Sore yang berdebu –dengan abu vulkanik Kelud yang masih tebal dan hujan yang masih enggan berkunjung– aku menulis surat untukmu. Di kamar, dengan segelas teh leci dingin buatan sendiri. Ipod kuputar random. Aku ingin tahu lagu apa yang dipilihkan semesta kali ini.

image

Umm, sebenarnya aku lebih suka mengatakannya langsung tapi entah mengapa bibirku kelu. Pun, sinyal terlampau semangat membentangkan jarak. Sial memang. Kunamai ini rindu yang bisu.

Tanpa hangat pelukan, rindu serupa angin musim dingin yang susah ditaklukkan

Saat ini kita berjarak kira-kira 1662 km dari pelukan. Kubilang kira-kira karena jarak yang kutulis tadi hanyalah angka yang tertulis di Google saat aku mengetikkan tempat kita masing-masing berpijak. Mungkin lebih sedikit, mungkin juga lebih berjarak.

There’s a thousand ways for things to fall apart

But it’s no one’s fault, no, it’s not my fault

And maybe all the plans we made might not work out

But I have no doubt even though it’s hard to see

Lagu Hold On dari Michael Buble tiba-tiba mengalun pelan. Syahdu. Ada rasa nyeri yang sebentar menyelinap. Aku menyeruput teh leci dinginku, mencoba menyamankan suasana. Senyummu tergambar jelas.

I’ve got faith in us, I believe in you and me

So hold on to me tight, hold on, I promise it’ll be alright

Iya. Semua akan baik-baik saja. Jarak hanyalah bentangan kilometer.

Jarak hanyalah salah satu cara Tuhan mengistimewakan pertemuan

“Kamu baik-baik ya di sana. Jaga badan. Jaga kondisi” Mungkin kau sudah bosan dengan kalimat yang kutitipkan padamu. Di balik kalimat membosankan itu kuselipkan doa-doa untuk keselamatanmu. Aku tahu, aku akan baik-baik saja jika keadaanmu di sana terkendali.

Teh leci dinginku hampir habis, tapi tidak dengan kenangan yang kita lahirkan. Aku menikmati setiap perih yang ditorehkan rindu seperti aku bahagia melihat senyummu mengembang di bibir lecimu.

I just wanna go home

Oh, I miss you, you know..

Playlist telah beralih lagu. Kali ini Home. Aku memang ingin segera pulang ke dalam pelukmu yang kunamakan rumah. Lalu kutumpahkan segala kebisuan di benam dadamu yang tabah.

Segera.

PS : Aku baru sadar, surat ini kutulis pada tanggal yang sama ketika kali kita bertemu. Tak ada yang kebetulan. Semesta telah mengaturnya.

Jogja, 15 Februari 2014

Advertisements