depressionKedua tangannya yang dekil menggaruk-garuk kepala dengan kasar. Ia tampak meraung-raung serupa anak kecil meminta mainan kepada ibunya. Berkali-kali mulutnya bergumam cepat seperti sedang merapal mantra pengusir hantu. Setelah sekitar lima menit kutajamkan pendengaran, baru aku tahu kata apa yang disemburkan mulutnya. Iya, hanya satu kata yang diucapkan berulang dengan cepat; maaf.

 

***

 

Namanya Kang Seno. Begitu ia biasa dipanggil. Usianya tiga puluhan akhir, tapi dengan janggut dan rambut setengah beruban awul-awulan seperti itu ia tampak tujuh tahun lebih tua. Aku melihatnya beberapa kali  di rumah kerabatnya, Pakde Jarno, seorang penjual kelontong di kampungku. Aku sering ke warung kelontong Pakde Jarno karena ibu rutin menitipkan jajanan pasar di sana. Kali ketiga aku melihat Kang Seno,  kuberanikan diri bertanya pada Pakde Jarno. Tak perlu banyak pertanyaan lanjutan untuk mendapatkan cerita panjang dan lengkap. Pakde Jarno selayaknya guru sejarah yang bercerita secara detail mengenai Kang Seno.

Jadi cerita versi Pakde Jarno, keadaan Kang Seno menjadi seperti itu karena penyesalan yang teramat sangat. Istrinya meninggal karena tabrak lari di hari mereka bertengkar hebat. Retno—nama istrinya—hendak minggat ketika kejadian itu. Ia tersinggung karena dituduh selingkuh oleh Kang Seno. Malang tak dapat ditolak, sebuah sedan dengan kecepatan tinggi melambungkan tubuh rampingnya ke udara, untuk kemudian membantingnya ke aspal panas. Kang Seno yang tahu kabar istrinya menjadi korban tabrak lari langsung menuju TKP. Ia meraung-raung sejadi-jadinya. Sebenarnya, ia lah yang berselingkuh. Untuk menutupi kesalahannya, ia melindungi dirinya dengan menuduh Retno. Apalagi ia pernah memergoki SMS asing di inbox ponsel istrinya. Kutunggu jam lima, begitu pesan yang tertulis. Merasa punya senjata untuk bertahan, Kang Seno langsung memuntahkan amarahnya.

“Itu SMS dari siapa? Kamu janjian sama siapa, huh?” Pertanyaan bertubi langsung diserangkan. Telak. Retno yang sedang memoleskan gincu terdiam sejenak. Matanya mendelik sedikit tanda kaget. Ia barangkali tak menyangka suaminya membaca SMS yang masuk di ponselnya.

“Jawab!” bentak Kang Seno. Tangannya menggebrak meja rias. Retno bergidik ciut.

“Itu..itu.. Sari, Kang. Teman kerja.” Retno menjawab tergagap.

“Ah, alasan. Pasti lelaki lain. Pasti.” Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipinya. Retno menahan airmatanya tumpah. Bibirnya bergetar. Bahunya naik turun.

“Mas! Aku muak dengan sikapmu yang makin ringan tangan. Aku mau pergi!” Retno menyambar tasnya dan melesat pergi.

Setengah jam kemudian istrinya sudah terbujur kaku. Wajahnya yang jelita lebam dan koyak oleh aspal. Kepalanya berdarah. Kang Seno meraung-raung di jalanan sambil memeluk istrinya. Orang-orang yang hendak memberikan bantuan diusirnya. Minggir! Ini istriku! Begitu bentakan Kang Seno terhadap warga. Beberapa orang tampak iba. Beberapa lainnya bersikeras memisahkan pasangan suami istri ini untuk dibawa ke rumah sakit. Kang Seno tentu saja meronta. Tangisnya semakin pecah seakan tak rela istrinya dibawa orang lain. Rasa bersalahnya mulai tumbuh subur di dada selayak lumut di musim penghujan.

Bagaimana ia tak menyesal, Retno adalah wanita tercantik yang pernah jadi kekasihnya. Mantannya yang dulu, tak pernah lebih cantik. Retno juga sopan. Bicaranya halus, dengan suara yang ringan melayang. Ia merasa beruntung—lebih beruntung lagi karena Retno mau dipersuntingnya. Ya, memang. Tapi itu terjadi hanya selama dua tahun pernikahan. Ibarat minum air laut, ia terus merasa haus. Kang Seno yang sebenarnya tak juga cukup tampan –tapi punya kemampuan memikat wanita nomer satu—mulai berselingkuh. Ia kecewa dengan Retno yang dianggapnya mandul. Itu alasan yang terlontar. Lalu apakah selingkuh menjawab kekecewaannya? Tentu saja tidak. Ia hanya butuh alasan untuk kebiasaan buruk masa mudanya, main wanita. Itu saja. Lalu, setiap kali gelagatnya hampir tercium istrinya, Kang Seno buru-buru mencari tameng. Tuduhan balik jadi senjata ampuh. Pekerjaan Retno sebagai sales kosmetik yang sering dapat shift malam di supermarket sering dijadikan alasannya untuk memutar balik fakta. Retno lebih banyak diam. Ia tahu suaminya sedang mencari alasan untuk menutupi kesalahannya sendiri.

