Dalam situasi lengah, musuh di kepala akan mengarang cerita yang membuat kita lemah. 

 

Dear A,
Akhirnya kita bertemu. Setelah sekian lama mengingkari rindu, kali ini kita harus tunduk pada mau. 




Cafe, 18:09


Kau datang dengan sedikit terburu. Mengenakan sweater tipis    berkerah lebar yang menonjolkan tulang bahu dan celana jins yang kau gulung hingga mata kaki. Aku tersenyum sebagai ganti ‘hai’. Kalimat kedua yang isinya menanyakan perjalananmu ke kafe ini kau balas dengan, “Aku sedang malas bicara. Kita hanya butuh bertemu, kan?”

Tapi A, temu tanpa menyampaikan isi kepala, tanpa mengutarakan sesak di dada itu seperti masak sayur asam tanpa belimbing wuluh. Kurang lengkap, kurang lezat.

“Oke, kau sebaiknya pesan makanan dulu. Setelahnya, aku akan menemanimu.” Kusodorkan buku menu dan tanpa menunggu waktu, kau memesan cappucinno latte kesukaanmu. 

Kau meraih tasmu, merogoh isinya dan mengambil iPod. Sedetik kemudian kau hanyut dalam musik klasik yang kutebak pasti alunan Wolfgang Amadeus Mozart Eine Kleine Nachusik, favoritmu. Lagu klasik energik yang bisa membawa ketenangan luar biasa. Aku jadi ingat, kita pernah berdiskusi lama tentang lagu instrumental. Mana yang lebih menenangkan, antara Matsuri dari Kitaro atau Johann Sebastian Bach dengan Air (on the G string). Sebuah obrolan panjang yang tak pernah menemukan titik tengah karena kita tahu, tak bijak menggunakan selera sebagai pembanding.
Aku rindu obrolan panjang kita, A.
Kau sering bertanya; lebih enak mana antara oatmeal atau moesli, lebih ganteng siapa antara Reza Rahardian atau Chicco Jericho, pilih warna tosca atau fuschia untuk pesta dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang tak bisa kutemukan jawabnya.

Kau tahu A, aku suka mengamati gerak tanganmu yang memilin anak rambut saat ceritamu mengudara. Juga ekspresi bibirmu yang memble saat kujawab ‘aku tak tahu’ untuk sebagian pertanyaanmu. Aku menyukai segala hal yang bahkan kau sadar tak menyukainya.
Tapi kini hanya ada percakapan masa lalu di pikiranku, alunan lagu di kepalamu, dan hening di antara kita.
Hening.
Biiipppp!!

Sebuah pesan masuk di ponselku. Namamu tertulis di sana. 

Aku masih di jalan, sepertinya agak terlambat. Semoga tak begitu lama dari waktu janjian.

Reply.

Tak apa, aku tunggu kok. Kau punya sekeranjang cerita buatku, kan?

Send.

A thousand. See you soon, P! 

Senyumku mengembang seketika. Aku siap memberimu pelukan, A. Sesiap tiap jengkal kata yang mengalir deras dari bibirmu. Di antara ribuan nanti, semoga  terselip tiga kata; aku rindu kamu. 


Salam hangat,

P

Advertisements