Sebuah lemparan batu menghentikan langkahku.Tubuhku roboh seketika. Cairan kental berwarna merah pekat keluar dari bagian tubuhku yang terkoyak.Kurasakan tulang rusukku bergesar beberapa senti dari tempatnya semula. Perih, ngilu dan entah apalagi yang kurasakan. Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap, lalu sedikit terang, gelap lagi. Begitu seterusnya. Apakah ini rasanya sekarat?

 

***

 

Cinta bisa datang kapan saja, pada siapa saja. Itulah kata-kata bijak yang pernah aku dengar dari seseorang entah siapa. Dan aku menyakini bahwa apa yang kurasakan saat ini adalah cinta. Tahu apa anak kemarin tentang cinta? Aku memang tak tahu apa-apa, tapi aku bisa merasakan ini, kawan. Saat kau terus memikirkan tentang pujaan hatimu di sepanjang harimu; bahkan saat makan malam tanpa sadar kau hanya mengaduk-aduk piring tanpa menyuapkan makanan ke dalam mulutmu atau ketika kau bertemu seseorang dan menganggap bahwa apapun bisa tampak mirip dengan si dia, percayalah, kau sedang terjerembab ke dalam lubang bernama cinta. Sesederhana itu, kawan.

 

Gadis itu bernama Sisil. Kami belum berkenalan langsung sebenarnya, tapi aku tahu dia bernama Sisil karena jarak rumah kami berdekatan. Aku sering mendengar ibunya memanggilnya untuk membantunya menyapu halaman depan atau mengambilkan sesuatu di dapur. Dia gadis yang manis. Dengan ramput ikal panjang tergerai dan kulit berwarna kuning langsat, di mataku ia menjadi seseorang yang sanggup mewakili sosok bidadari. Kesempurnaannya di mataku semakin menjadi saat kutahu ia suka membaca. Kuberi tahu kau, kawan, bahwa gadis yang suka membaca itu sungguh seksi. Ia pasti punya wawasan yang luas dan kau bisa ngobrol dengannya sepanjang kalian mau. Salah satu buku favoritnya yang kutahu adalah The Little Prince dari penulis Perancis Antoine de Saint-Exupery. Buku yang juga kusuka! Dua kali kupergoki dia sedang membaca buku yang ditulis tahun 1943 itu di suatu sore, saat aku hendak pulang ke rumah dari jalan-jalan keliling komplek. Sembari membaca, sesekali tangannya yang lentik memainkan anak rambut yang berjatuhan di dahinya. Apapun buku yang dibacanya selain itu, aku anggap bahwa ia menyukai dongeng, terutama fabel –sepertiku. Sebenarnya saat kali kedua melihatnya membaca buku itu, aku ingin sekali menyapanya. Sekadar berbasa-basi sedikit sebagai tetangga, lalu dilanjut dengan pertanyaan “Suka The Little Prince juga?”, dan bisa dipastikan kalau obrolan kami akan mengalir. Tapi sayang, aku tak punya modal utama; nyali. Ya, aku seolah lupa bahwa untuk mendekati seseorang yang kita puja, kau butuh itu. Andaikan ada toko yang menjual nyali –dalam bentuk apapun dan berapapun harganya, aku akan mengusahakan dengan sangat untuk membelinya. Akan kusisihkan uang sakuku tiap hari demi memperoleh modal awal itu. Dan seperti yang kauduga, sore itu terlewati dengan sia-sia.

 

Sisil berbeda dengan gadis-gadis yang pernah kupacari dulu. Dengan Clara, aku menyukainya karena dia teman kecilku. Orangtua kami sering sekali menjodohkan aku dan Clara, bahkan ketika usia kami masih sangat muda. Aku tak tahu apa yang membuatku menyukainya, tapi mungkin faktor ‘tresna jalaran saka kulina’ berperan sangat besar. Hubungan kami singkat saja, hanya dua minggu. Itupun dilalui dengan ‘berperan’ sebagai kakak-adik, bukan sepasang kekasih. Lalu ada Lina. Gadis yang kutemui saat mengunjungi saudara jauhku di kompleks seberang jalan. Dia manis, hanya sedikit agresif. Dia juga yang lebih dulu menyatakan perasaannya padaku. Sebagai bujang yang tak menyiakan kesempatan, kami pun resmi berpacaran malam itu juga. Kencan malam minggu di tempat ramai paling disukai Lina. Alasannya, banyak teman-temannya di sana dan dengan begitu ia bisa memamerkan siapa yang menjadi pacarnya. Harusnya aku bangga dengan sikapnya, tapi entah mengapa aku justru menganggap itu kampungan. Di depan teman-temannya, aku merasa seperti benda antik yang terus menerus diperhatikan gerak-geriknya, dari ujung jambul hingga ujung jempol. Seolah aku harus sempurna di mata mereka, bukan hanya di depan Lina. Aku muak. Hubungan kami retak setelah menginjak minggu ketiga. Setelah itu aku belum pernah melihat Lina lagi. Kudengar ia pindah ke kota seberang, menikah dan mempunyai tiga anak. Oh iya, sekarang ia gendut sekali.

