image

Harusnya Mama senang dengan kado ulang tahun yang kuberikan kali ini. Bisa jadi, ini adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu. Tapi bukannya tersenyum lalu memelukku, Mama malah menangis. Mungkinkah karena bahagia?

Malam itu memang aku sudah berencana memberikan kado untuk ulang tahun Mama yang ke-45. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang minim kejutan, tahun ini kubuat beda. Aku tahu Mama menginginkannya sejak lama, hanya tak mampu mengungkapkan. Mungkin segan, bisa jadi tak enak hati. Atau takut. Banyak alasan yang bisa disebutkan. Sejak beberapa hari lalu aku sudah menyusun strategi. Semuanya harus matang. Waktunya, bahan pendukung, alat-alat, semua harus siap. Jangan sampai terlewat. Bisa buyar semua.

Malam itu hujan turun sangat lebat, seolah-olah persediaan air di langit terlampau banyak untuk disimpan. Petir menyambar-nyambar. Aku berdiam diri di kamar menunggu waktu untuk memberi kejutan. Mama ada di kamarnya menonton sinetron. Tepat pukul setengah sebelas malam, suara Papa terdengar dari ruang depan. Ah, sudah pulang rupanya. Tak perlu ditebak lagi, ia selalu pulang dalam keadaan mabuk. Setiap hari.

“Aku mau makan malam. Di mana makananku?” Terdengar suara meja makan digebrak dengan keras. Selanjutnya, teriakan demi teriakan kasar keluar dari mulut Papa, disusul suara piring pecah. Mungkin juga gelas. Suara hujan tak mampu meredam kekacauan malam ini. Aku menggeser kakiku. Mencoba memasukannya di dalam selimut. Agak susah memang melipat kakiku yang terkena polio sejak bayi ini. Aku meringkuk di dalam selimut. Mencoba bernyanyi lagu sekeras aku bisa. Itu yang diajarkan Mama. Bernyanyilah saat kau takut, atau gundah. Begitu petuahnya.

Sepuluh menit berlalu, hujan mulai turun dengan frekuensi sedang. Kilat masih tetap menyambar. Suara gaduh kini berpindah dari ruang tengah ke dalam kamar. Kali ini bukan hanya teriakan Papa tapi juga jeritan Mama. Ada tambahan suara plak, bug, dan suara-suara sejenisnya. Mataku panas. Kucoba mengatur nafas agar tetap normal. Aku beringsut turun dari ranjang. Susah payah kuseret badanku menuju kamar Mama. Kursi roda yang biasanya kupakai kini kuabaikan. Aku tak ingin kedatanganku nanti terdengar. Dua puluh lima seret dari kamarku, aku mendapati tubuh Mama sedang ditindih oleh Papa. Lengan Mama dicengkeram dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan Papa sesekali menamparnya. Tuhan! Dia bukan papaku. Dia pasti iblis. Aku terus mencoba menyeret badanku mendekati mereka. Berat, kali ini sungguh berat. Aku seperti membawa kepedihan berton-ton yang diikatkan di telapak kakiku. Bantu aku, Tuhan.

Suara erangan Papa terdengar tertahan. Kepalanya mencari sumber penyebab nyeri di paha belakangnya. Sebuah pisau kecil baru saja kutancapkan di sana. Papa berteriak. Mengumpat dengan sumpah serapah. Aku bergeming. Harusnya tak perlu alat kedua tapi situasi ini di luar perkiraanku. Kuayunkan palu tepat di kepalanya. Papa terhuyung sebentar sebelum akhirnya ambruk. Nafasku terengah. Selesai. Kulirik Mama yang meringkuk di samping ranjang. Ada beberapa lebam di sana-sini. Lebam lama tertumpuk lebam baru. Mama ketakutan melihatku. Badannya bergetar. Aku menyeret butuhku mendekatinya tepat saat jam dinding tua di ruang tengah berdentang dua belas kali.

“Selamat ulang tahun, Ma..”

Tangis Mama pecah. Aku tersenyum. Kuartikan itu sebagai ucapan terima kasihnya.

*picture taken from favimage.com

Advertisements