image

“Aku sudah putus dengannya.”

Kalimat itu meluncur tanpa beban dari mulutmu. Belum ada lima menit sejak kau rebahkan tubuhmu di bangku taman. Sepertinya kau tak ingin berlama-lama menyampaikan kabar.

“Lalu?” Aku menjawab datar.

“Kita bisa melanjutkan hubungan ini tanpa rasa bersalah.” Kau menatap wajahku, mencari sesuatu di dalam mataku. Aku melirikmu sesaat lalu kembali membuang pandangan ke arah danau di depan. Entah mengapa, kehampaan di sana –air yang tenang menggenang– lebih menarik.

“Beb, kamu kenapa?” Tanganmu yang halus mengusap pipiku. Hangat.

Aku menghela nafas.

“Aku tak yakin keputusanmu akan lama..”

“Maksudnya?”

“Sudah berapa kali kalian putus-nyambung-putus-nyambung, sementara aku tetap kau minta untuk terus bersabar?” Kalimatku mengalir santai dari mulutku. Ada penekanan di beberapa kata.

Retoris. Aku tak butuh jawabanmu.

Kau palingkan wajahmu yang memerah. Nafasmu terdengar lebih berat kali ini.

“Maumu apa?”

Hah. Kalimat yang lebih tepat ditujukan untuk dirimu sendiri.

“Kau kehilangan perasaanku.” Aku menatap matamu yang kini layu.

“Maksudmu?”

“Aku menyadari bahwa aku hanya membangun harapanku sendiri. Memupuk dan merawatnya tiap hari dengan perasaanku padamu yang tumbuh tiap hari. Sekarang, taman itu telah mati. Pemiliknya memilih untuk pergi karena Ratu yang dibuatkan taman hanya sesekali menengok untuk memetik bunga.”

Aku menghela nafas. Mengusap pipimu yang digenangi penyesalan.

“Andai kamu lebih pintar lagi menjaga perasaan yang diberikan..”

Aku mengecupmu sekali, lalu beranjak pergi.

Advertisements