 

 

***

 

 

Aku menyukai suasana sore hari, terutama menjelang senja. Sering kali kuhabiskan sore hariku dengan berjalan-jalan di taman dekat kompleks sembari menanti semburat jingga memancar di sebelah barat. Aku membayangkan jika suasana seperti ini kuhabiskan bersama Sisil, pasti akan sangat romatis. Kami akan memilih duduk di bangku taman yang menghadap barat sembari menghitung detik-detik pergantian sore menjadi malam dengan saling bergenggaman tangan. Aku tergelak membayangkan kisah romantis yang kuciptakan sendiri. Tanpa nyali, semuanya tak akan mungkin. Aku tahu itu. Sore ini, akan kupertaruhkan rasa maluku untuk menebus nyali yang kubutuhkan. Aku harus berani. Kapan lagi? Buang jauh ketakutan akan dicampakkan. Yang paling penting adalah, aku bisa mengobrol dengan gadis pujaanku. Itu langkah awalnya.

 

 

Dengan semangat berapi, kuberanikan diri untuk menuju rumahnya. Dari jauh tampak Sisil sedang duduk di beranda depan. Dia sendirian. Itu bagus. Aku tak mau rencana PDKT-ku ini gagal hanya karena ada anggota keluarganya. Semakin dekat dengan pagar rumahnya, dadaku semakin keras berdetak. Suaranya begitu nyaring sehingga kupikir seluruh warga kompleks ini mampu mendengarnya. Satu langkah ke depan, niatku pupus ketika saat itu terdengar bunyi panggilan masuk di ponselnya. Belum juga empat detik berbunyi, Sisil sudah menjawab pertanyaan di ujung telepon dengan manja. Jarinya memilin-milin ujung rambut ikalnya. Aku bisa merasakan perubahan air mukaku. Mungkin semerah kepiting rebus atau lebih pekat lagi, seperti warna cabai keriting. Mendengar Sisil tampak ceria berbicara dengan dia-entah-siapa di telepon membuatku memutuskan untuk menunda rencana awal tadi. Selintas kudengar ia memanggil si penelpon dengan Jordi. Siapa Jordi?

 

Rasa penasaranku atas siapa lelaki bernama Jordi baru terjawab dua hari setelahnya. Setelah meikmati senja sendirian, aku memergoki sebuah mobil sedan biru tua terparkir di depan pagar rumah Sisil. Baru kali ini aku melihat mobil itu. Mengamati bagian interiornya, bisa dipastikan pemiliknya adalah anak muda. Berarti bukan mobil baru papanya Sisil. Penasaran dengan siapa pemiliknya, aku merapat mendekati pagar. Dengan gerakan mirip detektif kacangan di televisi, aku berjingkat pelan. Mataku awas mengamati sekeliling. Jangan sampai ada orang yang lewat jalan ini mencurigaiku hendak melalukan suatu tindak kriminal. Belum apa-apa bisa bonyok nanti wajahku. Setelah merasa aman dengan sekeliling, kunyamankan posisiku untuk mengamati beranda rumahnya. Jantungku berdetak lebih cepat. Jujur aku tak siap dengan pemandangan yang akan kulihat, tapi rasa penasaranku jauh lebih besar. Di sana, di beranda itu duduk bersebelahan Sisil dan seorang pemuda. Mungkin dia yang dipanggil Jordi oleh Sisil. Wajahnya memang lebih tampan dariku, tapi aku yakin kalau Sisil juga menyukai padanan yang unik sepertiku. Lelaki itu tampak sekali menyukai Sisil. Aku bisa melihat dari caranya memandangi Sisil. Seolah apa yang ada di hadapannya adalah miliknya. Semua. Cih!

 

“Aduh, aku lupa menawarimu minum. Jadi, pengen minum apa nih?” Sisil menyadari sesuatu yang semestinya dilalukan di awal saat kedatangan tamu. Wajahnya semburat merah jambu, menandakan ia sedikit malu.

 

“Ahaha, santai saja. Seadanya. Nanti juga kita mau keluar, kan?” Lelaki bernama Jordi itu tersenyum menanggapi. Senyum yang diganteng-gantengkan.

 

“Oke. Teh saja kalau begitu.” Sisil langsung memutuskan. “Sebentar ya aku buatin dulu. Lima menit.” Sisil melesat masuk ke dalam rumah. Jordi mengangguk. Dan kulihat matanya tak berkedip memandangi tubuh Sisil sebelum menghilang di dalam rumah. Sial. Lelaki berengsek pasti dia. Aku bisa melihat nafsu di dalam matanya saat ia mengamati tanpa kedip tubuh molek Sisil yang hanya berbalut celana pendek jins dan kaus ketat. Ingin rasanya kulempar batu dari sini agar mengenai kepalanya hingga bocor, lalu otaknya yang bermuatan mesum itu meluber ke luar. Tapi –tentu saja– kuurungkan niatku. Bisa kacau nanti image-ku sebelum perkenalan. Sabar, sabar. Aku berusaha mengatur nafas dan akal sehat.

