Di hadapanmu yang bermata puisi,
Hatiku luluh hingga ke kaki.
Membiarkan kupu-kupu bebas terbang di perut,
Sementara kalimat belum juga tertata.
Kau tahu, padahal itu pertemuan ke berapa puluh kita.

Lewat dua purnama, aku tak bisa menahan mereka
Sayap cantiknya terus mengepak, meminta peluk yang menjadi hak

Sejak mengenalmu, kuakui,
Hidupku telah kembali.
Terimakasih untuk kepak sayap kupu-kupu yang abadi.

Mampang, 20 November.

Advertisements