Dear A,

 
Sebenarnya hari ini aku tak berniat menulis surat untukmu. Suhu badanku meninggi dari semalam, disusul nyeri di kepala yang rasa-rasanya seperti rasa rindu. Datang dan pergi, sesuka hati. 

Aku memutuskan menuliskan sesuatu untukmu ketika aku sadar bahwa aku butuh kenangan. Dikenang dan mengenang. Jika suatu saat –misalnya– aku hilang ingatan, akan ada tulisan yang setidaknya bisa kubaca mengenai kita. Atau jika aku pergi lebih dulu, kau bisa mengenangku –selain dalam doa– juga lewat rangkaian kata. Mereka, orang-orang yang kaupercaya, juga bisa menjadi pembaca kisah kita. Kalau kau tak keberatan, mereka akan tahu betapa ada seorang pria yang rela mengambil bulan untuk seseorang yang dicintainya. Atau, saat pipimu merona ketika menatapku pertama kali setelah sekian lama tak jumpa. Kau selalu menyangkalnya, A. Tapi mataku, adalah alat perekam handal yang akan mengirimkan hasil rekam ke ruang dalam pikiran untuk disimpan. Olehku, akan kutulis sebaik mungkin agar kita tetap terkenang.
Dear A, jika kau sedang membaca surat ini, mungkin aku sudah tak bersamamu. Bisa jadi kau sedang bersama pria beruntung yang lebih bisa meyakinkanmu. Seseorang yang membuatmu percaya siang malammu akan berpasrah. Tapi bisa juga, aku adalah orang yang sedang kau tunggu di beranda rumah mungil dengan secangkir teh hangat pukul enam petang. Kau sudah memakai bedak dan wewangian, sementara anak kita berlarian riang. Semuanya serba mungkin bukan?
A, aku akan terus menuliskanmu. Menulis tentang kita. Kau tahu, kenangan tentangmu adalah harta. Aku tak rela jika kehilangannya. Tidak sama sekali. Aku ingin kau, kita, abadi bukan hanya dalam hal-hal yang bisa hilang dari pikiran, tapi juga bakal selamanya selayak doa.

Salam rindu,

P

Advertisements