Tahun baru. Harapan baru.

Di saat kebanyakan orang memilih menuju pusat kota untuk sekadar melihat pesta kembang api, merayakan pergantian tahun dengan hingar bingar musik dan keriaan; saya memilih mengendarai kendaraan 35 km ke utara. Jauh dari kemacetan, terbebas dari suara terompet dan kembang api yang memekakkan telinga. Saya memang ingin ‘menyepi’ walau tempat yang saya pilih tak sepenuhnya sepi.

Di saat orang-orang sibuk berencana, bersemangat menyusun resolusi untuk tahun 2015; saya memilih mengosongkannya. Saya hanya punya harapan satu; semoga saya tidak lagi punya alasan untuk menunda sesuatu yang baik. Sederhana, memang. Tapi buat saya, it means everything.

image

Beberapa hal baik tak akan pernah terwujud jika sebelum kelahirannya sudah dijegal dengan ‘nanti saja’ atau ‘gakpapa, bisa besok’. Buat saya, makna dari kedua contoh itu adalah bentuk kemalasan yang isinya 90% kosong. Banyak hal-hal baik yang menguap hanya karena ditunda. Kita terlalu percaya diri bahwa esok masih ada kesempatan untuk hal yang bisa dilakukan hari ini.

2015 sudah terbuka. Waktu akan terus berjalan, sadar atau tidak. Hari ketiga, sudahkah  melangkah menuju daftar resolusi? Saya memulainya dengan menuliskan artikel ini.

Advertisements