Aku melihat angka digital yang ada di layar ponsel. Jam menunjukkan pukul 15.10, itu artinya masih ada sekitar 2 jam lebih sebelum bisa menikmati senja.

Hari itu, kami berempat memang berniat berburu senja di kawasan Candi Ratu Boko. Konon kalau cuaca sedang bagus, senja di sini memesona. Dengan ketinggian 196 meter dari permukaan laut memang diharapkan bisa menangkap bulatan oranye cakrawala yang tenggelam secara landscape. Cuaca masih sangat panas untuk ukuran waktu yang sudah bisa dibilang sore. Kami memutuskan untuk berkeliling kompleks candi buatan kerabat pembuat Candi Borobudur ini dulu. Tak banyak spot menarik memang. Apalagi di sini tak ada guide dan informasi dari papan yang bisa dibaca pun juga jauh dari memuaskan. Ketiga teman yang kebetulan travel blogger tanpak lebih sibuk menangkap momen yang bertebaran. Apa saja. Belakangan baru tahu kalau mereka beberapa kali candid ke arahku. Hih. Beraninya sembunyi-sembunyi. Kan nggak bisa pose! πŸ˜›

Setelah kurang lebih dua jam menjelajah isi kompleks candi, potret sana-sini, ngelamun, galau, jongkok, kayang dan goyang Bang Jali akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke tujuan semula; menangkap senja. Untuk itu harus kembali ke tengah kompleks, di mana ada gapura dan candi Ratu Boko. Okesip. Terlihat dari jauh sudah banyak turis asing dan lokal yang punya tujuan yang sama. Mereka berpasangan atau bergerombol. Cemen, sih, nggak berani sendirian. πŸ˜›

Aku memilih memisahkan diri dari teman-teman. Menikmati senja buatku ada syaratnya. Kalau bukan sama kekasih ya mending sendiri. Teman cewek masih oke, tapi jangan teman cowok. Mereka bakal menghancurkan momen! Hahaha..

Aku merebahkan diri di hamparan rumput yang masih sepi. Jaraknya agak jauh dari kategori tempat mengincar senja paling pas. Tak apa, toh aku bakal lebih sering menikmatinya dengan mata dan memori ketimbang kamera. Sembari membenarkan letak dudukku, aku melihat sekeliling. Beberapa langkah samping kiri ada serombongan turis Italia. Mereka anteng selonjoran di rumput. Sesekali saling menggelitik perut. Dih. Bule juga main begituan yak. Kirain agak elit! πŸ˜› Beberapa langkah di depan ada pasangan dari Korea. Di sebelahnya ada pasangan lokal. Sepertinya mereka sengaja duduk di depanku untuk membuat level galau meningkat pesat. Pufft. Ada yang menarik dari pasangan Korea itu. Si perempuan terlihat seperti anggota girl band yang sedang liburan. Dandanan juga pose fotonya mengingatkanku pada Tiffany SNSD. Si pria, nah, ini biasanya yang bikin sirik. Tampangnya jauh dari ganteng. Untung level ‘biasa-biasa saja’pun si mas Korea ini nggak masuk. Tubuhnya kerempeng dengan dandanan ala kadarnya. Sangat kebanting dengan perempuan girl band itu. Oke, aku nggak akan melanjutkan deskripsi ini. Ada yang lebih menarik perhatian; bagaimana si perempuan bisa akhirnya jatuh cinta pada pria itu. Dari polah tingkahnya terlihat si perempuan sangat nyaman dengannya. Bahkan terlihat sangat sayang. Gesture dan rengekan manja kerap kali muncul. Si pria menimpali dengan senyum sembari mengusap kepala kekasihnya. Beuh! Yang di belakang ini yang malah gemes, mamen. Aaaergh!

Untuk kasus seperti ini banyak yang berpendapat bahwa si pria pasti orang kaya. Seseorang yang berlimpah harta. Itulah mengapa perempuan punya alasan untuk bersamanya. Bersama, bukan cinta. Mungkin ini bisa terjadi pada pasangan Korea di depan. Tapi coba mari kita abaikan kasus itu sejenak. Dilihat dari outfit yang dipakai lelaki Korea itu, ia tak menunjukkan seseorang yang berlebih soal harta. Baiklah, mungkin itu pendapat sotoy. Bisa jadi pria itu orang yang sederhana atau orang kaya yang tak peduli fashion. Beda dengan kekasihnya yang modis dan tampak fashionable. Lalu apa yang dicari dari seseorang yang ‘biasa-biasa saja’ saat perempuan lain masih mengutamakan fisik (dan mungkin materi) sebagai hal utama?

Jika kau tak perlu berusaha keras agar dicintai tapi kau dipenuhi cinta olehnya, sejujurnya itu adalah cinta yang sebenarnya.

Kenyamanan. Pada akhirnya apa yang dicari dari sebuah hubungan adalah rasa nyaman. Materi, fisik dan hal-hal yang bersifat duniawi pasti jadi percuma kalau tak ada kenyamanan.

Aku tersenyum melihat polah tingkah mereka. Berkali-kali mereka mencoba mengabadikan momen berdua sendiri.

“May i help you?” Aku beranjak dari tempat duduk. Kuhampiri mereka.

“Oh, sure.” Pasangan itu tersenyum padaku sambil mengangguk, “Just push it.” Si Pria Korea menunjukkan tombol pada kameranya. Aku mengangguk. Tanpa canggung mereka berganti-ganti gaya. Mumpung ada yang motoin, mungkin itu yang ada si benak mereka. πŸ˜›

“Oke, it’s enough. Thank you. You are nice!” Si Perempuan mengangguk padaku. “You’re welcome.” Aku melambaikan tangan.

“Hei, di sini kamu rupanya. Udah hampir senja tuh. Nggak siap-siap?” Teman seperjalanku menghampiriku. Ia langsung mencari tempat yang pas untuk membidik senja. Aku melihat ke arah barat, bulatan berwarna jingga sudah semakin condong ke arah bumi. Puluhan kamera terlihat mengabadikan aksinya sebelum hilang.
image

Advertisements