Aku akan selalu ingat hari ini. Hari di mana dendam menahun ini akhirnya terbalaskan.

***

“Ayah dan Ibu akan ke rumah bibi di Selatan. Mungkin besok malam baru sampai rumah. Kau tak apa sendirian?” Ayah menghampiri Silla yang sedang menonton tv. Ayah tak menawarinya ikut karena Silla sedang terkena campak.

“Tak masalah, Ayah. Toh ada Kimi yang bisa jagain.” Silla mengelus badan anjing berjenis Siberian Husky yang baru tiga bulan jadi anggota keluarganya. Kimi –anjing betina itu tampak nyaman. Sesekali matanya terpejam.

“Istirahat lah. Nggak baik terlalu banyak nonton tv.” Ayah beranjak mematikan tv. Itu artinya dia meminta untuk ke kamar. Silla menuruti meskipun setengah hati.

“Hati-hati, Yah, Bu..” Sebuah kecupan mendarat di keningnya. “Nanti Ibu telpon dua jam lagi. Istirahat ya..”

Pintu depan ditutup. Suara mobil menjauh. Kimi berputar-putar di depan pintu, ekornya berkibas-kibas.

***

Sebenarnya namaku Magda. Aku meninggal beberapa bulan lalu. Tunggu, kuralat. Dibunuh. Ya, aku sebenarnya dibunuh. Pelakunya adalah lelaki yang dulu sangat kucintai. Ia lebih memilih bersama perempuan sialan yang menurutnya lebih layak dijadikan istri ketimbang aku yang lebih cerewet. Ia memutus secara sepihak sesaat setelah makan malam yang kukira akan menjadi romantis itu. Lalu, seperti dugaanmu. Aku lebih memilih mengakhiri hidupku. Tapi tetap saja, aku menganggap ia yang membunuhku.

Hari ini mungkin adalah hari kemenanganku. Bayangkan, aku harus menunggu tiga bulan untuk satu kesempatan ini. Ti-ga bu-lan. Waktu yang sangat lama untuk sebuah dendam yang harus segera dilampiaskan. Seperti bisul di pantat, ia akan terus mengganggu hari-harimu.

Harus hari ini.

Harus.

Aku bosan terus berpura-pura.

Bisikan di kepalaku terus berdengung. Jantungku berdetak lebih cepat. Kapan lagi? Ambil kesempatan ini!

Mengendap, aku masuk ke kamar Silla. Keluarganya yang mengadopsiku untuk hadiah ulang tahunnya. Ia sangat menyayangiku, aku tahu itu. Kupastikan ia tidur nyenyak agar pelampiasan dendam ini berjalan lancar.

Aku melompat di atas selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Menatap Silla sesaat. Haruskah aku membangunkannya?

“Kimi…,” Silla mengangkat kepalanya sedikit di atas bantal melihatku berdiri di depannya. “Kenapa kamu?” Ah, rupanya ia terbangun karena aku terlalu bersemangat. Ekorku yang bergerak riang tentu tak bisa kusembunyikan.

Sekarang! Suara di kepalaku kembali memerintah. Apa yang kau tunggu? Bukankah saat ini yang kau tunggu dari dulu? Aku-yang-ada-di-kepalaku kembali mendesis.

“Kimi… sini.” Tangan Silla merentang. Aku menghambur ke pelukannya tanpa ragu. Sebuah kilat melintas di mataku, disusul jeritan panjang Silla yang merasakan nyeri di lehernya.

Terus! Terus! Dia layak membayarnya.

Warna merah dan bau anyir seketika meruak di kamar berbaur dengan bantal dan tubuh Silla yang koyak. Nafasku terengah. Moncongku penuh darah.

Bagus. Dendamku terbalaskan. Sekarang saatnya aku pergi dari anjing ini, perintahku sendiri.

Kimi terlihat mengejang lalu merintih. Sesaat setelah sadar, lolongannya langsung memenuhi siang.

Advertisements