1.

Lelaki itu duduk di beranda. Pandangannya jauh melampaui apa yang ada di depannya. Ia seolah melihat masa depan. Ditambah, di tangannya tergenggam foto wanita berbingkai perak. Mungkin kekasihnya.

2.

Perkenalannya dengan wanita itu terjadi tak sengaja. Ia sedang mencari sebuah pematik api kuno dan kebetulan si wanita menjualnya. Itu terjadi di toko barang antik. Ia mengetahuinya melalui iklan di majalah.

3.

Pertemuan dirancang dan di hari mereka bertemu ternyata tak seperti transaksi penjual dan pembeli. Lebih. Lelaki itu jatuh cinta. Si wanita menanggapinya dengan senyum malu nan misterius.

4.

Hari-hari selanjutnya, status mereka bukan lagi penjual dan pembeli. Mereka sepasang kekasih. Sampai pada suatu malam..

5.

“Aku sudah bersuami.” Sebuah kalimat pendek keluar dari mulut mungilnya. Mereka usai bercinta malam itu. Seperti upper cut, lelaki itu hampir terhuyung jatuh. Bodohnya aku tak mencari tahu asal-usulmu, begitu gumamnya.

6.

“Kau marah padaku?” Wanita itu bersandar di dada lelaki itu. Hati-hati. Ia bisa mendengar suara gemuruh yang ada di sana  “Percuma. Aku terlanjur jatuh cinta padamu.”

7.

Hubungan antara mereka terus berlangsung. “Setiap hari aku semakin mencintaimu. Begitu besar. Sebesar benciku pada malam yang mengantarkanmu kembali ke pelukannya..” Lelaki itu nanar menatap wanitanya. Sebuah kecupan didaratkan di bibirnya. Lama.

8.

Sebulan setelahnya, si wanita harus pindah mengikuti suaminya ke luar negeri. “Aku tetap mencintaimu. Kau telah memiliki hatiku..” Matanya merah. Nafasnya berat. Seberat langkah kakinya pergi.

9.

Berbulan-bulan setelah itu, si lelaki terus menunggu kabar dari wanitanya. Ia tak berani berkirim surat karena tak mau salah penerima. Itu akan membahayakan wanita yang dicintainya.

10.

Dalam tunggu, ia senantiasa memupuk rindu dengan kenangan manis saat mereka bersama. Dilipatnya kertas segi empat menjadi burung-burung. Diberinya makan kenangan. Lalu diterbangkan. “Aku mendoakanmu. Itu salah satu caraku menuntaskan rindu.”

11.

Setahun berlalu. Burung-burung kertas semakin gemuk oleh rindu. Waktunya mereka terbang ke tempat yang dituju. “Setia memang pekerjaan paling baik dan langka. Hanya saja orang lain menyebut pekerjaan itu bodoh.”

12.

“Aku masih mengingatmu. Pun mencintaimu. Terima kasih untuk burung-burung gemuk yang kau berikan untukku..” Wanita itu menele

image

pon pertama kali di bulan Juli pada tahun kedua mereka berpisah. “Mereka kuberi makan rindu. Kau tahu itu..” Lelaki itu berusaha menahan ledakan di dadanya. “Aku tahu. Tapi benarkah kau masih menungguku? Tidakkah kau berpikir untuk…” Kalimatnya terputus oleh isak tangisnya sendiri. Di ujung telepon, lelaki itu menarik nafas dengan berat. “Aku tahu, aku harus beranjak. Tapi kita tak akan pergi. Kita ada di sini.” Lelaki itu memukul-mukul dadanya sendiri. Entah apakah wanitanya tahu, tapi di ujung sana terdengar suara tangis yang pecah.

Advertisements