image

Aline mengedarkan pandangannya. Matanya tak pernah berhenti lebih dari semenit di stasiun kereta ini. Kekasihku ada di sini untuk mengantarku kembali ke Jakarta. Libur tiga hari telah usai, waktunya kembali kepada realita

“Apa yang kau lihat?” Aku menggeser badanku lebih dekat dengannya. Puluhan manusia yang tumpah ruah di ruang tunggu ini membuat suasana bising.

“Kesedihan.” Aline menjawab pendek.

“Maksudmu?” Aku tak begitu paham dengan jawabannya. Aku ikut mengedarkan pandangan. Kulihat sekeliling. Di depanku sepasang kekasih sedang sama-sama menunggu kereta. Tangan mereka bertaut seperti truk gandeng. Lima langkah di kiriku ada keluarga yang –sepertinya– sedang melepas anak lelakinya merantau. Gelak tawa dan sesekali canda terdengar lepas. Lalu, apa yabg dimaksud dengan ‘kesedihan’ versi Aline?

“Di balik tawa dan senyum yang terlihat, sebenarnya mereka sedang menaklukkan kesedihan. Tak ada yang menyukai perpisahan, kau tahu.” Aline membaca kebingunganku.

“Ya, aku tahu. Tapi bukankah perpisahan adalah pertemuan dalam bentuk lain?”

“…. tapi siapa yang mau berjarak dari orang yang disayang?” Aline menyambar kalimatku. Kulihat wajahnya. Aku tahu dia belum mau aku pulang ke Jakarta. Usia hubungan kami yang baru tiga bulan dan dilalui dengan LDR membuatnya tampak selalu sensitif soal perpisahan.

“Aku pasti kembali. Aku ke Jakarta bukan untuk pergi, bukan juga pulang. Rumahku di sini. Kamu.” Kugenggam tangannya. Kuyakinkan padanya bahwa melonggarkan jarak adalah satu cara agar cinta tetap hidup. Ada saatnya nanti merayakan pertemuan. Tidak lah menyenangkan jika pesta dilangsungkan setiap saat, sepanjang hari? Jeda membuat semuanya jadi bergairah.

Aline akhirnya tersenyum meskipun air mukanya tak banyak berubah. Kuusap acak rambutnya.

“Cinta yang hebat tidak tumbuh pada kebahagiaan saja. Ia tumbuh melalui segalanya; kesedihan, suka cita, air mata, derai tawa, kecewa, pertemuan dan perpisahan.” Aline mengulang kalimat yang pernah kusampaikan padanya. Aku tergelak. “Tuh masih ingat.” Kusentil hidungnya yang bangir. Sebuah pelukan didaratkannya di tubuhku.

Tanda peringatan bahwa kereta akan segera berangkat terdengar di udara. Beberapa calon penumpang tampak bergegas masuk ke kereta. Sebagian lain terlihat enggan merenggangkan pelukan. “Ini hanya jeda, bukan perpisahan.” Aku berbisik sesaat sebelum melepaskan pelukan. Aline tersenyum. Kali ini wajahnya tampak lebih lega.

Kereta bergerak perlahan. Lambaian tangan penumpang mengiringinya menuju kota tujuan yang kelak juga akan ditinggalkan –untuk kembali pulang.

*picture taken from farm4.staticflickr.com

Advertisements