“Sekali lagi?”

“Kurasa tak perlu hitungan untuk sebuah kenikmatan. Lakukan sampai kita lelah.”

***

NARA

Aku tak mengenal wanita yang sedang mengerang di pelukanku ini. Kami –dua orang mabuk– yang terbawa suasana. Ya, aku mabuk karena sebuah kenyataan hebat yang masih saja kuingkari : tunanganku pergi begitu saja demi seorang pria tua kaya. Shit. Berhari-hari duniaku seolah lebur dalam gelombang antah-berantah. Malam ini, saat sejenak ingin melepaskan penat; aku bertemu dengannya. Wanita bergaun merah yang kini tak menyisakan sehelai benangnya di hadapanku. Aku tak mengenalnya. Kami pun tak sempat menanyakan nama. Obrolan berbalut alkohol mengantarkan kami di kamar hotel ini.

RENATA

Dasar perempuan tak tahu diuntung. Sudah diberi yang diinginkan, tetap saja pergi dengan orang yang lebih mapan. Katanya cinta, katanya tak akan pergi, buktinya? Setan! Aku mengutuk Ayu –pasanganku– yang tak pernah kembali ke pelukanku setelah berkenalan dengan seseorang yang disebutnya sebagai Om Key. Pria paruh baya nan kaya raya, katanya. “Aku realistis saja, beb. Hubungan ini soal kesenangan. Dan kalau kesenanganku berwujud harta, kenapa tidak dengannya?” Dasar pelacur murahan! Aku terus mengutuk dalam hati. Mulutku tak henti kujejali rokok dan alkohol.

“Diporakporandakan cinta lebih menyakitkan dari sekadar menginjak pecahan kaca. Bukan begitu?

Pria di sampingku tiba-tiba bersuara. Aku menoleh sedikit. Pandanganku agak kabur, tapi aku menyempatkan menanggapi ke-sotoy-annya.

“Tai kucing itu cinta. Ini masalah harga diri yang diinjak-injak..

Dia tergelak.

Obrolan kami selanjutnya tak ada yang kuingat. Yang bisa kurasakan adalah suhu tubuh kami menyatu dalam kamar hotel ini. Persetan siapa dia, aku tak peduli. Emosi ini harus dilampiaskan, apapun bentuknya.

NARA

Wanita itu tampak sangat sakit hati. Emosi yang diluapkannya mengubah kamar hotel ini jadi membara. Jika peluh tak juga membanjir, aku meyakini akan terjadi kebakaran di lantai tiga ini. Sayangnya, wajah yang tergambar di depanku hanya tunanganku. Berkali-kali aku mendesiskan namanya. Ayu…ayu. kuharap wanita ini tak menyadarinya.

***

Piiipppp..piiipppp..

Ponselku berbunyi. Alarm pagi yang biasa membangunkanku lupa ku-nonaktifkan. Aku berusaha membuka mata. Berat. Ah, kepalaku pusing sekali. Aku berusaha mengingat kejadian semalam. Mencoba mengingat wajah wanita yang memporakporandakan seprei ini. Tak berhasil. Tertegun tanganku menyentuh selembar kertas yang diletakkan begitu saja di atas bantal. Ada sebaris kalimat ditulis dengan lipstik merah.

Dari asing kembali menjadi asing. Game over.

Advertisements