image

Gadis kecil berjilbab putih itu terus memegang erat tangan ibunya ketika menemuiku. Wajahnya sendu tapi ada keingintahuan yang besar di sana.
“Sini masuk kelas sama kakak.” Aku melambaikan tangan seraya mendekatinya. Ibunya mengangguk ke arah gadis kecil itu. Ini kali kedua aku menjadi volunteer di program dua mingguan Sekolah Berjalan dari komunitas Book For Mountain. Kali ini, desa yang kami sambangi adalah Nglepen, sebuah perkampungan dengan rumah-rumah berbentuk setengah bola. Orang-orang menyebutnya rumah teletubies. Perkampungan ini dibangun untuk merelokasi warga dari dusun Sangir yang saat gempa 2006, perbukitan tempat kampung mereka berada ‘ambles’ hingga sedalam 6 meter lebih.

image

Gadis kecil itu menarik tangan ibunya masuk ke dalam teras yang aku jadikan kelas.

“Namanya siapa?” Sambil mengumbar senyum aku mendekatinya. “Puti.” Jawabannya pendek dan nyaris tak terdengar. Aku harus membungkuk dan mengulang tanya untuk memastikan. “Puti, sini masuk kelas. Ibunya biar masak di rumah. Banyak kok temennya di sini. Ya?” Puti tak menjawab. Ia menoleh ke arah ibunya, seakan mencari sesuatu. Barangkali ada keberanian yang bisa didapat dari sorot mata ibu. “Ada mase kok..” Ibu Puti tersenyum sambil menunjuk ke arahku. Aku menggandeng Puti masuk ke dalam. Anak-anak yang lain tampak berlarian ke sana kemari.

“Tepuk sambal!” Teriakku di depan mereka. Salah satu cara agar anak-anak kembali fokus ke dalam kelas adalah mengintruksikan sesuatu. Berhasil. Mereka yang tadinya sedang bermain gulat, bergosip dan melamun akhirnya bersama-sama melakukan ‘tepuk sambal’ dengan riang.

Hari itu aku kebagian tugas menjadi kakak guru untuk kelas 2-3 SD. Karena Sekolah Berjalan ini sistemnya moving class, jadi aku hanya mendapat waktu satu jam. Sisanya aku akan mengantar mereka ke kelas-kelas lain yang ‘tersembunyi’ di antara pekarangan.

Waktu yang tak banyak ini kugunakan untuk membagikan kertas gambar pada mereka. Beberapa kotak krayon kusebar di beberapa kelompok.

“Kita nggambar apa, kak?” Anak lelaki bernama Timur bertanya kearahku. “Bebas. Kali ini kalian bebas gambar apa saja.” Beberapa tampak antusias, beberapa tampak bingung. Aku mendekati Puti. Dia masih menggenggam kertas kosong meski teman-temannya sudah mulai menggambar.

“Puti mau gambar apa?” Aku bertanya sembari mengambil kertas kosong lainnya dan sebatang krayon biru. Tanpa menunggu jawabannya, aku mulai menggambar dan bercerita. “Kakak mau gambar laut. Kakak nggak bisa berenang tapi suka main air..” Aku melirik ke arahnya. Ia tampak memerhatikan setiap goresanku. Dua menit kemudian gambarku selesai. Kutunjukkan padanya sembari berbisik, “Yang tahu kakak nggak bisa berenang cuma kamu. Jangan bilang-bilang ya..” Alis mataku sengaja kumainkan naik-turun. Puti tersenyum. Ajakan ber-high five disambutnya malu-malu.

“Oke sekarang giliranmu menggambar. Apapun. Nanti cerita ke kakak ya. Kakak nggak bilang siapa-siapa deh..” Aku mengedip sekali. Puti mengangguk dan mulai menggoreskan warna.

image

“Kak..”
Tiba-tiba Puti menarik ujung bajuku. Aku menoleh. “Ya? Udah selesai gambarnya?” Puti tak menjawab pertanyaanku tapi kembali menarik ujung bajuku. Sepertinya ia memintaku untuk berjongkok. “Ada apa?” tanyaku lembut. “Boleh ditambahin tulisan?” Puti berbisik malu-malu. Aku terkekeh. “Boleh dong. Kenapa nggak?” Jawabanku langsung disambut senyum riang olehnya. Spidol berwarna merah jambu dipakainya untuk menulis ‘surat’.

Sambil menunggu anak-anak mengumpulkan tugas gambarnya, aku berbincang-bincang dengan beberapa orang tua yang ada di sana. Salah satunya adalah ibu Puti yang menyempatkan diri menengok keadaan gadis kecilnya. “Saya khawatir dia merepotkan, Mas..” jawab ibu itu ketika kutanya, kenapa harus bolak-balik meninggalkan pekerjaan rumah untuk menengok Puti. “Puti anak yang pintar kok, Bu. Dia hanya sangat pemalu.” Si ibu lalu bercerita bahwa Puti menjadi anak yang pemalu dan rendah diri karena ia sering diejek teman-temannya. Keterlambatan kemampuan membaca dan menulis membuatnya sedikit tertinggal. Aku menghela nafas. Perbedaan lagi-lagi masih belum bisa diterima luas di masyarakat.

Satu jam berlalu. Satu per satu anak-anak di kelasku mengumpulkan tugas gambarnya. Kecuali Puti. Ia keberatan gambarnya kuminta. Alasannya, untuk ibu. Aku tersenyum. Sambil berjongkok aku bilang padanya, “Itu ada ibu. Sana kasih ibu..” Aku menunjuk seorang wanita paruh baya di luar pagar. Puti menghambur keluar. Sesaat kulihat ia memeluk ibunya dan memperlihatkan hasil gambarnya. Mereka tersenyum. Si ibu menoleh padaku. Setengah berteriak ia berkata, “Suwun nggih, Mas!”

Selalu ada cara membantu seseorang menemukan dirinya. Mungkin dengan menjadi telinga dan memberikan kepercayaan padanya

Pictures taken from Book For Mountain collection

Advertisements