Malam menjelang tua ketika aku membuka pinta rumah. Mungkin anak seusiaku pukul setengah sepuluh malam seperti ini digunakan untuk terlelap atau menikmati keseruan film di televisi. Aku tidak bisa melakukannya, karena aku harus melalui hari demi hari sebagai laki-laki dewasa.

“Ayah merasa nggak enak sama kamu, Nang. Sekecil ini sudah harus mencari uang” Ayah mendekatiku yang sedang merapikan baju untuk sekolah esok pagi.

“Yah, aku sudah SMP. Tak apa lah sedikit prihatin. Kan demi aku juga nantinya..” Aku tersenyum. “Sudah malam, Yah. Yuk istirahat..”

***

Perekonomian keluargaku memang carut-marut setahun terakhir ini, terutama sejak Ibu dinyatakan meninggal saat masih berstatus TKW di Hongkong. Kabar yang sampai di keluargaku, Ibu punya penyakit jantung. Kami sekeluarga pasrah dengan berita itu, tanpa menyelidik atau mencurigai sesuatu. Yang kami tahu, keluarga Wei Ling –majikan di Hongkong– adalah orang-orang baik.

Setidaknya itu yang sering Ibu ceritakan lewat telepon. Di rumah, aku tinggal bersama Nenek dan Ayah. Karena sesuatu hal sejak empat bulan lalu, Ayah tak lagi bekerja. Nenek? Melihatnya masih sehat saja aku sudah bahagia. Keadaan ini yang membuatku harus mau menyisihkan waktu istirahatku untuk mengepulkan asap dapur. Selepas sekolah, pukul tiga hingga sembilan malam aku membantu Koh Ahong menjaga toko kelontongnya yang tak jauh dari rumah. Jaraknya hanya sekitar 200 meter saja. Saat Magrib, Koh Ahong mengizinkanku istirahat untuk makan malam dan sholat. Aku menggunakannya untuk pulng ke rumah, menyambangi Nenek untuk berbagi makan malam dari Koh Ahong.

“Ayah harus mencari pekerjaan. Ayah tak bisa tinggal diam!” Tiba-tiba Ayah berbicara seperti itu saat aku sedang menimba air untuk mengisi bak mandi, pagi itu.

“Tapi, Yah..” Aku menghentikan kalimatku. Kutatap wajahnya yang menunjukkan keseriusan. Aku tak berani berkomentar lagi.

“Kemarin sore, Ayah baca ada lowongan pekerjaan ditempel di gardu listrik dekat Kelurahan. Posisi sebagai penjaga malam.” Mata Ayah menjadi tajam. Ada keyakinan bahwa ia mampu mengalahkan pesaing lainnya untuk mendapatkan posisi itu. Dilihat dari postur tubuhnya yang tinggi, besar dan berjambang lebat, tampaknya memang memenuhi kriteria fisik posisi yang ditawarkan.

Aku menghentikan kegiatan pagiku sebentar, mencoba memahami apa yang Ayah mau. Ekor mataku melirik Nenek yang sedang menyapu halaman. Kukurangan pendengaran membuatnya bergeming. Sesaat setelah Ayah melesat melayang, aku menghampirinya.

“Hari ini aku akan minta izin Koh Ahong, kalau aku tak masuk kerja, Nek. Tampaknya aku harus ke makam Ayah.”

*Flashfiction ini dibuat untuk merayakan Hari Ayah Nasional, 12 November.

Advertisements