Selamat! Anda terpilih menjadi pengajar di Kelas Inspirasi 2015

Senin, 16 Maret 2015 mungkin menjadi salah satu hari paling saya ingat dalam hidup saya. Hari itu, saya tak lagi berprofesi sebagai pekerja kantoran dan freelance illustrator (profesi yang saya daftarkan dalam KI),   melainkan akan ‘menggantikan’ peran guru dalam sehari. 

Ya. Saya adalah salah seorang yang beruntung terpilih untuk berperan dalam Kelas Inspirasi, sebuah gerakan para profesional turun ke sekolah dasar untuk mengajar dalam sehari besutan Bapak Anies Baswedan. Saya dikelompokkan dengan para relawan pengajar lainnya yang baru saya temui ketika briefing. Di kelompok saya, Kelompok SDN Pakel Yogyakarta, saya bergabung dengan 11 orang dengan beragam profesi, ditambah 2 fasilitator, 2 fotografer dan 1 videografer. 

  

Berbekal hasil survey, pemantapan materi saat meet up maupun bahasan dari grup whatsapp, akhirnya kami siap menginspirasi. Dikarenakan SDN Pakel ini memiliki 14 kelas, alhasil saya mendapatkan full non stop mengajar di 6 kelas yang berbeda. 


Woo-hooo!

 I’m so exciting. 


Sebagai ilustrator, materi saya sederhana saja. Hanya dengan berbekal kertas HVS warna yang saya tempeli stiker “Proposal Mimpi”, saya mengajak anak-anak untuk berani menggambarkan mimpi. Memvisualisasikan cita-cita.

Pak, saya nggak bisa nggambar.” Sebuah rengekan terdengar dari sudut kelas. “Gambar saya jelek, Pak.” Terdengar suara pesimis dari sudut yang lain. Saya memaklumi ‘ketakutan-ketakutan’ kecil anak-anak itu. Mereka masih menganggap, bahwa bagus-tidaknya gambar adalah ukuran ‘kesuksesan’ mengikuti kelas saya. 

Bapak yakin semua bisa menggambar. Ini bukan lomba, kelas Bapak adalah kelas pemberani yang bisa menggambarkan cita-cita dengan cara mereka.” Lalu saya maju ke depan kelas, menggambar ayam versi garis dan versi ‘utuh’. Utuh di sini maksudnya gambar ayam sesuai bentuknya. Saya ingin mereka tahu bahwa apapun bentuk gambar mereka tidaklah penting. Berani berekspresi itu poinnya. 

Saya yakin anak-anak punya daya imajinasi yang sangat luas. Tak bijak jika kita sebagai manusia yang lebih dewasa membatasinya.

   

Beberapa menit kemudian, saya mendapati kertas-kertas yang saya bagikan tadi penuh dengan gambar cita-cita.

Saya mau jadi chef. Tapi saya pengen gambar Spongebob.” Salah satu anak kelas 2  menjawab pertanyaan saya ketika saya tanyakan kenapa kertasnya masih kosong. “Bagus. Boleh. Spongebob kan juga chef, suka masak Krabby Patty,” jawab saya. Anak itu tersenyum, mengangguk, lalu sibuk menggambar. Di kelas lain, saya banyak mendapati wajah-wajah antusias saat bercerita cita-cita mereka. Beberapa menghampiri saya, menyodorkan gambar dan lancar menceritakan isinya saat saya tanya. Good job, kids! 

“Kertas ini nanti dibawa pulang, tunjukkan ke orangtua, ya. Jangan lupa ditempel di meja belajar. Nanti, ketika kalian lagi malas belajar, coba buka kertasnya. Mudah-mudahan kalian bisa semangat lagi. Setuju?!” 

“SETUJUUUUU..!!”  

Walaupun beberapa kali ikut volunteer komunitas mengajar, tak bisa dipungkiri bahwa pengalaman di Kelas Inspirasi ini sungguh berbeda dan menyenangkan. Awalnya, saya sempat mengira bakal kewalahan menghadapi mereka –terutama kelas 1 dan 2 yang terkenal hiperaktif. Di sana, saya menemukan cara mengatasinya. Saya belajar dari mereka. Belajar dari kejujuran, dari tatapan mata penuh keingintahuan dan belajar dari anak-anak berkebutuhan khusus yang membaur di hampir semua kelas. Hari itu, saya pulang ke rumah dengan tabungan bahagia yang membuncah. 
Terima kasih, Kelas Inspirasi! 

  
PS : jangan pernah ragu untuk mendaftar menjadi relawan KI. Karena dengan terus belajar, kita akan tahu bahwa ilmu kita belum seberapa. Sehari mengajar, selamanya menginspirasi.

Page 15 of 18

Page 15 of 18  

Advertisements