#1

  
Dear A,

Sudah berapa lama kita tak bertemu? Pertanyaan ini hanya terdengar sendu buatmu. Seperti halnya rengekanku tiap kali menanyakan kapan waktu luangmu. 
Kita sedang berjarak. Kita sama-sama tahu itu. Bukan oleh sinyal provider kampret atau satuan jarak yang membentang. Kita sedang berjarak oleh ego yang membesar seperti bisul kelebihan protein. Menunggu matang, lalu pecah.
“Aku ingin menata hati dulu,” katamu tempo waktu di dalam pesan yang kau kirimkan. 
Dua kata disatukan yang tak tahu kapan batas akhirnya. Kau pun tak tahu, apalagi aku. Tugasku hanya  menunggui bisul yang semakin besar, semakin perih –merawatnya dengan salep dan doa– dan menunggu sampai ia meledak, lalu mengempis.

Cepat sembuh, ya.

Advertisements