Dear Vive,
Aku benci bicara soal ini. Tapi sudahlah, mari kita lakukan. Ini tentang (ke)pergi(an). Pergi adalah meniadakan kamu dalam hari-hariku. Mengosongkan kabarku di setiap bangun pagimu, menghilangkan kebawelanku dalam keteledoranmu dan entah apa lagi yang bersifat teratur.

Andai aku pergi, berarti kita tak lagi berjalan beriringan. Tak lagi satu garis lurus. Aku menuju ke jalan yang berbeda denganmu, dan langkahmu menapaki jalan yang tak lagi sama denganku. Tapi percayalah, Viveku, aku tak akan pernah benar-benar pergi. Bagaimana bisa mengaku pergi jika namamu masih kusebut dalam doa?
Ya. Sebenarnya aku akan selalu bersamamu. Hanya saja, kita tak lagi menikmati segelas teh leci dalam gelas yang sama. Tak lagi berbagi tatapan mata berbalas senyum bius sendi.

Dear Vive,
Kita pasti tak pernah mau (ditinggal) pergi. Aku tak mau kamu pergi, dan kamu tak ingin aku pergi. Tapi bagaimana pun juga —ketika saat itu tiba—, kita harus (bisa) rela. Bukankah hidup harus tetap berjalan dalam lingkaran? Mimpi kita mungkin hanya kenangan, tapi mimpimu harus terus berjalan. Seperti yang kamu tahu, hidup memang sering kali dilalui dengan jalan yang tak kita sukai.

Advertisements