Mendadak (Suka) Dawet

“Jadi kita makan apa lagi, nih?” Saya langsung bertanya pada Halim sesaat setelah nasi timlo tandas dari piring.
“Jadi langsungan, nih?” jawabnya.
“Hajaarrrrr…!!”

Kami berempat (saya, Adhie, Halim dan Timothy) memang berencana menjajal kuliner Solo–selain serabi– selama setengah hari. Halim yang memang asli Solo, tanggap memilihkan tempat. Tujuan pertama langsung ke Pasar Gede Hardjonagoro. Kelar menjajal kelezatan nasi timlo Sastro yang ada di luar area pasar, kami beranjak ke dalam pasar.

“Udah pernah nyoba dawet di dalam sini?” Halim bertanya pada kami. Langkahnya tetap sigap menyusuri jalan sempit-becek antar lapak. Aku menggeleng. Dua teman lainnya pasrah karena percaya pada pilihan kuliner si anak Solo. Belok sana-belok sini, muter dikit, akhirnya kami berhenti di sebuah kios sederhana. Spanduk yang menggantung bertuliskan ‘Dawet Telasih Bu Dermi’. Beberapa pengunjung tampak anteng menyeruput dawet. Kursi yang hanya muat diduduki dua orang memaksa kami tetap berdiri. Saya sempat ragu pada pilihan Halim. Dawet? Memang sih, udara terik di luar cukup membuat tenggorokan cepat kering. Alih-alih memilih dawet –yang notabene manis berlebihan karena gula kelapa– sebagai penawar dahaga, saya lebih memilih air mineral. But hey, ini lagi di Solo. Ngapain milih minum air putih? Saya yang tidak begitu menyukai dessert dan segala minuman manis memilih pasrah. Toh es serut yang diguyurkan ke dalam dawet tampak menyegarkan.

image

image

Seruputan pertama agak ragu masuk mulut. But seriously, you can’t stop after this! Ekspektasi berlebih yang ‘menuduh’ dawet telasih ini kadar manisnya nggak ketulungan ternyata salah. Manis dawet telasih ini pas. Mangkok boleh kecil, tapi isinya sangat beragam. Mulai dari cendol dari tepung beras, ketan hitam, tape ketan, bubur sumsum, biji telasih dan ditambah santan cair dan kental. Warna hijau yang didapat juga alami karena berasal dari daun suji. Tak perlu ragu dan takut, kesegarannya dijamin murni!

Saya terus menikmati suap demi suap dawet yang masuk di mulut. Tenggorokan yang basah, hati yang lega dan perasaan yang puas berubah jadi senyum lebar di wajah kami. Puas!

Kalau ada pepatah kuno bilang tak kenal maka tak sayang, kali ini saya harus mengakui bahwa; uh-yeah tiba-tiba saya jatuh cinta sama dawet telasih!

 

Kesan Tentang Solo

Iklan

8 Comments Add yours

  1. Dede ruslan berkata:

    Udah lama ga minum dawet jadi ngileet aaawww

    1. pramoe aga berkata:

      Hahhahaa ayo lagi! :p

  2. Backpacker cilet-cilet berkata:

    Tapi es dawet yang dijual di Aceh, manisnya keterlaluan. Tapi enak sih kalau lagi panas terik. Hehe…

    1. pramoe aga berkata:

      Oh Aceh ada es dawet? Dan manis banget? Wahhhh jadi pengen tau 😀

      1. Backpacker cilet-cilet berkata:

        Ada. Tapi yang menjualnya mas-mas dari Jawa semua. 😀

      2. pramoe aga berkata:

        Bwahahhahaa pantessssss…. ;))))

  3. Mus Taqim berkata:

    kapan2 mau coba dah dawetnya…hhh Mengundang teman2 sekalian ke blog baru saya di http://ilmumedia.blogspot.com/.. Thanks.

    1. pramoe aga berkata:

      Monggo, Mas.

      Ah meluncur yukk..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s