bergerak. Mulutku menganga. Kakiku seperti melayang beberapa senti dari tempatnya berpijak. Kurasakan wajahku berubah warna. Entah merah jambu atau semburat ungu. Hidungku kempas-kempis, dadaku penuh dengan kelopak bunga yang serempak bermekaran. Semua di sekitarku mendadak berjalan lambat, lalu berputar-putar seperti masuk ke dalam pusaran. Tidak mungkin! Aldera hanya tokoh dalam novel yang tadi sempat kubaca. Novel tulisanku yang baru saja terbit!

Aldera tersenyum. Tangannya melingkar di pinggangku. Aku merasakan kehangatan bersulur-sulur merambat naik ke arah dada. Lalu membuncah. Aku sesak nafas tiba-tiba. Kucoba mengatur nafas agar kembali teratur. Tenang, Kika, tenangkan dirimu. Dia khayalan. Pastikan itu.

Kau menciptakan aku untuk mencintai Maya, tapi hatiku tak bisa berbohong. Aku mencintaimu, Penciptaku.” Bisik Aldera. Bibirnya dekat sekali dengan wajahku. Seolah-olah hanya dengan tiupan angin kecil, aku bisa merasakan kehangatan bibir itu menempel di pipiku.

“K-k-ka-a-u bisa merasakan?” Aku merasa bodoh bertanya seperti itu. Buru-buru kuperjelas, “Maksudku, apakah kau nyata?”

“Apakah kau sedang bermimpi?” Pertanyaanku dibalas dengan pertanyaan. Sejujurnya aku bingung dengan keadaanku saat ini. Aku seperti ada di dunia yang samar, antara mimpi dan nyata. Susah membedakan mana situasi asli.

“Jadi, maukah ikut denganku?” Disodorkan telapak tangannya ke arahku sebagai ajakan. Entah ajakan ke mana, tapi aku menurut saja. Kabut tipis berwarna oranye muda menguar masuk melalui pintu depan kafe sebelum Aldera mengandengku keluar. Aku tak melihat orang lain di sekitarku —tapi aku ragu, mungkin aku tak memperhatikannya. Semua terpusat pada Aldera.

Kabut oranye muda itu berubah pekat, lalu warna-warna lain mulai bergabung. Merah muda, biru keunguan, hijau. Semua membaur. Lalu aku tak ingat lagi. Yang kurasakan hanya satu; bahagia.

 

***

 

Seorang pramusaji tertegun di sebelah meja pojok sebuah kafe. Matanya menatap lekat ke arah sebuah novel yang teronggok di antara kaki-kaki kursi. Bagian tengahnya terbuka lebar. Sisa-sisa asap warna-warni masih melayang samar di atasnya.

 

Yogyakarta, 26 Januari – 2 Februari 2013

Advertisements