Desember!

Akhirnya kita sampai pada bulan terakhir di setiap tahunnya. Bulan di mana –buat saya– adalah bulan mellow. Apakah karena hujan lebih sering turun? Bukan sih, tapi karena bulan ini seakan menjadi bulan introspeksi diri sebelum masuk ‘bab baru’. Otak saya secara otomatis memutarkan daftar resolusi yang pernah dibuat akhir tahun lalu. Apakah ada yang sudah terlaksana, atau hanya sebatas daftar formalitas agar terkesan sebagai orang yang well prepared.

d1a3a77ee47b3181ee7bc3135983d7a2
jennyhighsmith.com

Tahun 2015 bukan tahun terbaik saya. Itu saya akui. Dari penghujung tahun, saya sudah dibuat porak poranda karena banyak kegagalan yang terjadi dalam jangka waktu yang berdekatan. Sisanya, saya sibuk mengatur ulang diri saya untuk berdiri lagi. Agak susah memang, tapi bukan berarti nggak bisa. Saya sering bertanya pada diri sendiri. Apakah saya menyesal pernah mencoba hal baru (yang kemudian gagal)? Apakah saya menyesal pernah mengambil keputusan? Apakah saya menyesal bertemu orang tertentu? dan sebagainya. Saya lantang menjawab, TIDAK. Saya memang tak pernah menyesali apa yang terjadi, seburuk apapun itu. Saya tahu, kadang saya ceroboh dalam mengambil keputusan atau terlalu gegabah dalam suatu hal, makanya Tuhan punya cara agar saya terjatuh, sadar, lalu belajar dari situ. Eitss, jangan anggap saya sok tegar-sok mengajari-sok Mario Teguh ya. Hahaha. Saya juga pernah mengalami masa di mana gagal adalah sama dengan kesedihan yang berlarut-larut, susah bangkit, malas melakukan hal-hal baru, sibuk mencari kambing paling hitam dan selalu berpikiran negatif. Semua yang saya sebutkan tadi memang tidak membawa kebahagiaan. Malah, membuat kita semakin capek. Ya hati, ya pikiran. Oke, itu dulu. Manusia berproses. Semakin bertambah usia (ciee..), makin luas pergaulan dan bisa berdamai dengan kegagalan membuat saya jadi bisa belajar.

Belajar. Tiap kegagalan selalu membawa kita ke dalam hal-hal yang membuat kita semakin berkembang. Tanpa kita sadari, kita menjadi orang yang lebih sabar, makin tahu karakter orang dan belajar mengambil keputusan. Kegagalan juga akan membawa kita ke dalam kesempatan-kesempatan lain, bertemu dengan orang-orang baru, dan makin memahami teman di sekeliling. Jadi, masih mengutuki kegagalan? Semoga nggak lagi ya. Semoga tulisan yang ditulis di sela jam kerja dan dalam keadaan mengingat kegagalan apa yang sedang ingin diperbaiki ini bisa sedikit membantu. Ya paling tidak,  yang sedang mengalami kegagalan bisa lebih melihat titik terang dari sebuah lubang gelap. Begitu? Toss dulu kita.  Good luck, pals!

try and fail, but don’t fail to try

Advertisements