Mari sini, duduk di sampingku. Kita berlatih cara kehilangan. Genggam jemariku lalu lepaskan. Lakukan berulang kali hingga rasa sakitnya hilang.*

image

Aku melirik arlojiku. Sudah sepuluh menit berlalu dari waktu yang kita sepakati. Kubaca ulang pesan singkat yang kau kirimkan dua hari lalu.

Kita ketemu di tempat biasa, jam empat sore. Semoga kamu tak keberatan. I miss you

Keberatan? Bisa apa aku menghadapi ajakanmu? Sekadar menyetir perasaan untuk mengabaikan pun tak bisa. Buat apa? Kau sudah memberikan keputusan. Kenapa harus bertemu lagi? Aku bisa saja menjawab dengan rentetan kalimat itu, tapi ah sudah lah. Logikaku masih tumpul.

Setelahnya, berlatihlah menghapus kenangan pelan-pelan, dengan berpura-pura lupa. Sederhana saja. Semisal pura-pura lupa panggilan sayang

Di luar hujan deras. Aku makin pesimis kau akan menepati janjimu. Kopi hitam di dalam cangkirku telah berpindah setengahnya ke perut. Di dalam kafe langganan kita ini, kenanganku dipaksa keluar. Derai hujan yang semakin deras menguarkan satu demi satu potongan gambar di benakku. Memaksa ingatan untuk kembali pada masa yang seharusnya telah terkubur dalam peti kayu bergembok sebelas.

Ketika semuanya terbiasa,Ā  katakan padaku. Tak perlu tergesa. Kita coba melakukannya bersama-sama. Siapa yang lulus dulu, ia boleh memutuskan.

Aku mencintaimu, itu katamu dulu. Aku ingat sekali, kau membisikkannya di sofa warna hijau di bagian dalam kafe. Aku tak menjawab, kupilih tersenyum. Susah mencari ekspresi apa yang harus diperlihatkan jika orang yang kau sayang sebenarnya juga milik orang lain. Dan kau, terlambat jadi yang pertama.

Mari sini, duduk di sampingku. Kini kita dua orang asing yang kebetulan bertemu. Tak punya cinta, tak punya rindu.

“Kenapa kau tak pernah memilihku?” Sekali kutanyakan ini padamu. Bahkan saat kalian tak lagi bersama? Kali ini hatiku yang berteriak. “Tak cukupkah rasa sayangku padamu?” Matamu mencari celah di mataku. Tanganmu meremas jemariku. Aku menggeleng.
“Kau tak bisa mendapatkan semua yang kau mau.”
“Apakah itu artinya kau akan meninggalkanku?” Matamu mengiba. Bulir bening tampak menggantung di sudutnya.
“Aku akan pergi sebagai orang yang mengharapkanmu.”

Jika ada yang mengalir pelan-pelan dari dalam dadaku, jangan hiraukan. Itu bukan darah dari luka karena perpisahan, tapi oleh sebab malasnya berlatih siang-malam.

Empat puluh menit berlalu tanpa kabar. Ponselmu pun tak bisa dihubungi. Baiklah, mungkin kau belum siap menghadapi kenyataan. Mungkin juga hujan ini membuatmu nyaman dalam pelukan kekasihmu, hingga lupa pada janji yang kau lontarkan sendiri. Sudahlah. Mengalah sebelum terlalu lelah adalah pilihan yang kuambil. Aku akan pergi sebagai pengharapmu, tapi akan selalu ada sebagai lelaki yang mencintaimu.

Kulangkahkan kaki keluar kafe. Hujan tak juga meredakan derasnya. Baru lima langkah dari halaman, sudut mataku menangkap bayangan mobil yang terparkir dalam keadaan menyala. Mobilmu. Sekilas kulihat kau terpaku di sana.

 

 

 

Note :
*puisi ‘Mari Berlatih Cara Kehilangan’ karya @no3na

Picture taken from google.com

Advertisements