Kasak-kusuk mengenai hilangnya Parmin masih saja terdengar. Sudah sebulan lebih sejak pertama kali Suti –istrinya– mengabarkan pada penagih hutang bahwa suaminya belum pulang ke rumah.

Tentu saja hal itu tak serta merta dipercaya oleh Si Penagih. Digeledahnya rumah petak Parmin yang tak seberapa luas itu. Lemari diobrak-abrik, kolong tempat tidur diperiksa, bahkan sumur di belakang pun tak luput dari sasaran. Si Penagih menyuruh seorang anak remaja tanggung untuk turun ke bawah, memastikan bahwa Parmin tak bersembunyi di sana. Hasilnya masih sama. Nihil. Suti dicecar banyak pertanyaan. Dari siang hingga lepas magrib, Si Penagih masih betah menghamburkan pertanyaan-pertanyaan curiga padanya. Suti bersumpah bahwa hari terakhir ia melihat suaminya adalah hari di mana anak lelakinya menerima rapor. Ia ingat betul. Saat itu ia berpamitan pada suaminya untuk ke sekolah mengambil rapor dan Parmin tampak seperti hari-hari sebelumnya. Tak ada perilaku yang mencurigakan ataupun peringai yang mengundang tanya. Semuanya normal. Si Penagih mengebrak meja. Wajahnya geram sekaligus gondok. Ia mengumpat sebelum menendang pintu dan pergi keluar.

Lalu ke mana hilangnya Parmin? Sebulan lebih suaminya tak kelihatan batang hidungnya dan Suti kebingungan karena ternyata suaminya meninggalkan hutang yang telah beranak pinak.

“Owalah Mas, Mas. Di mana tho kamu. Pergi ndak bilang, malah ninggalin utang banyak. Aku bingung, Mas..” Suti meratap pada suatu malam. Seperti malam-malam sebelumnya, tetangga kanan-kiri bergantian menemaninya. Mereka khawatir jika ditinggal sendirian, Suti bisa melakukan hal-hal yang aneh. Tentu saja Ragil –anak Suti– sudah diungsikan ke desa seberang, tempat kakek neneknya tinggal. Alih-alih untuk mengisi liburan kenaikan kelas.

“Kamu bener ndak nyembunyiin suamimu kan, Sut?” Bu Dami, tetangga bertubuh subur itu bertanya. Suaranya berbisik, nyaris mendesis. Matanya menoleh ke arah jendela, pintu dan sekitarnya untuk memastikan keadaan aman.

“Kalau aku tahu di mana Mas Parmin, aku ndak sesedih ini, Bu.” Suti menyeka air mata dan ingusnya bergantian.

“Yowes kamu sabar ya. Nanti coba kita ke Mbah Po. Siapa tau bisa bantu.” Bu Dami mengusap-usap punggung Suti. Tetangga lain mengangguk-angguk. Sebagian mengiyakan, sisanya karena mengantuk.

***

“Nasinya tambah lagi, Bune..” Aku menyodorkan piringku ke arah tempat nasi. Istriku mangambil piringku, menyendokkan dua centong nasi. Tatapannya heran. “Kamu makan banyak Mas, akhir-akhir ini. Lagi minum obat cacing?”

Aku menggeleng. “Masakanmu rasanya lebih uenak, Bune. Ndak papa tho, kalau aku makannya banyak?”

“Bukan masalah nggak boleh atau apa. Itu lho, perutmu udah kayak Bagong. Njembling.” Istriku menunjuk perutku dengan dagunya. Kulirik sepintas, ah memang benar. Aku hampir tak sadar dengan keadaan ini.

“Mas. Kamu tahu ndak tetangga kita, si Parmin itu ke mana?” Istriku berhenti mengunyah suapannya. Seolah-olah ini adalah pertanyaan yang penting dan menunggu jawabannya tak kalah penting. “Beberapa orang bilang dia minggat karena punya utang banyak. Tapi ada yang bilang dia sengaja minta diculik Genderuwo biar hilang.”

“Ha. Ono-ono wae sih. Trus, yang bener yang mana?”

“Lha ya itu ndak ada yang tahu. Kamu kan kenal dekat, Mas. Masa cuma anteng aja. Malah makan terus. Piye tho..” Istriku protes. Mungkin maksudnya, sebagai orang yang kenal dekat dengan Parmin, pernah satu kerjaan, mustinya tahu kabar yang benar.

“Lha…ya aku ndak tahu apa-apa kok.” Aku segera menyelesaikan makanku. Segelas air putih kuteguk bergegas. “Sudah lah. Aku mau ngerokok di depan dulu. Besok paling sudah ada kabar dari Parmin.”

Kulambatkan kaki melangkah ke beranda. Sesekali kepalaku menoleh memastikan istriku sibuk membereskan piring kotor di dapur. Sebatang rokok kretek kuisap sembari mencari posisi nyaman untuk duduk. Dua kali suara sendawa dari perut terdengar menggema.

“Bagaimana? Aku masih bisa tinggal di sini, kan?” Sebuah suara samar terdengar dari perutku. Suara Parmin.

Advertisements