Ibu menyendokkan nasi putih hangat ke dalam tiga piring di depannya.
image

Mau lauk apa? Ayam goreng tepung, capcay cumi atau telur dadar?” Ibu menawari kami. Ali, si bungsu, menoleh ke arahku. Sepertinya ia minta pertimbangan. “Apapun yang ibu ambilkan, kami pasti habiskan,” Aku tersenyum. Tak pantas aku memilih-milih makanan yang ibu hidangkan pada kami. Apapun itu pasti baik untuk anak-anaknya. Ibu menyodorkan dua piring ke arah kami. “Air putihnya ibu siapkan sekalian ya..” Aku menatap ibu dari tempatku duduk. Sebenarnya, tak perlu ia melakukan ini semua. Toh aku sudah dewasa dan bisa menyiapkan makanku sendiri. Sejak Bapak pamit pergi lembur seminggu yang lalu –dan belum juga kembali, Ibu sering bersikap aneh.
“Bu, harus ya kita pura-pura lagi?” Aku tak tahan untuk menyikapi keanehan ini. Piring berisi nasi kemarin yang dihangatkan di depanku tak akan pernah membuat perut kami kenyang meskipun otak kami berimajinasi tentang menu makanan paling lezat sekalipun. Ibu menatapku sayu. Samar, ia mengangguk. “Kita harus begini. Setidaknya sampai bapak kalian pulang.”

Advertisements