 

Seperti yang dijanjikan, Sisil kembali setelah lima menit masuk ke dalam rumah. Tak hanya dua cangkir teh, ia juga membawa sepiring gorengan hangat. Aku bisa melihat kepulan asap tipisnya menari-nari.

 

“Tempe mendoannya dicoba ya. Oleh-oleh tante dari Cilacap.” Sisil menyodorkan piring berisi mendoan hangat itu ke arah Jordi.

 

“Kamu goreng sendiri?” Jordi mulai mengambil mendoan. Mulutnya meniup-niup potongan mendoan yang akan dimasukkan ke mulutnya.

 

“Ada Mbak’e. Aku tadi Cuma bikin teh saja.”

“Oh, kirain. Jadi teh ini buatanmu? Pantas manisnya pas.”

 

Kampret. Belum apa-apa Jordi sudah berani merayunya. Dan –Ya Tuhan—Sisil terperosok jebakannya. Berkali-kali kulihat ia merona saat lelaki brengsek itu mengatakan sesuatu. Dadaku semakin terasa sesak saat Jordi mulai bergeser lima senti ke arah Sisil.  Tangannya yang semula diam di tempatnya, kini mulai berani menyentil ujung hidung Sisil. Kurang ajar sekali dia. Tingkahnya tak ubahnya lelaki paruh baya hidung belang yang kerap dideskripsikan di dalam novel picisan. Kuatur nafas sedemikian rupa. Tarik nafas-buang nafas-tarik nafas-buang perlahan.

 

“Jadi, kita mau jalan jam berapa? Jadi nonton, kan?”

 

“Lima belas menit lagi ya, aku bersiap dulu.” Sisil kembali beranjak dari tempat duduknya.

 

Mata Jordi mengantar Sisil menghilang di balik pintu. Lelaki itu tersenyum puas. Sepertinya rencana kencan pertama sudah berhasil separuh. Kugeser letak kakiku sedikit ke arah yang lebih nyaman. Berdiri lebih dari setengah jam dalam posisi tadi membuat badanku pegal. Krak! Kerikil di sebelahku bergesekan karena aku kurang berhati-hati menggeser kakiku. Jordi menyadari suara itu. Kepalanya mendongak mencari arah suara. Berkali-kali ia mengamati sekeliling taman depan rumah Sisil untuk memastikan ada suara aneh. Setelah merasa aman, ia kembali duduk dan sibuk dengan gadget-nya. Untung ia tak menangkap sosokku. Punya tubuh mungil dan berkulit gelap ternyata ada manfaatnya juga. Sesuatu yang jarang aku akui karena terlalu sibuk membandingkan diri dengan stereotip lelaki ganteng versi gadis-gadis masa kini. Berkulit putih dan berperawakan tinggi. Sangat dangkal menurutku. Ya, kau bisa mengatai ini sebagai bentuk iri, kawan.

 

Pandanganku teralihkan saat Sisil keluar menuju beranda. Kini dia tampak sempurna. Rambut yang sedari tadi digerai kali ini diangkat dan diikat. Tubuh moleknya dibalut blus longgar dan celana panjang jins bermodel lurus. Aih, cantiknya. Apalagi ia berdandan sangat pas. Tidak terlampau tebal seperti anak-anak SMA zaman sekarang. Seringkali tak bisa kubedakan mana anak SMA, mana tante-tante yang sedang menyamar. Mereka serupa. Baru saja kunikmati pemandangan indah di depanku, Jordi kembali mengacaukannya. Terlihat ia mulai menyebar jebakan lagi. Pujian demi pujian lancar ia lontarkan kepada Sisil. Tangannya meraih pinggangnya saat mereka berjalan hendak keluar pagar. Tak bisa kubiarkan. Aku harus bertindak. Lelaki itu harus mendapatkan pelajaran. Ia harus lebih belajar tata krama memperlakukan seorang wanita. Kuputuskan untuk berjalan mendekat. Tamanan di depanku yang sedari tadi menjadi tempatku bersembunyi kusibak kasar. Langkahku tak lagi mengendap seperti awal, kali ini setengah berlari. Aku harus buru-buru. Sudah panas hati ini melihat Jordi mengambil kesempatanku. 

 

Semakin dekat, semakin dekat.

 

“Aaaahhhhhhh…!!!” Sisil berteriak sekuat tenaga. Langkahku terhenti. Nafasku tersengal-sengal. Ada apa ini? Apakah lelaki itu bertindak tak sopan kepadamu?

 

“Tikus!” Sisil melanjutkan teriakannya. Tubuhnya beringsut ke pelukan Jordi. Baru saja aku hendak melangkah mundur, sebuah batu tiba-tiba mengarah padaku. Plakk!!

 

Advertisements