Hal baik datang kapan saja, di mana saja dan dari siapa saja

image

Sekitar Plengkung Wijilan, 6:10 WIB

Plamit nggih, Mas..”

Suara ramah dari seseorang menyadarkanku yang sedang selonjoran di trotoar. Rasa lelah setelah menyelesaikan empat kali putaran alun-alun membuat badanku membutuhkan sedikit istirahat. Kepalaku mengikuti arah datangnya suara. Seorang bapak berkaos kuning tengah memegang gagang sapu panjang berdiri di depanku. Melihat gesture-nya spontan aku berdiri. Aku tahu bahwa trotoar tempatku duduk ini akan dibersihkannya. Melihat reaksiku, bapak itu kembali minta maaf.

“Maaf ya, Mas, istirahatnya terganggu..” Seraya tersenyum ia mulai mengayunkan sapunya. Daun-daun kering, sampah plastik dan debu membaur. Aku mengambil jarak. “Nggak papa, Pak. Saya yang menghalangi.”

“Habis olahraga ya, Mas? Wah sehat sekali. Bagus itu..” Aku mengangguk sambil menyeka keringat. Bapak itu kembali menimpali, “Kebiasaan bagus itu memang harus dibiasakan, Mas. Biar kita terbiasa. Kalau udah gitu pasti enak ngelakuinnya,”

Obrolan kami mulai bergulir.

Namanya Tono. Dia menjadi petugas kebersihan baru lima bulan setelah di-PHK dari pabrik tempatnya bekerja sebelumnya. Ia bersyukur masih bisa bekerja sekarang, meskipun harus bangun lebih pagi dan berhadapan dengan debu. Setidaknya ia jadi menghargai hal-hal kecil yang sebelumnya luput dilakukannya.

“Saya dulu jorok, Mas. Mana pernah kepikiran buang sampah di keranjang sampah. Pokoknya habis makan, buang.” Ia tergelak mengingat kebiasaan buruknya. “Pas udah jadi begini saya baru sadar kalau buang ya harus di tempatnya. Saya prihatin kalau liat cah enom buang sampahnya ngawur, tapi ya gimana lagi, saya nggak bisa koar-koar. Lha wong dulu saya juga gitu.”

kadangkala kita baru bisa menghargai sesuatu saat kita berada di dalam keadaan serupa

“Saya juga sekarang suka bangun pagi. Awalnya ya karena keharusan. Lama-lama kebiasaan. Sekarang, saya bisa ngajarin anak saya bangun pagi.”

Daun-daun kering yang terkumpul di pojok trotoar sudah berpindah tempat ke gerobak sampah berwarna kuning. Sampah plastik ia pisahkan di dalam plastik kresek berukuran besar.

“Kalau ada hal baik yang kita belum mampu lakukan, paksa aja. Ndak papa. Dari terpaksa lalu terbiasa, nanti lama-lama jadi rutinitas.” Pak Tono memasukkan sapunya di dalam gerobak. Ia tampak bersiap pulang. Ah benar juga. Aku jadi ingat sebuah kutipan yang pernah kubaca.

(good) habit is power

“Mas, saya pamit dulu. Bentar lagi saya harus nganter anak sekolah. Monggo..” Gerobak kuning itu perlahan menjauh. Kulihat jam tangan karet yang melingkar di tangan kiri. Ah, sudah pukul setengah tujuh. Aku pun harus pulang dan bersiap ke kantor. Pagi ini sungguh menyegarkan. Bukan hanya karena berolahraga, tapi juga karena hal positif yang didapat dari seseorang yang baik.

Advertisements