Aku menatap Kang Seno yang tengah duduk memeluk lutut di ranjang beralas tikar. Cerita dari Pakde Jarno baru saja selesai. Aku sengaja tak bergegas pulang seperti biasanya. Kali ini aku ingin melihat Kang Seno lebih lama. Ingin menerawang seperti apakah beban berat berupa maaf yang tak sempat terucapkan. Lelaki itu terus bergumam. Mulutnya seperti penuh dengan ratusan lebah yang berdengung. Matanya yang kering tampak sayu menatap udara. Tangisnya sesekali pecah tapi tak lagi ada air mata. Mungkin sudah tumpah terlalu banyak.

***

Dasar lelaki kampret. Aku harus kehilangan nyawa karena dia. Andai saja ia tak menamparku tadi, pertengkaran itu pasti kuanggap biasa saja. Kami selalu bertengkar akhir-akhir ini, jadi aku tak  kaget. Tapi tentu saja aku kesal dengan sikapnya. Bukan, aku bukan kesal karena ia menuduhku berselingkuh, bukan itu. Aku memang selingkuh. Hanya saja, aku tak menyangka ia bakal tahu itu. Emm, kupikir sebenarnya ia tak tahu. Ia hanya asal menebak karena membaca SMS yang dikirim Mas Pri siang tadi. Bodohnya aku tak langsung menghapus setelah membacanya tadi. Tapi masih untung sih, nomernya tak kuberi nama. Jadi aku masih bisa berkelak kalau SMS itu dari Sari, teman kerjaku.

Tapi aku masih kesal! Dasar laki-laki mandul. Ia menuduhku yang tak bisa memberikan keturunan padanya. Cih. Laki-laki egois itu tak pernah mau kuajak periksa ke dokter. Aku hanya mau membuktikan, siapa yang sehat. Enak saja main tuduh. Aku juga tahu sebenarnya ia selingkuh. Kemeja kerjanya sering tercium bau parfum wanita. Alasan meeting kantor juga sering mengada-ada. Kubiarkan saja tabiatnya, toh aku juga punya Mas Pri. Yah walaupun ia juga suami orang, tapi ia bisa membahagiakanku. Itu yang kubutuhkan. Bahagia. Prek lah kalau ada yang bilang bahagiaku ini sesaat. Biar saja.

Aku masih geram dengan lelaki itu. Ia tentu tak pernah tahu bagaimana sakitnya ditabrak mobil yang melaju kencang. Tubuhku melayang dua meter sebelum jatuh ke aspal. Itu sakit sekali! Kepalaku benyok. Darah mengucur. Aku memang sedang mengirim SMS ke Mas Pri minta dijemput lebih awal ketika menyeberang tadi– sebelum mobil brengsek itu melemparku. Salahku? Aku tetap menyalahkannya. Tak mau tahu.

Kalau dilihat dari sini –jauh di atas sini, suami sialan itu kini jadi gila. Dengar-dengar sih, ia seperti itu karena menyesal dengan perbuatannya padaku. Aku memang yang membuat keadaannya begitu. Beberapa menit setelah nyawaku tercabut dari raga, aku langsung memikirkan cara untuk membuatnya menderita. Kuputuskan merasuki otak dan batinnya dengan bayangan diriku yang sempurna. Dengan kecantikanku, dengan citra baikku, juga segala yang pernah membuatnya jatuh cinta dan kemudian menyesal pernah semena-mena. Cukup puas? Tentu belum. Suami sialan itu harus lebih menderita. Cukup menderita saja, jangan sampai mati.  Lagi pula kalau dia mati lalu menyusulku  di sini, aku  tak akan pernah mau bersanding dengannya lagi. Sungguh tak sudi. Aku muak. Pokoknya, ia harus membayar mahal untuk mimpi-mimpiku yang kurancang selama ini dan kandas. Untuk segala kebahagiaanku di dunia yang belum sempat kurenggut semuanya. Oh iya, juga kebahagiaan jabang bayi di perutku ini.

Advertisements