“Besok aku mau ke Laweyan, Moe. Mau ikut?”

Sebuah tawaran dari seorang teman asli Solo datang saat saya sedang menghabiskan suapan terakhir cabuk rambak. Dua detik pertama yang ada di pikiran saya sebagai orang awam tentang Laweyan adalah batik. Oh, mau cari batik. Itu pikiran selanjutnya. Meskipun sedang tidak berminat untuk wisbel –wisata belanja, tapi saya langsung mengiyakan. Lalu apakah  dugaan saya tentang Laweyan yang hanya sekadar kampung batik itu benar? Ternyata seratus persen salah! Lalu apa yang saya dapat dari Laweyan? Jawabannya baru saya dapat keesokan harinya, saat petualangan dimulai.

IMG_20131103_092649

Here we go..

Mengunjungi dan membedah isi Laweyan, itu artinya kita harus menarik benang sejarah jauh ke belakang. Dimulai dari asal-usul nama. Ada yang mengatakan kalau Laweyan berasal dari kata lawe yang artinya benang atau kain. Ada pula yang berpendapat bahwa nama “Lawiyan” berasal dari kata alih-alihan (perpindahan) orang-orang desa untuk menghindari banjir Bengawan Solo. Namun yang pasti, nama Laweyan dipakai untuk menyebut masyarakat tertentu, yaitu mereka yang dikenal sebagai orang kaya (wong Nglawiyan), yang berlebih (kaluwih-luwih) dalam segala hal,terutama dalam hal materi. Terkenal dengan sentra batik di kota Solo dan sudah ada sejak kerajaan Pajang, ternyata Laweyan menyimpan sejarah yang menarik untuk digali. Siap jalan-jalan? Mari..

IMG_20131103_104152

Langgar Merdeka

IMG_20131103_094448

Tempat pertama yang beruntung untuk dibedah adalah sebuah bangunan kuno berwarna hijau di pertigaan jalan Sidoluhur. Bangunan dua lantai ini dulu bernama Langgar Al Ikhlas, namun setelah dibeli oleh seorang saudagar dan dijadikan sebagai tempat beribadah, namanya berubah menjadi Langgar Merdeka. Presiden Soekarno lah yang meresmikan dan memberi nama baru itu. FYI saja, Langgar Merdeka  sebelumnya adalah bangunan rumah milik orang Cina yang dipakai untuk berjualan Candu ( Ganja ).Meskipun sudah menjadi salah satu  cagar budaya di kota Solo, Langgar Merdeka masih digunakan sebagai tempat beribadah hingga saat ini. Untuk kalian yang ingin beribadah atau sekadar meniti sejarah, diperkenankan masuk dengan meminta izin kepada pengurus langgar di lantai 1 –yang juga digunakan untuk membuka usaha.

IMG_20131103_095335

IMG_20131103_095352

 

IMG_20131103_095449

 Rumah Saudagar Batik

Masuk lebih dalam ke kampung Laweyan, kita bisa menemukan banyak sekali rumah bertembok tinggi dengan pintu gerbang unik di bagian luarnya. Apa uniknya? Hampir di setiap rumah saudagar batik di Laweyan mempunyai desain pintu gerbang yang mempunyai pintu kecil di dalamnya. Apa fungsinya? Ada yang berfikir bahwa itu adalah dog’s door seperti halnya di luar negeri? Ternyata bukan. Dari cerita yang didapat, pintu kecil itu adalah pintu yang digunakan untuk ‘rakyat jelata’ yang ingin masuk di rumah saudagar batik. Dengan menggunakan pintu kecil itu, mau tak mau para golongan menengah ke bawah akan membungkukkan badannya. Sebuah simbol kasta di kalangan itu pada masanya. Salah satu rumah kuno yang dikunjungi saat berada di kampung Laweyan adalah rumah Pak Harun Muryadi. Selain ramah, beliau juga sangat informatif dalam bercerita. Tipe seorang kakek yang suka membacakan dongeng pada cucunya.

???????????????????????????????

Di rumah Pak Harun ini, kami juga ditunjukkan sebuah bunker yang tersembunyi di bawah meja bundar di dalam kamarnya. Bunker? Ya. Dulu, di daerah ini banyak saudagar batik yang membangun bunker untuk mengamankan benda-benda yang dianggapnya berharga. Kain batik tulis dan macam-macam perhiasan, contohnya. Menurut Pak Harun, bunker ini sudah ada sejak Kerajaan Pajang. Jadi jauh sebelum rumahnya berdiri. Tapi sejak ada dugaan bahwa bunker dijadikan tempat persembunyian PKI (tahun 1965), banyak bunker di rumah-rumah Laweyan yang ditutup. Beruntung, di rumah Pak Harun kami masih bisa melihat, bahkan masuk dan mendokumentasikan.

IMG_20131103_124904

Image

Ndalem djimatan

Tak jauh dari rumah Pak Harun, ada sebuah rumah besar yang menarik untuk diintip. Gerbangnya yang sedikit terbuka membuat kami bisa melihat suasana di dalamnya. Tak puas dengan aksi intip-mengintip, kami minta izin kepada penjaga rumah untuk sekadar melihat-lihat. Rumah bergaya art-deco ini ditinggali oleh Mas Ngabehi Djimat Kartohastono dan oleh karena itu dinamakan sebagai ndalem (rumah) Djimatan. Di sini kabarnya terdapat tujuh sumur yang tersebar di area kompleks rumah. Namun, hingga masuk ke halaman depan hanya ditemukan sebuah sumur saja. Enam lainnya tersebar di bagian lain dan telah terkotak-kotakkan sesuai pembagian hak waris. Di samping bangunan utama terdapat sebuah  bangunan terpisah yang dijadikan sebagai  taman bacaan dan berfungsi sebagai Lab UNIBA (Universitas Islam Batik). Kami sedang tidak beruntung untuk masuk dan melihat koleksi buku di dalamnya karena taman bacaan ini tutup di hari Minggu.

 

Masih ada beberapa spot menarik yang bisa dijelajah di Laweyan. Waktu yang singkat membuat saya harus menyudahi petualangan seru ini. Dari kesimpulan yang didapat setelah blusukan adalah, jangan pernah menganggap remeh sesuatu. Sebuah harta karun mungkin bisa jadi tersembunyi di belantara hutan atau tumpukan sampah. Mindset Laweyan sebagai kampung batik saja harus segera diubah. Banyak sejarah, banyak cerita, banyak letupan-letupan kecil yang menyenangkan. Semuanya akan membuat kita semakin menghargai budaya dan keberagaman.

Kesan Tentang Solo

Tulisan tentang Solo Trip #1 bisa dilihat di sini

Advertisements